ketika masalah datang, aku ragu kalau aku tidak butuh siapapun dalam hidup. tapi ketika masalah tidak datang, aku tidak tahu di mana diriku berada. (tapi sebetulnya, aku juga butuh, tempat dan teman, bukan keduanya. tapi hal lain. bukan yang tidak kubutuhkan.)
kau pasti belum mengerti maksudnya, bahwa maksudku bukan itu, dan itu cukup mewakili apa yang kumaksudkan. (meskipun aku tahu bahwa kau adalah yang bisa aku selesaikan, sedang aku, yang tidak bisa aku selesaikan.) tapi aku yang sebetulnya adalah yang berada di antara keduanya.
akhirnya, yang ingin aku sampaikan, bahwa setiap kali kematian datang, aku merasa sedang berada di tengah. (di tengah? yeah! cukup bayangkan sesuatu yang memiliki tengah, sedangkan sisi yang kita sebut pinggiran berada jauh tak terbatas.)
Perihal yang paling aku takuti dari pikiranku adalah bahwa dia selalu berbisik kepadaku: kau selalu salah terhadap segala sesuatu, percayalah!
@andialfianx
Entah karena apa, pekerjaan meragukan pikiran dan keyakinan kita sendiri selalu menjadi pekerjaan paling rumit—jika aku salah, maafkan. Aku menarik kesimpulan semacam itu setelah memikirkannya dengan baik-baik, dan kau tentu boleh menolaknya, karena kita memang selalu salah terhadap segala sesuatu termasuk yang kita maksud sebagai kesalahan, kita salah! Misalnya:
1.
Berapa banyak di antara kita yang mencintai seseorang dengan penuh keyakinan bahwa ia akan bersamanya sepanjang masa? (Tak usah kau sebutkan jumlahnya, kau tak akan mampu menyebut jumlahnya dengan pasti, cukup kau reka dan katakan: sangat banyak!)
Kita—aku, mungkin juga kau, pernah memiliki keyakinan semacam itu, bahwa kita memilih perempuan atau laki-laki, yang akan mendengarkan keluh kesah kita, yang akan mengurangi kesepian kita, yang katanya akan menemani kita hingga akhir perjalanan kita. Kita meyakininya karena perasaan kita mengatakannya. Jika ya, hati-hatilah, keyakinan kita salah, perasaan kita salah.
2.
Berapa banyak di antara kita yang beriman kepada Tuhan dan mendengarkan perintahnya dengan begitu taat? Berapa pula dari mereka yang pada akhirnya menyesal melakukannya? Jika kita menganggap bahwa dengan mencintai Tuhan, dapat mengurangi keresahan kita, dapat mengurangi kesusahan kita, dapat mengurangi keburukan yang kita terima dari orang lain, maka hati-hatilah, keyakinan kita salah, Tuhan kita mungkin juga salah.
3.
Pada akhirnya, kita selalu salah terhadap segala sesuatu. Kita hanya tidak ingin mengakuinya.
Ini cerita tentang si Kamu, nama lengkapnya, Kamu Sendiri bin Seorang. Bersama kekasihnya bernama Dia, nama lengkapnya, Dia Saja Sudah Cukup. Nama mereka keren-keren, bukan? Begini ceritanya:
Beberapa hari belakangan, Kamu menunggu seseorang datang menemui Kamu, atau menghubungi Kamu. Setiap satu jam, Kamu membuka email, aplikasi pesan, atau riwayat panggilan di ponsel Kamu, Kamu berharap ada pesan atau telepon yang masuk atas nama Dia. Tapi sia-sia.
Kamu mulai membayangkan banyak hal tentang Dia, misalnya, Dia mungkin sedang melakukan hal lain, sedang menyibukkan diri bersama temannya, atau sedang menyelesaikan segala urusan kuliahnya, atau sedang menghabiskan waktu dengan menonton film kesukaannya, atau memilih menghibur diri dengan menggambar sebagai hobinya, semua itu adalah usaha Dia melupakan seseorang yang namanya sama dengan nama Kamu (Tetapi hanya nama depannya saja yang sama: Kamu Berdua bin Mereka.)
Tapi si Kamu masih tetap menunggu Dia. Kamu tidak peduli pada kenyataan bahwa Dia mungkin tidak akan menemui Kamu atau mengabari Kamu lagi. Kamu sadar bahwa hal yang paling menyebalkan yang sedang Kamu lakukan saat ini adalah menunggu seseorang yang sama sekali tidak tahu bahwa “ada Kamu yang sedang menunggunya dengan setengah mati”, sedangkan Kamu sendiri tidak punya keberanian menemui atau menghubunginya secara langsung agar Dia tahu bahwa Kamu menunggunya, bahwa Kamu membutuhkannya.
Kamu akhirnya tahu, setahu-tahunya, bahwa betapa menyakitkannya menunggu Dia.
Setelah sekian lama memilih menunggu, Kamu akhirnya sadar bahwa tidak ada hal lain yang bisa Kamu lakukan selain melakukan hal yang sebaliknya: menghubungi Dia secara langsung atau menemui Dia. Tapi setelah Kamu hendak melakukannya, Kamu kembali memikirkannya, dan akhirnya menemukan kesadaran lain bahwa menghubungi orang-orang yang sebetulnya tidak ingin dihubungi hanya pekerjaan sia-sia. Pada saat itulah, Kamu memilih untuk tidak menghubungi Dia lagi. Tapi setelah memikirkanya sekali lagi, Kamu tahu bahwa hal itu tidak akan mengubah keadaan, lalu Kamu memilih mengirim pesan pendek seperti ini ke Dia:
“Aku bosan menunggumu, aku minta dua hal: Pertama, selesaikanlah segala urusan yang ingin kau selesaikan. Kedua, tidak usah lagi menghubungiku selama 45 hari ke depan. Thank you!”
Kamu mengirim pesan itu.
Sebetulnya, lewat pesan itu, Kamu hanya ingin menyampaikan sindiran ke Dia bahwa “aku sedang menunggumu, aku sedang membutuhkanmu di sini, hubungi aku!” Tapi sayangnya, si Dia tidak menghubungi kamu, bahkan tidak membalas pesan singkat Kamu. Kamu jadi tak karuan. Kamu membayangkan segala hal dan segala sesuatunya. Berusaha memikirkannya kembali. Membaca pesan singkat itu berulang kali dan berulang kali. Kamu jadi merasa bersalah.
