ketika masalah datang, aku ragu kalau aku tidak butuh siapapun dalam hidup. tapi ketika masalah tidak datang, aku tidak tahu di mana diriku berada. (tapi sebetulnya, aku juga butuh, tempat dan teman, bukan keduanya. tapi hal lain. bukan yang tidak kubutuhkan.)
kau pasti belum mengerti maksudnya, bahwa maksudku bukan itu, dan itu cukup mewakili apa yang kumaksudkan. (meskipun aku tahu bahwa kau adalah yang bisa aku selesaikan, sedang aku, yang tidak bisa aku selesaikan.) tapi aku yang sebetulnya adalah yang berada di antara keduanya.
akhirnya, yang ingin aku sampaikan, bahwa setiap kali kematian datang, aku merasa sedang berada di tengah. (di tengah? yeah! cukup bayangkan sesuatu yang memiliki tengah, sedangkan sisi yang kita sebut pinggiran berada jauh tak terbatas.)
1/ aku berharap aku mati hari ini. saat hidupku akan jauh lebih cerah. kehidupan seperti tidak menyiapkan anggur (haruskah aku tidak menulis anggur agar tidak berbohong bahwa orang tuaku melarang aku meminum anggur? atau bahkan belum pernah menyentuhnya sama sekali.)
2/ aku berharap aku mati hari ini. saat lagu belum selesai. saat pentas masih sedang digelar.
3/ aku berharap aku mati hari ini. saat aku tidak bisa membantu kemalangan ibuku oleh anaknya yang terlampau banyak.
4/ aku berharap aku mati hari ini. saat aku tidak bisa memadamkan kebakaran yang sedang membakar dada ayahku oleh agama yang dianutnya.
“Praaaakkkkk!!!“ Semua orang di ruangan itu menoleh kepadanya. Tapi, jauh sebelum suara kejatuhan itu tiba di telinga orang-orang yang ada di ruangan itu, dia sudah berdiri bersiap untuk mengangkat kembali kursi yang terjatuh. Pasalnya, ia sendirilah yang menjatuhkannya, dengan sengaja, untuk sebuah misi tersembunyi. Misi itu baru diketahui oleh orang-orang tiga tahun setelahnya. Kau tahu mengapa? Begini ceritanya:
Sepulang dari kampus, ia menyempatkan diri singgah di sebuah warung kopi depan kampus. Ia duduk sendiri. Dia sebenarnya tidak suka menyendiri, tapi bahkan dia sendiri lupa kapan terakhir ia duduk seperti itu dengan orang lain. Dia tidak pernah meragukan bahwa ia sangat membenci dirinya yang penyendiri, tapi mau tidak mau ia harus hidup dengan cara itu, tidak ada seorang pun yang bisa diajak olehnya untuk ngobrol.
Kesialan itu bermula ketika ia masih bayi berumur 24 bulan. Ketika itu, Ibunya bosan melihatnya menangis. “Bayi sialan! Kau hanya tahu menangis dan tidak memberitahu kami apa sebabnya. Jika kau lapar dan mau tetek ibu, bilang! Kalau kau mau main, bilang! Dasar bayi sialan! Kau kira ibumu ini malaikat yang tidak tahu marah?” Begitulah ibunya membentak dan menendangnya.
Sejak itu, dia mulai ragu akan bisa melanjutkan hidup dengan status anak dari wanita itu. Dia bersumpah kepada dirinya sendiri bahwa dia tidak ingin mengajak ibunya berbicara meskipun jika suatu saat ibunya mengajaknya berbincang. Dia berpikir, dengan cara itulah seorang bayi memperlihatkan bahwa ia juga bisa marah, seperti marah elegan dari orang dewasa.
Dia benar-benar dendam kepada ibunya. “Andai saja aku sudah besar, sudah bisa memegang pisau, aku akan memenggal lehermu, Ibu, atau setidaknya memotong puting susumu,” ketusnya dalam hati. Dia tidak pernah mengatakannya secara langsung meskipun suatu hari ia punya kesempatan untuk mengatakannya. Cerita itu ada pada bagian akhir, jadi kita jangan dulu membahasnya ya.