Kamu akhirnya sangat merasa bersalah. Kamu menyesal mengirim pesan pendek itu. Kamu mengirim pesan yang lain, dengan harapan bisa menutupi rasa bersalah yang Kamu sendiri ciptakan:
“Aku minta maaf.”
“I’m so sorry!”
Setelah mengirim pesan singkat itu, Kamu merasa sedikit lebih mendingan, tapi sebetulnya Kamu tidak pernah baik-baik saja. Kamu duduk dan berpikir: aku mungkin sudah gila.
Sehari kemudian, si Dia yang Kamu tunggu mengabari Kamu atau menemui Kamu akhirnya mengirimi si Kamu pesan pendek lewat WhatsApp:
“Assalamualaikum.“
Si Kamu membacanya. Diam. Memikirkan Dia sekali lagi. Dua jam setelahnya, Kamu memilih menghapus pesan singkat itu tanpa keinginan membalasnya. Kamu diam sejenak, berusaha dengan keras menemukan jawaban dari pertanyaan: bagaimana seharusnya kita menghibur diri sendiri? Lalu Kamu sadar bahwa Kamu gagal.
Kamu telah tersesat di antara keinginan dan ketakinginan.
Tepat pukul 04:20 di hari Jumat, 05 Agustus 1999, anak ketujuh dari pasangan Andi Kasmi dan Andi Madeaming lahir. Semua orang yang menyaksikan kelahiran anak tersebut tersenyum sebagai tanda syukur akan anugerah Tuhan yang tiada putusnya. Pada hari itulah saya lahir, dan mulai menyaksikan bagaimana kehidupan ini berjalan. Saya lahir dari rahim seorang wanita muslimah.
Pelafalan dua kalimat syahadat dan azan di telinga saya waktu itu, merupakan penanda bahwa saya lahir sebagai bayi yang beragama sekaligus sebagai simbol pengingatan kembali akan janji di alam primordial sebelumnya, seperti yang diakui dalam ajaran agama Islam. Saya yang masih dalam kondisi belum mampu berjalan, belum mengenali ibu-ayah, telah dikukuhkan sebagai manusia beragama. “Islam adalah agamaku,” kata Ibu beberapa tahun setelahnya.
Seperti yang dialami oleh semua orang, saya diazankan sesaat setelah lahir lalu disunat ketika menjelang balig, semua itu dilakukan atas dasar keputusan orang tua saya. Saya dimasukkan dalam kategori beragama Islam karena orang tua saya beragama Islam juga. Mungkin, tidak berlebihan jika seseorang di kemudian hari menyebut saya sebagai Islam keturunan. Tapi tak apalah, karena kabar baiknya, nyaris semua orang mengalaminya—setidaknya setelah mereka baru saja lahir ke dunia mereka memeluk agama keturunan.
Meskipun dengan keluhan semacam itu, saya merasa bersyukur karena tidak ada pilihan lain bagi orang tua saya kala itu selain membaptis atau mengukuhkan saya sebagai orang beragama Islam. Meskipun di kemudian hari saya menyadari bahwa bersyahadat sebagai muslim, atau dibaptis sebagai kristen, atau diakui sebagai orang yang beragama apa saja, itu sama saja.
Pernah, sewaktu saya masih di Sekolah Dasar, saya bertanya kepada guru saya, bagaimana jikalau seandainya orang tua saya adalah non-Muslim, dan saya lahir dan dibesarkan dalam keluarga semacam itu, dan bahkan memeluk agama yang orang tua saya peluk yakni agama non-Islam misalnya, apakah saya masih akan diterima di surga? “Tidak,” kata guru agama saya dengan tegas.
Jawaban dan nasihat guru agama saya waktu itu, cukup membuat masa kecil saya membenci bahkan tak peduli dengan teman seumuran yang beragama non-Islam. Suatu hari, saya berkunjung ke kampung tetangga, di rumah teman, saya menyaksikan di teras rumah, orang-orang Kristen sedang beribadah atau tepatnya sedang bernyanyi lagu gereja, saya dan teman-teman mengejeknya dengan mengikuti caranya menyanyi dengan suara dijelek-jelekkan bahkan diplesetkan.
Kami, sekumpulan anak-anak muslim di kampung itu sedikit nakal terhadap anak-anak non-muslim. Bahkan ketika kami bermain, kami pernah mengejek konsep iman mereka dengan nyanyian aneh-aneh. “Tuhan Allah, Tuhan Bapak, Tuhan Anak, Tuhan Ibu, Tuhan sekeluarga, ayo kita bermain bersama Tuhan. Tuhan suka bermain-main, bukan?” teriak kami bersama sambil tertawa.
Beriring waktu, beriring pula perubahan-perubahan. Perubahan sikap beragama saya bermula ketika orang tua saya berinisiatif memasukkan saya ke sebuah surau di kampung tetangga, di sanalah saya diajari bagaimana membaca Alquran serta tata cara melaksanakan ibadah serta bagaimana bersikap kepada sesama, baik muslim dan non-muslim. Jika diketahui mengejek atau melakukan hal buruk sesama teman, pastilah kami akan dihukum. Juga seperti semua anak-anak pada masa itu, saya juga mendapatnya pengajaran semacam itu di bangku sekolah.
Akhirnya, selama sekolah, saya mengalami transformasi pengetahuan juga pengalaman sehingga sudah lebih toleran terhadap orang lain yang berbeda agama. Dan titik paling ekstrem, adalah ketika saya memasuki dunia kampus, saya mengambil jurusan Filsafat Agama di UIN Alauddin Makassar. Cara berpikir filsafat membuat saya harus mengonstruksi ulang pandangan saya tentang iman dan agama.
Kadang-kadang, saya berpikir, apakah benar waktu di alam rahim, sebelum kita terlahir, kita benar-benar ditanya soal apakah kita akan memeluk agama Islam atau tidak, atau apakah kita akan lahir dalam keluarga Bugis atau tidak, atau apakah kita akan dilahirkan sebagai laki-laki atau perempuan, saya selalu memikirkannya, kadang-kadang Tuhan memang menyisipkan lebih banyak pertanyaan ke benak kita tentang diri-Nya. Dan anehnya, kita sama sekali takut mengatakannya atau memikirkannya meskipun sejenak.
Di semester awal, saya benar-benar mendapatkan sebuah pengalaman beragama yang baru. Ketika itu, filsafat saya jadikan sebagai hobi dalam memandang banyak hal, termasuk agama. Pertanyaan-pertanyaan radikal tentang agama pun sulit untuk terhindarkan. “Apakah kebenaran agama itu hanya satu? Mengapa Tuhan menciptakan banyak sekali agama? Atau apakah yang kita sebut sebagai Tuhan itu hanya ciptaan manusia semata? Mengapa semua orang harus beriman? Apakah yang kita maksud dengan iman?” dan pertanyaan lainnya.
Pernah suatu waktu, ketika saya pulang kampung liburan semester satu, saya bertanya kepada orang tua saya tentang iman dan agama. Dalam bahasa Bugis, saya bertanya kepadanya, “mengapa kita mesti salat, Ayah?” Ia diam. Saya mengulang pertanyaan, “mengapa kita harus salat, Ayah?” Ia mengangkat kepala, melihat saya. “Kita memang harus melakukannya,” jawabnya pelan dalam bahasa Bugis, “sebelum kita benar-benar bisa memahami maksud Tuhan memerintahkan kita.” Saya dengan cepat menyanggah, “bukankah jauh lebih bernilai jika kita mengetahui dulu apa maksudnya Tuhan memerintahkan kita salat, sebelum kita menunaikannya, Ayah?”
Waktu itu, kami di teras rumah, sebuah hari di Sabtu pagi. Ayah tidak langsung menjawab sanggahanku, ia diam. Beberapa saat berlalu, lalu memecahkan diamnya dengan menyebut namaku, seperti ada hal besar yang ingin ia sampaikan.
“Dengarkan,” sapanya sekali lagi seolah benar-benar memerintahkanku mendengarkan kalimatnya. Saya siap mendengarkan.
Ia berkata “Karena kita petani, kamu pasti tahu kan buah kelapa?!”
Saya mengangguk.
“Buah kelapa, awalnya hanya kulit, lalu dalam proses pertumbuhannya, Tuhan mengeraskan tempurungnya, memberi isi dan air, serta segala hal yang mengisi kelapa yang sebelumnya hanya kulit. Seperti itu pula iman, awalnya hanya iman, lalu kita dituntut untuk mengisinya dengan pengetahuan, dan secara terselubung, Tuhanlah yang sebenarnya mengisi pengetahuan kita.” jawab Ayah.
“Tapi jangan lupa, semua itu bermula dari iman, laksanakan dulu, kelak Tuhan mengisi pengetahuanmu tentang-Nya seperti Tuhan memberi isi pada buah kelapa yang awalnya tak berisi. Pada saat itulah pertanyaanmu tentang apa maksud-Nya memerintahkan kita untuk beriman akan terjawab, nak.”
Saya terdiam, memikirkan apa yang dikatakan oleh Ayah. Bahwa, Ayah saya—yang tidak sempat menyelesaikan Sekolah Menengah Pertama, yang gagap menggunakan bahasa Indonesia, mampu menjelaskan persoalan iman dengan menggunakan analogi alam sekitar yakni melalui penciptaan buah kelapa yang setiap hari dijumpainya di kebun. Saya benar-benar memikirkan jawaban tersebut setelahnya, sampai kembali lagi ke kampus untuk melanjutkan semester selanjutnya.
Saya masih ingat, ketika itu, di awal semester yang baru, saya menceritakan perihal itu ke dosen saya, Guru Besar Filsafat Agama, Prof. Dr. Qasim Mathar MA. dan beliau mengatakan “kamu harus belajar menjadi hamba yang baik, jangan ingin jadi Tuhan yang hendak menghakimi iman orang lain, itu bukan tugasmu.” Selain itu, saya juga menyampaikan keluhan saya, bahwa semenjak memasuki jurusan Filsafat, saya merasa bahwa kebiasaan saya salat berjamaah tepat waktu kini telah berkurang, dan menurut saya, hal ini mungkin disebabkan karena saya terlalu menggeluti filsafat. Ia menjawab, “tidak, malah kamu sebenarnya makin saleh ketika malas beribadah karena menggeluti filsafat.”
Singkatnya, sikap dan cara saya menggauli agama senantiasa mengalami perubahan sedikit demi sedikit ke suatu arah yang bisa dikatakan sebagai iman yang dewasa, seperti menegaskan perkataan seorang filsuf, Heraklitus, bahwa tidak ada identitas yang final yang dimiliki oleh manusia, semua senantiasa mengalami perubahan (pantarei). Kita hanya menunggu kematian sebagai satu-satunya penyebab keterputusan dari perubahan tiada henti tersebut.
Dan yang paling penting, bahwa iman atau dengan apapun kita menamakannya, akan sangat dipengaruhi oleh banyak hal, seperti orang-orang di sekeliling kita—yang mungkin kita jumpai melalui lingkaran organisasi yang beragam ideologi, tokoh-tokoh berpengaruh dalam prosesi akademik kita, serta buku-buku yang kita baca serta pengalaman subtil dalam kehidupan keseharian kita. Semua itu mempengaruhi akan menjadi seperti apa kita sebagai manusia beragama.
Senja hari, menjelang berbuka puasa, teleponku berdering. Kuangkat. Suara yang tidak asing memasuki telingaku. Berbalas salam lalu kami berbincang.
“Kapanki pulang Nak?”
“Tidak pulangka kayaknya lebaran tahun ini Puang.”
“Kenapa? Padahal mauka rencana suruhki jadi khatib pada saat salat idul fitri nanti Nak.”
***
Seperti beberapa lebaran-lebaran sebelumnya, om atau pamanku selalu menghubungiku beberapa hari sebelum lebaran. Menanyakan kapan kepulanganku. Tahun ini adalah tahun ketiga berturut-turut ia menanyakan hal yang sama. Ia ingin sekali mendengarku membawakan khotbah saat salat idul fitri—semenjak saya kuliah.
Salah satu rutinitas yang harus kutunaikan jika aku pulang kampung saat bulan Ramadan adalah berceramah, seperti Ramadan-ramadan sebelumnya, kecuali dua Ramadan terakhir—Ramadan tahun ini dan tahun lalu.