Ini cerita tentang si Kamu, nama lengkapnya, Kamu Sendiri bin Seorang. Bersama kekasihnya bernama Dia, nama lengkapnya, Dia Saja Sudah Cukup. Nama mereka keren-keren, bukan? Begini ceritanya:
Beberapa hari belakangan, Kamu menunggu seseorang datang menemui Kamu, atau menghubungi Kamu. Setiap satu jam, Kamu membuka email, aplikasi pesan, atau riwayat panggilan di ponsel Kamu, Kamu berharap ada pesan atau telepon yang masuk atas nama Dia. Tapi sia-sia.
Kamu mulai membayangkan banyak hal tentang Dia, misalnya, Dia mungkin sedang melakukan hal lain, sedang menyibukkan diri bersama temannya, atau sedang menyelesaikan segala urusan kuliahnya, atau sedang menghabiskan waktu dengan menonton film kesukaannya, atau memilih menghibur diri dengan menggambar sebagai hobinya, semua itu adalah usaha Dia melupakan seseorang yang namanya sama dengan nama Kamu (Tetapi hanya nama depannya saja yang sama: Kamu Berdua bin Mereka.)
Tapi si Kamu masih tetap menunggu Dia. Kamu tidak peduli pada kenyataan bahwa Dia mungkin tidak akan menemui Kamu atau mengabari Kamu lagi. Kamu sadar bahwa hal yang paling menyebalkan yang sedang Kamu lakukan saat ini adalah menunggu seseorang yang sama sekali tidak tahu bahwa “ada Kamu yang sedang menunggunya dengan setengah mati”, sedangkan Kamu sendiri tidak punya keberanian menemui atau menghubunginya secara langsung agar Dia tahu bahwa Kamu menunggunya, bahwa Kamu membutuhkannya.
Kamu akhirnya tahu, setahu-tahunya, bahwa betapa menyakitkannya menunggu Dia.
Setelah sekian lama memilih menunggu, Kamu akhirnya sadar bahwa tidak ada hal lain yang bisa Kamu lakukan selain melakukan hal yang sebaliknya: menghubungi Dia secara langsung atau menemui Dia. Tapi setelah Kamu hendak melakukannya, Kamu kembali memikirkannya, dan akhirnya menemukan kesadaran lain bahwa menghubungi orang-orang yang sebetulnya tidak ingin dihubungi hanya pekerjaan sia-sia. Pada saat itulah, Kamu memilih untuk tidak menghubungi Dia lagi. Tapi setelah memikirkanya sekali lagi, Kamu tahu bahwa hal itu tidak akan mengubah keadaan, lalu Kamu memilih mengirim pesan pendek seperti ini ke Dia:
“Aku bosan menunggumu, aku minta dua hal: Pertama, selesaikanlah segala urusan yang ingin kau selesaikan. Kedua, tidak usah lagi menghubungiku selama 45 hari ke depan. Thank you!”
Kamu mengirim pesan itu.
Sebetulnya, lewat pesan itu, Kamu hanya ingin menyampaikan sindiran ke Dia bahwa “aku sedang menunggumu, aku sedang membutuhkanmu di sini, hubungi aku!” Tapi sayangnya, si Dia tidak menghubungi kamu, bahkan tidak membalas pesan singkat Kamu. Kamu jadi tak karuan. Kamu membayangkan segala hal dan segala sesuatunya. Berusaha memikirkannya kembali. Membaca pesan singkat itu berulang kali dan berulang kali. Kamu jadi merasa bersalah.
Kamu akhirnya sangat merasa bersalah. Kamu menyesal mengirim pesan pendek itu. Kamu mengirim pesan yang lain, dengan harapan bisa menutupi rasa bersalah yang Kamu sendiri ciptakan:
“Aku minta maaf.”
“I’m so sorry!”
Setelah mengirim pesan singkat itu, Kamu merasa sedikit lebih mendingan, tapi sebetulnya Kamu tidak pernah baik-baik saja. Kamu duduk dan berpikir: aku mungkin sudah gila.