Kutebak, hal ini dikarenakan aku kuliah di UIN Alauddin. Kampus Islam, kata orang. Ya, siapapun bisa menebaknya. Universitas InsyaAllah Negeri atau disingkat UIN. Kampus agama, kata sebagian orang lainnya. Itulah sebab, nyaris semua dari kami—yang kuliah di UIN selalu diperintahkan untuk naik ke mimbar bicara soal agama.
Suatu waktu, saat aku pulang kampung, aku disuruh naik ke mimbar memberikan ceramah kepada jamaah tarawih. Aku mengangkat tema soal ‘eudamonia’, kukutiplah Aristoteles dan para filsuf yang lain, yang asing dari kepala jamaah, juga tentunya beberapa ayat Alquran dan Hadis biar terdengar alim. Di akhir ceramah, ingin sekali kuberikan kesempatan kepada jamaah untuk bertanya, tapi kuurungkan niatku.
Aku ingin sekali melakukannya, karena kupikir, hal ini menjadi keresahanku beberapa tahun lamanya, mungkin hingga sekarang, mengapa para penceramah di mimbar-mimbar tidak pernah membuka sesi tanya jawab kepada jamaahnya? Atau mengapa jamaah tidak boleh memberikan intruksi kepada penceramah saat ia terlalu lama berbicara, saat ia terlalu sok tahu, atau saat ia terlalu menakut-nakuti?
Semoga kelak, siapa saja yang akan jadi penceramah mampu melakukannya dengan baik. Setelahnya, orang tuaku menyampaikan kepadaku bahwa mereka mendapatkan pengakuan bahwa ceramahku malam itu sangat dinikmati oleh jamaah, meskipun saya ragu jika mereka memahaminya. Aku aku juga tidak boleh berpikir seperti itu.
Aku membayangkan, di masjid atau di atas mimbar, penceramah memberikan kesempatan kepada jamaah untuk mengajukan pertanyaan atau sanggahan, kulihat jamaah melempari penceramah dengan pertanyaan-pertanyaan atau malah jamaah jadi demam karena tidak punya pertanyaan apa-apa atau takut dianggap bodoh karena bertanya.
Hari ini, adalah hari di mana rinduku jadi semakin lembab dari hari-hari sebelumnya. Bagaimana tidak jikalau kemungkinan untuk berlebaran idul fitri bersama orang tua tercinta amat kecil? Why? Tak seharusnya kuceritakan perihal memalukan ini kepadamu. Tapi semoga ini bisa mengobati sedikit dari kekesalanku.
Aku kehabisan uang. Orang tuaku mengirimiku recehan untuk tiket pulang tapi telah kuhabiskan untuk membeli buku yang kuidamkan beberapa bulan silam. Tidak kusampaikan soal ini kepadanya. Aku hanya akan menyampaikan kenyataan lain bahwa aku sedang sibuk mengerjakan tugas kuliah, sehingga tidak sempat pulang, juga tentu karena memang aku sedang melakukannya.
Apakah aku berbohong? Aku mencintai orang tuaku, dan kuanggap membohongi kedua orang itu bukanlah ciri anak yang baik. Apakah aku bukan anak yang baik? Semua orang di dunia ini, punya keburukannya sendiri, percayalah! Tetapi bukan berarti aku melakukan itu kepada orang tuaku sebagai sebuah kesengajaan. Tidak. Aku sangat merindukan mereka, tapi aku tidak punya pilihan lain.
Kemarin, kakakku memberiku pembeli tiket, atau anggap saja itu THR, tapi tidak kugunakan sebagaimana mestinya. Sebagian besar kusimpan baik-baik untuk kugunakan keperluan yang lebih mendesak suatu hari di masa-masa sulit. Selebihnya, kubelikan tisu, hanya untuk persiapan jika suatu ketika pipiku basah. Aku tahu pada saat kapan hal itu rentan terjadi, jadi aku siapkan payung sebelum hujan.
Malam ini aku menerima telepon darinya—my mom. Kami berbicara seolah-olah akan bertemu ketika lebaran nanti. Tapi, “aku baru akan pulang saat liburan semester datang,” gumamku, “maafkan aku, ma'”. Ibuku memang tidak menyelesaikan sekolahnya sampai di Sekolah Menegah Pertama, tapi kujamin, dia adalah satu-satunya orang yang paling piawai memahami perasaanku. Ia membaca pikiranku, lalu berbisik “Jika uang yang kukirimkan kepadamu tidak cukup untuk mengantarmu balik kemari nak’, pilihlah sesuai keinginanmu. Kami tentu merindukanmu di sini, tapi kuharap kau bisa mengerti tentang kesabaran dari kejadian semacam ini. Jaga kesehatanta’.”
“Ma’,” kataku,“kupake beli buku uang yang kita kirimkanka’, mungkin tidak bisaka pulang tahun ini lebaran. Lagian, adaji dengku di sini bisa kutemani kalau butuhka seseorang.”
“Iyye’ nak’,” ibuku terdiam sejenak, kutebak, ada sesuatu yang lain di bola matanya,“sabbaraki’ nak, kalau teman-temanmu lebaran dengan baju barunya, kamu hanya bisa lebaran dengan bukumu. Sabbaraki’ nak’, janganki lupa bersyukur dan sabar.”
“Iyye Ma’,” jawabku menenangkan. “Ke mana pale Tetta Ajiku, Ma’?” tanyaku kembali berusaha mengalihkan pembicaraan yang pilu, yang barusan kubuat.
“Belumpi pulang nak’,” ia kembali mendiamkan sedihnya sejenak, seperti air liurnya sedang menjanggal tenggorokannya, atau karena rindu jadi rumit ditawar saat malam hari, “hari ini katanya na datang.”
Aku baru ingat, bahwa ayahku, yang biasa kupanggil ‘Tetta Aji” itu, sebulan yang lalu meninggalkan rumah. Ia mengikuti salah satu kegiatan sebuah gerakan dakwah di kampung kami. Kegiatan dakwah itu berupa berjalan ke satu kampung ke kampung lainnya untuk berdakwah. Setelah berkali-kali tidak diizinkan oleh kami—anak dan istrinya—untuk ikut gerakan itu, akhirnya, menjelang bulan Ramadan lalu, ibu kami mengizinkan. Dan kabarnya, ia belum juga pulang. Semoga besok sudah tiba di rumah dengan selamat.
Aamiin.
Lalu bagaimana denganku di sini? Aku akan merayakan le(m)baran bu(ras)ku di sini—lebaran buras atau lembaran buku. Akan kurayakan dua-duanya sekaligus. Semoga pahitnya dapat kutelan.
Hari ini saya merasa bersalah pada diri sendiri. Entah. Saya merasa harus meluangkan waktu untuk untuk memikirkannya.
(Beberapa menit kemudian)
Ok. Saya merasa bersalah (mungkin) karena saya telah menghancurkan diri saya yang different. Tapi, bukankah setiap manusia diciptakan berbeda? Ya, maksud saya: saya telah melakukan sesuatu yang menurut saya—setelah memikirkannya dengan seksama—adalah buruk bagi pembentukan kepribadian saya yang otonom.
Sebelum menjelaskan apa yang saya maksud dengan hal buruk itu, saya ingin bertanya pada diri saya sendiri: apa yang dimaksud dengan menjadi diri sendiri? apakah segala keputusan dan tindakan saya selama ini benar-benar didasari oleh pikiran dan keinginan saya sendiri atau malah sebenarnya orang lain yang membentuk dan mempengaruhi saya dalam berpikir dan bertindak?
Saya memikirkannya. Saya ingin mengakui bahwa, akhir-akhir ini, “saya tidak menjadi diri sendiri”. Ada beberapa keputusan dan pilihan yang saya pilih bukan karena benar-benar pilihan saya. Sehingga, sebagai akibat, saya tersiksa karena harus menjadi orang lain dalam tubuh saya sendiri. Saya menyadarinya. Dan kesadaran ini, sepertinya, benar-benar penting.
Dalam memilih—atau mengambil keputusan—saya seringkali mempertimbangkan: apa yang akan orang lain katakan about me? Apa yang akan dikatakan teman saya soal saya? Apa yang akan dikatakan pacar saya soal saya?
Sehingga, konsekuensi dari pikiran atau asumsi semacam ini adalah, saya, akhirnya, selalu merasa tidak enak menolak sesuatu, merasa tidak enak memutuskan sesuatu. Dan itu berarti, akan semakin berat untuk menjadi diri sendiri.
Menurut saya, hal ini (mungkin) dikarenakan oleh dua asumsi dilematis. Pertama, pandangan negatif kita terhadap diri sendiri. Kedua, ketakutan kita terhadap asumsi negatif orang lain terhadap kita. Kedua asumsi ini bertarung dalam benak kita, dalam tubuh kita.
Sehingga, pada kesempatan yang sama, kita akhirnya mengalami kegagapan independensi, atau keterombangambingan. Kita mengalami kekaburan preferensi antara memilih mengatakan sesuatu yang sebenarnya dengan kemungkinan dipandang negatif, atau mengatakan sesuatu yang bukan sebenarnya (hasil rekaan) dengan kemungkinan terlihat positif di mata orang lain.
Karena kita telah memiliki asumsi negatif pada diri sendiri, maka kemungkinannya lebih lebih besar jika kita akan memilih pilihan yang sebenarnya bukan atas dasar keputusan pribadi yang otentik. Tetapi, atas dasar pertimbangan di luar diri atau orang lain atau asumsi lain yang mendorong kita menghasilkan rekaan.
Dalam pengertian ini, saya mengakui—dengan bahasa yang lebih kasar—bahwa saya telah berdusta selama ini. Saya, anda dan (mungkin) semua orang, telah berdusta pada diri sendiri. Pada titik inilah, kesadaran saya membuat saya merasa bersalah. Ternyata, saya—di banyak hal—adalah pembohong.
Apa kamu akan menerima pengakuan saya ini? Apa kamu akan membantu saya mengubah kebiasaan buruk itu?
It’s me, and i hope you can help me to changes my self.
Dalam kehidupan sehari-hari, tanpa kita sadari, kita sering kali, melontarkan kalimat “Aku ingin bahagia”, “Yang penting kita bahagia”, “Mari hidup bahagia!”, dan berbagai argumen yang merupakan alasan-alasan yang terkadang bermakna pragmatis bagi kehidupan. Padahal kita belum pernah mengeksplorasi esensi kata ‘bahagia’ itu sendiri. Kebahagiaan bukanlah hal asing bagi kehidupan manusia. Sebab kebahagiaan ini bahkan telah menjadi dambaan dan impian oleh setiap manusia yang berpikir dengan akal sehatnya.
Kebahagiaan seolah harga yang tak dapat ditukar dengan barang apapun. Nilai kebahagiaan yang sangat berharga ini terkadang membuat orang beranggapan bahwa kebahagiaan itu harus diraih meskipun dengan mengorbankan kebahagiaan orang lain. Namun di sisi lain, terdapat sebagian orang yang berpendapat bahwa kebahagiaan itu ketika kita mampu menyalurkan cinta dan membuat banyak orang bahagia. Menyaksikan fenomena ini, menjebak kita dalam dialektika Ruang Skeptis ini.
Ya, kebahagiaan. Tema yang terkadang dianggap hal yang kompleks dan terkadang pula dianggap sebagai hal yang sangat simpel. Mengapa demikian? Apa sih itu kebahagiaan? Kapan manusia dikatakan bahagia? Mengapa manusia butuh bahagia? Siapakah pemberi kebahagiaan itu? Apakah bahagia sesimpel kata mereka yang pragmatis atau serumit kata mereka yang pesimis? Dan berbagai pertanyaan skeptis lainnya yang ketika terjawab akan membuat kita tersadar atas makna kebahagiaan secara esensial.
Apa itu kebahagiaan?
Kebahagiaan dalam bahasa Indonesia berasal dari kata ‘bahagia’. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bahagia adalah keadaan atau perasaan senang dan tentram (bebas dari segala yang menyusahkan). Menurut saya kebahagiaan adalah kepuasan intelektual (batin) yang merupakan capaian dari berbagai potensi-potensi manusia dalam kehidupan. Jadi dengan defenisi itu, dapat menjawab masalah-masalah kebahagiaan yang tak kunjung dijumpai oleh orang-orang yang memiliki segalanya namun tak merasakan kebahagiaan.
Karena kebahagiaan bukanlah seberapa banyak istri yang anda miliki, bukan seberapa banyak mobil mewah yang dimiliki, bukan seberapa tinggi pangkat dan jabatan yang diraih. Namun kebahagiaan bagi saya adalah dimensi intelektual (batin) dalam merasakan kepuasan (syukur) terhadap yang dimilikinya yang mungkin saja tidak dimiliki oleh orang lain.