Sehari kemudian, si Dia yang Kamu tunggu mengabari Kamu atau menemui Kamu akhirnya mengirimi si Kamu pesan pendek lewat WhatsApp:
“Assalamualaikum.“
Si Kamu membacanya. Diam. Memikirkan Dia sekali lagi. Dua jam setelahnya, Kamu memilih menghapus pesan singkat itu tanpa keinginan membalasnya. Kamu diam sejenak, berusaha dengan keras menemukan jawaban dari pertanyaan: bagaimana seharusnya kita menghibur diri sendiri? Lalu Kamu sadar bahwa Kamu gagal.
Kamu telah tersesat di antara keinginan dan ketakinginan.
lihat gambar di atas selama dua jam lalu tertidur. jika itu terlalu lama dan tidak membuatmu tertidur, baca ini:
apa yang sedang dipikirkan oleh orang-orang saat kesulitan tidur malam begini? menurutmu, apakah penting memikirkan apa yang sedang mereka pikirkan? atau apakah memikirkan mereka “sedang memikirkan apa” bisa mengantarkan kita pada tidur yang sehat, lagi lelap?
untuk pertanyaan terakhir, jawabannya: mungkin ya, mungkin tidak.
bagi saya, pertanyaan adalah hal pertama yang wajib hadir di kepala manusia setiap saat dan sampai kiamat. sedangkan jawaban adalah hal terakhir yang boleh manusia dapatkan setelah jawaban. tidak ada jawaban adalah kebahagiaan sedangkan kebahagiaan adalah rahasia. rahasia yang hanya milik tuhan. tapi tuhan meninggalkan kita di ruang internet seperti ini. ia sedang nyaman di toilet.
apa yang kita miliki selain kepedihan semacam itu?
misalnya, kamu ingin tidur, tapi tidak bisa tidur. kamu ingin berdoa, tapi kamu tidak menghapal satupun doa. kamu ingin bicara apa saja sebagai doa, tapi malas juga melakukannya. kamu mau tuhan, tapi tuhan tidak mau. tuhan mau sedangkan kamu tidak tahu. “sedang apakah hari kiamat saat waktunya belum tiba?”
sedang tidur malam atau sedang begadang?
asal kamu tahu: kamu adalah bantal, sedangkan hidup adalah ranjang. tikar adalah semesta. tidak ada hidup tanpa semesta, jadi bantal tidak perlu ada saat kamar punya tikar dan ranjang! lalu ke mana kamu saat itu?
mari katakan inna lillahiwa inna ilaihi raji’un sebagai pembuka sajak berantakan ini. rapalkansekali lagi, dengan tartil—inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. jika kautakut pindah agama karena kalimat itu, kau boleh menggantinya dengan kalimatperpisahan apa saja yang telah kau kumpulkan seumur hidup. barangkali telingamutelah banyak menyimpan kalimat semacam itu, atau barangkali jilatmu, jidatmu.semoga itu terdengar rumit.
2/
aku hanya ingin membuatmu pusing di beberapa pragraf ini, jika kau takut, kau boleh minggat, segera! tapi jika kau mengira akan baik-baik saja, tetaplah mengeja. a, b, c, d, e, f, g, dan h. kau sudah memulainya. sekarang, jawablah pertanyaanku, berapakah jumlah kalimat yang mampu dimuat oleh kepala? mungkin 2019 tahun jumlahnya?! atau hanya mungkin memuat kata yang sering kita pakai namun tidak pernah kita kenali?! seperti kata ‘sundahlan’ atau ‘selangkangan’. aahhh, dasar!
3/
aku tak peduli betapa kasarnya kalimatku di tempat ini, dan di bagian yang akan datang, aku sungguh tidak peduli! sudah nyaris sebulan aku tidak pernah membuat kalimat kasar dengan sempurna. persetan! semoga kalimat-kalimat semacam ini bisa membuatmu mengerti bahwa membuat kalimat itu susah sekaligus mudah. sesusah melepaskan kabar buruk dari botol susu beruang selepas kita menghabiskan malam panjang di ranjang, tapi semudah mengeluarkan cairan putih yang kelak disebut cairan paling nista oleh agamawan.