Menurut Andi Afandi Syam, mahasiswa di jurusan Perbandingan Agama UIN Alauddin Makassar mengatakan bahwa bahagia itu simpel dan relatif-universal. Bahagia itu simpel, karena kebahagiaan menurut beliau tergantung pada otoritas dan pandangan kebahagiaan individu seseorang. Misalnya, ketika seseorang mendambakan seorang pujaan hati untuk menjadi permaisurinya (istri), memiliki mobil mewah, rumah yang megah, pangkat yang tinggi dan lainnya maka kebahagiaan orang tersebut adalah ketika ia mampu mendapatkan atau merealisasikan harapan-harapannya tersebut.
Sedangkan menurut Sainal Abidin, mahasiswa di jurusan Filsafat Agama UIN Alauddin Makassar mengatakan bahwa kebahagiaan itu adalah ketika keinginan dalam pikiran dan perasaan menyatu dan terwujudkan dalam realitas. Dari pandangan kanda Sainal saya merumuskan bahwa kebahagiaan itu perpaduan antara apa yang kita pikirkan dengan perasaan kita yang kemudian menjadi sebuah realita. Nah apabila kesatuan harapan ini telah menjadi realita dalam kehidupan maka di sanalah kebahagiaan itu menampilkan eksistensinya.
Diagram di atas merupakan sirkulasi munculnya kebahagiaan menurut Sainal Abidin. Harapan yang terakumulasi dari dua sumber yakni akal (pikiran) dan hati (perasaan) kemudian terwujud menjadi realita dalam kehidupan. Namun yang menjadi salah satu pengontrol dan pendorong dari terwujudnya akumulasi harapan tersebut adalah nafsu. Nafsu memiliki dua sisi yakni mendorong dan memotivasi pencapaian kebahagiaan dan juga di sisi lain bisa saja menjadi penghambat terwujudnya kebahagiaan.
Kapan seseorang dikatakan bahagia?
Pertanyaan tersebut memiliki jawaban yang beragam tentunya berasal dari berbagai pandangan. Ada sebagian orang berpandangan bahwa manusia dikatakan bahagia ketika ia mencapai apa yang ia cita-citakan dalam hidupnya. Dia dikatakan bahagia karena hal yang dicita-citakannya itu merupakan hal yang membuatnya terbebas dari segala kesusahan dan penderitaan. Namun ada pula beberapa orang yang berpendapat bahwa kebahagiaan itu merupakan hal yang sangat dalam dan bahkan hanya mampu mencapainya pada area sakral yakni kematian. Karena menurut beberapa orang ini (sufi) kebahagiaan hakiki adalah kebahagiaan non-material. Sehingga orang dikatakan bahagia ketika ia mampu terbebas pada material, dan salah satu caranya adalah mengalami kematian.
Bagaimana tingkatan kebahagiaan manusia?
Menurut saya tingkatan kebahagiaan manusia berbanding lurus dengan pengetahuan dan kesadarannya. Menurut saya ada tiga tingkatan kebahagiaan berdasarkan tingkat pengetahuan esensial manusia, yakni kebahagiaan tingkat pertama, kebahagiaan tingkat menengah, dan kebahagiaan tingkat atas.
Kebahagiaan tingkatan pertama adalah tingkatan kebahagiaan materialis. Kebahagiaan ini merupakan kebahagiaan yang dangkal diantara tingkatan kebahagiaan yang ada. Mengapa hal ini juga termasuk dalam kebahagiaan? Karena tidak dapat dimungkiri bahwa terdapat sebagian orang yang merasa bahagia ketika memiliki banyak materi berupa harta. Yah, orang bisa saja merasa bahagia dengan segala sumber material yang dimilikinya namun bagi saya itu hanyalah kebahagiaan yang dangkal.
Kebahagiaan tingkatan kedua adalah kebahagiaan yang berada pada tahapan kepuasan intelektual manusia. Kebahagiaan ini merupakan kebahagiaan tingkat menengah dan biasanya dicapai oleh orang-orang yang taraf intelektualnya di atas orang awam. Pada tingkatan kebahagiaan ini, dalam memandang realita dunia, manusia tidak lagi mementingkan material namun lebih pada kesadaran dan kepeduliannya terhadap sesama sebagai manifestasi dari pengetahuan dan inteleknya.
Kebahagiaan tingkat tertinggi adalah kebahagiaan yang dicapai melalui jalan spiritual. Kebahagiaan ini merupakan kebahagiaan yang sejati. Kebahagiaan yang selalu terpancarkan bagai cahaya lentera meskipun dilanda oleh kegelapan seperti penderitaan, kemiskinan, dan lain-lain. Itulah tiga tingkatan kebahagiaan menurut saya. Opini ini bisa saja berbeda dengan opini pembaca, sebab inilah cara Ruang Skeptis menyajikan opininya.
Siapa yang menciptakan kebahagiaan?
Mungkin saja semua orang berkeyakinan bahwa kebahagiaan sebagai wujud harapan takkan tercapai tanpa usaha yang dilakukan. Yang menjadi pertanyaan skeptis saya adalah siapakah yang memberikan kebahagiaan? Apakah manusia yang menciptakan kebahagiaannya sendiri? Atau kebahagiaan itu lahir dari orang lain yang menilai? Mengapa tiba-tiba orang bisa mengetahui yang namanya kebahagiaan? Itulah pertanyaan-pertanyaan skeptis yang kami harap mampu merangsang pembaca untuk senantiasa melakukan refleksi melalui pertanyaan dialektika-skeptis tersebut.
Manusia bisa saja menciptakan kebahagiaan untuk dirinya, namun yakinlah bahwa itu hanyalah kebahagiaan semu yang fana. Sebab kebahagiaan yang utuh dan sejati hanya milik Tuhan dan hanya mampu dirasakan oleh manusia-manusia yang dikehendaki-Nya. Jadi untuk mencicipi kebahagiaan sejati itu menurut pandangan sufistik adalah dengan kematian yang menjadi jalan pintas penyatuan diri dengan pemilik kebahagiaan.
Mengapa manusia menginginkan kebahagiaan?
Hal yang tak bisa dimungkiri dalam diskursus kebahagiaan adalah manusia menginginkan kebahagiaan. Mengapa demikian? Apakah karena hal tersebut berkaitan dengan naluri alami manusia? Apakah itu hasil olah pikiran manusia? Ataukah itu hasil hasrat yang lahir dari hawa nafsu manusia? Nah, untuk pembaca yang budiman, bagaimana menurut? Mengapa Anda menginginkan kebahagiaan?
Ketika membawakan materinya, Fadlan L Nasurung membuka kelas Menulis Opini setidaknya dengan tiga kalimat utama ini:
Menulis itu kata kerja, bukan sebuah teori. Kalimat tersebut seringkali saya dengarkan ketika bersua di berbagai kelas menulis, termasuk di Kelas Kepo Sesaat. Kalimat itu kembali menampakkan diri, menegaskan bekas-bekasnya yang lalu. Kalimat yang sudah sepantasnya menjadi pembuka pamungkas yang dipakai oleh para mentor kepenulisan. Jika tak salah, saya mendengar kalimat itu pertama kali dari Eka Kurniawan di salah satu tulisannya tentang menulis.
Entah siapa yang pertama kali mengungkap terma ini. Setidaknya, jika sewaktu-waktu saya berbicara tentang menulis—jika saya benar-benar telah menjadi seorang penulis, maka mungkin kalimat ini pulalah yang akan saya ucapkan terlebih dahulu—sebelum mengucapkan: saya bukanlah penulis, tapi petani. Bukankah kata M. Aan Mansur, kertas itu juga bumi? [Hehehe]
Menulis itu seperti berbahasa. (Setidaknya kalimat ini adalah kalimat kedua Fadlan dalam membuka materinya). Belajar menulis itu seperti belajar berbahasa. Ketika kita menganggap menulis sebagai sebuah teori, maka menulis akan menjadi hal yang menyulitkan. Begitupun dengan berbahasa. Semisal, pernahkah kita berpikir bahwa kita belajar berbahasa Inggris selama kurang lebih 10 tahun (Coba dihitung, kita belajar bahasa Inggris di SD selama 4 tahun—sejak kelas 3 sampai kelas 6, kemudian dilanjutkan di SMP selama 3 tahun, lalu kemudian di SMA selama 3 tahun). Namun hasilnya, sebagian besar dari kita masih sangat sulit berbicara menggunakan bahasa Inggris di depan umum. Hal ini, menurut Fadlan, disebabkan oleh paradigma dan perlakuan kita terhadap bahasa sebagai sebuah teori.
Sehingga yang terjadi kita malah tidak bisa berbahasa, sebab kita terjebak dalam tata kebahasaan (aturan-aturan berbahasa). Sehingga, orang yang belajar bahasa dengan cara “langsung praktik berbicara” dengan mudah menguasai sebuah bahasa dibandingkan dengan hanya sekadar mempelajarinya sebagai sebuah tata kebahasaaan.
Dari landasan ini, Fadlan menarik sebuah konklusi bahwa menulis juga demikian. Harus dipraktikkan secara langsung tanpa dibebani oleh aturan-aturan yang baku yang mengekang kreatifitas. Maka, paradigma tentang “menulis adalah sebuah teori” haruslah digantikan dengan paradigma “menulis adalah kata kerja” sebagaimana di kalimat pertama di atas.
Penulis yang baik adalah pembaca yang baik pula. Kalimat ini juga sudah berulang kali saya dengar. Dan bahkan akan selalu saya ucap, saya camkan. Jika Anda merasa tidak sepakat dengan kalimat ini, maka satu hal yang pasti, bahwa Anda bukanlah pembaca buku yang baik. Dan mungkin, bukan pula penulis yang baik. Itu hanya kemungkinan. Sedangkan bagi Fadlan, kalimat di atas haruslah ditambahkan sebuah term yang mewakili kegiatan ‘diskusi’, sehingga yang saya pahami, ia menginginkan kalimat tersebut diubah setidaknya menjadi: “penulis yang baik adalah pembaca buku yang rakus dan tentu juga suka berdiskusi”.
Hal ini disebabkan karena, menurut Fadlan, selain membaca, berdiskusi juga membuat otak kita aktif dan bereproduksi. Nah, dalam kegiatan membaca buku itu sendiri, ada dua aktivitas yang sebenarnya berjalan secara beriringan. Pertama, mencerna. Ketika kita membaca maka kita berusaha mencerna apa yang ingin disampaikan oleh penulis dalam buku yang kita baca, atau singkatnya, mencerna makna yang ada dalam buku bacaan kita. Kedua, mereproduksi. Pikiran kita mereproduksi makna baru yang juga sebenarnya berasal dari proses mencerna sebelumnya. Resensi atau teraju buku merupakan bentuk nyata dari reproduksi membaca atau mencerna sebuah buku.
Begitupun dalam berdiskusi, pikiran kita seperti ketika membaca, juga mencoba mencerna gagasan-gagasan dari teman diskusi kita. Juga sekaligus mereproduksi gagasan-gagasan yang baru. Sehingga berdiskusi merupakan salah satu aktivitas yang juga perlu dilakukan dalam mencari dan menemukan sebuah gagasan yang nantinya dapat dituangkan dalam sebuah tulisan.
Sebenarnya ada hal yang unik dari kata membaca. Membaca—perintah pertama yang Tuhan turunkan kepada manusia dalam agama Islam, bukanlah sekadar membaca buku. Tetapi membaca perlu dipahami sebagai sebuah perintah sarat makna. Karena membaca sejatinya adalah memahami pesan-pesan Tuhan, melalui medium apa saja. Bisa mata, hidung, telinga, dan lain-lain. Bukankah ketika kita melihat saudara kita menderita lantas membuat hati kita terketuk? Bukankah itu membaca? Maka membacalah sebaik mungkin, karena dari sana, kita akan banyak menemukan gagasan untuk dituliskan.
Mengapa membaca buku penting terhadap kepenulisan opini? Selain jawaban-jawaban di atas, juga berdasar dari pemaparan materi Fadlan, membaca buku sangatlah penting dikarenakan buku-buku yang dibaca bertujuan untuk memberikan perspektif atau sudut pandang yang menarik dan kaya akan pengetahuan baru. (Books give you a better perspective).
Gambar ini dipotret pada pertemuan kedua.
Nah, setelah tiga kalimat pembuka di atas, barulah Fadlan memaparkan materinya. Dan begitu juga ditulisan ini, setelah tiga kalimat pembuka di atas, baru pulalah saya mencatat materi yang saya pahami berikut ini:
Untuk membuat tulisan opini (menulis opini), setidaknya penulis harus melewati dan memilikit aspek-aspek dari tahapan berikut:
Pertama, penguasaan topik dan masalah.
Dalam menulis, apapun itu, kita akan berjumpa dengan kesulitan jika bahkan perihal yang akan kita tuliskan belum diketahui. Namun, bukan berarti sekedar mengetahui tema yang akan kita tulis mampu membuat hasil tulisan kita baik, tentu saja tidak. Diperlukan penguasaan yang mendalam terhadap sebuah tema yang akan ditulis. Saran dari Fadlan, kita bisa memulai menulis dari hal-hal yang kita kuasai semisal perihal yang berkaitan dengan jurusan atau profesi kita. Ataukah bahkan berdasarkan genre buku-buku bacaan kita.
Karena betapa anehnya jika kita seorang agamawan fanatik dan tak tahu banyak tentang kesehatan lantas menyela pendapat para ahli kesehatan. Begitu pula sebaliknya, jika kita berprofesi sebagai ahli kesehatan dan tak tahu banyak tentang hukum dan agama namun sibuk menyabdakan hukum sesat-bid’ah terhadap sesama umat beragama. Tentu akan kedengaran aneh. Maka di sinilah pentingnya seseorang menulis dan berbicara perihal apa yang mereka kuasai, sehingga dengan penguasaannya, ia bisa mempertanggungjawabkan tulisannya.
Kedua, ide atau gagasan.
Ide kepenulisan dalam opini, menurut Fadlan bisa datang dari mana saja. Baik yang datang saat kita membaca buku, berdiskusi maupun saat berkendara dan saat-saat menginspirasi lainnya. Ide atau gagasan yang lahir dari inspirasi tentu diwarnai oleh ruang dan waktu. Dan biasanya, pendakuan Fadlan, ide atau inspirasi yang ditulis secepat mungkin—saat masih dalam ruang dan waktunya, berpotensi memiliki rasa (sense) yang jauh lebih signifikan dibandingkan ide yang ditulis beberapa hari sejak kemunculannya.
Mungkin hal ini sering terjadi pada kita—pemula. Sering menunda-nunda ide untuk dituliskan, dan akhirnya, ide tersebut hanya pernah ada dalam dunia ide. Cara mengatasinya tentu hanya dengan langsung menuliskannya ketika inspirasi itu datang. Itu juga salah satu alasan mengapa menulis itu penting, agar kita bisa mengikat ide, sebagaimana yang diserukan oleh Ali bin Abi Thalib bahwa, “ikatlah ilmu dengan tulisan!”
Ketiga, argumentasi.
Bagian argumentasi yang dimaksud adalah gagasan atau perspektif. Dalam menulis tulisan opini, seorang penulis haruslah memiliki perspektif yang unik. Perspektif ini dapat ditampilkan melalui argumentasi yang kokoh dan berdasar. Tentu dalam opini, dibolehkan cocologi. Hanya saja, cocologi dalam bentuk yang berdasar. Artinya, cocologi dalam tulisan opini harus memiliki basis argumentasi yang kuat. Dengan kata lain, spekulatif dan logis.
Keempat, teknik kepenulisan.
Dalam menulis, tulisan apapun itu, tentu dibutuhkan teknik kepenulisan agar tulisan tersebut dapat diciptakan secara efisien. Dalam menulis opini, seperti halnya menulis jenis tulisan yang lain, tentu secara teknis diperlukan tata kebahasaan atau tata kepenulisan. Dan untuk itu, seorang penulis opini, setidaknya telah memahami tata kepenulisan tersebut.
Teknik kepenulisan yang ditawarkan oleh Fadlan dalam materinya terdiri dari empat poin. Saya meringkasnya kurang lebih sebagai berikut:
Judul: judul yang baik itu singkat dan memikat. Lead (Teras): alinea pembuka yang baik itu menarik dan mengalir. Batang Tubuh: batang tubuh atau isi tulisan haruslah berisi gagasan, argumentasi atau pendakuan teori, dan contoh-contoh atau data. Ending (Kesimpulan): kesimpulan meliputi rangkuman tulisan secara padat.
Kelima, pengetahuan bahasa.
Pernahkah kita membaca sebuah tulisan—mungkin tulisan kita sendiri, yang tulisan bagian awal, tengah, dan akhir itu menyampaikan hal yang sama saja? Tulisan yang berputar entah hendak ke mana. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan kita akan kebahasaan. Dalam artian, kita masih kurang mampu memperlakukan bahasa sebagaimana bahasa. Sehingga, dalam menulis, kita mengalami kesulitan menyampaikan maksud. Dan cara terbaik mengatasinya, sekali lagi, adalah dengan banyak membaca. Semakin banyak pengetahuan kita dari membaca, maka sangat memungkinkan pula kita memainkan bahasa untuk menyampaikan sebuah maksud, sebagaimana kemauan dan ciri khas kita sendiri.
Keenam, wawasan media massa.
Salah satu cara agar gagasan kita dibaca oleh publik adalah dengan menuliskan dan mengirimnya ke media massa. Adapun tip-tip yang dibagikan oleh Fadlan L Nasurung sebagai salah satu penulis opini di beberapa koran lokal—Makassar, yakni sering-seringlah menulis, sering-seringlah mengirimkan tulisan ke koran. Itu saja—itu saja tip yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Ayo semakin giat mengirim tulisan!
Selebihnya, ada beberapa hal yang kemudian ia paparkan sebagai sebuah prasyarat yang sebaiknya diterapkan dalam tulisan opini agar bisa dipertimbangkan oleh redaksi media cetak (ini merujuk dari pengalamannya yang telah berkali-kali dan sering kali mampu menembus beberapa koran lokal di Makassar):
Pertama,tema tulisan harus aktual. Kedua, tulisan memilki angel atau sudut pandang yang menarik. Ketiga, di dalam tulisan, penulis benar-benar mengeksplorasi gagasan secara mendalam. Keempat, tulisan bersifat reflektif. Kelima, dalam tulisan, penulis menggunakan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami pembaca.
Segitu saja yang sempat saya catat di pertemuan kelima Kelas Kepo Sesaat, sampai jumpa di pertemuan selanjutnya. Salam KEPO!