4/
aku hanya ingin mengabarimu bahwa kepala abba-mu telah kupenggal jauh sebelum kata penggal dikenal oleh bahasa indonesia. seorang penjual ikan mengucapkan kalimat itu ketika kepada seekor kucing yang melarikan sepotong ikannya, “kupenggal kau kucinganjing!” lalu seorang wartawan memuatnya di koran: penggal! maka tibalah kata itu di benak siapa saja yang berniat membunuh atau menyakiti. dengan pisau, atau dengan kata-kata. sama saja!
5/
sebagai bagian tubuh, maupun sebagai kata. kepala-ku sudah merasa jijik untuk menampung nama bekas kekasih itu. semacam sampah. mungkin. semoga pemerintah bersedia menyiapkan tempat sampah yang layak bagi jenis sampah semacam ini. atau masukkan saja di tong sampah yang berwarna kuning jika kau punya: tong sampah anorganik, sulit didaur ulang. seperti bekas kekasih, ia hanya bisa dibuang, jauh dan amat jauh. jangan lupa, beri label di wajahnya, barang terlarang!
6/
tapi kau boleh memilih hal lain. jika kau merasa mau jadi Marcedes Herrera bagi Edmond Dantes. sila-tambah-kan. di dunia ini, Tuhan menciptakan banyak Fernand Mondengo kok! kujamin. siapapun yang jadi aku, atau Count of Monte Cristo bagimu, akan siap menjadikanmu sepotong kuku yang lepas jari-jemarinya, tanpa cairan merah, setetes pun!
7/
jika kelak kau kembali bertemuabba-mu, katakan bahwa “di suatu tempat yang tak kau kenalibernama Kolong di Layar Komputer, seseorang telah mengantarmu ke pabrik daurulang.” aku kasihan. aku hanya sedang mengawetkan mayatnya di sajakini, atau Kolong di Layar Komputer. sampaikan pula “jika kau inginbalas dendam, wasiatkan kepada anak-anakmu bahwa setanlah yangmelakukannya.”
8/
aku setanmu, Sayang (untuk malaikatyang membaca sajak ini). jika kau marah, kau boleh mengawetkanku juga.semoga kau tidak kehabisan air liur setelahnya. selain dariku, kau bisamendapatkan air liur dari mana saja! kau tahu? ada banyak air di sungai Poleang,atau di sungai Saddang, atau Jeneberang. kau hanya sisa meneguksekali dan berkata, setanG! kau akan kembali mendapati segumpal air liur tepatdi lidah sebelah kirimu.
9/
—mari katakan inna lillahiwa inna ilaihi raji’un sekali lagi, sebagai penutup sajak berantakan ini.rapalkan sekali lagi, dengan tartil. jika kau takut pindah agama karena kalimatitu, kau boleh menggantinya dengan jenis kalimat perpisahan yang telah kaukumpulkan seumur hidupmu.
10/
lapar? mau makan? jangan terlalu banyak memikirkan perut. karena perutlah yang membuat kita sama saja dengan binatang sundal! selamat tinggal. ehhh, aku tidak suka mengatakan ‘selamat tinggal’, itu kalimat yang bodoh. digunakan untuk berpisah tetapi malah memilih kata ‘tinggal’, kau mau tinggal atau pisah sih?ahhh, sampai jumpa! pakai itu saja.
karena perpisahan adalah perjumpaan yang lain. aku takkan sedih, kekasih. berapa jarak antara pergi dan pulang jika tujuan telah bersahabat dengan pelukan?
karena pertemuan adalah perpisahan yang lain. aku takkan sedih, kekasih. berapa waktu antara lama dan segera jika kesibukan dipahat hanya untuk kita berdua?
karena maksud lain sesuatu, adalah kita. dan segala sesuatunya.
Hari ini, 2 Juni, kuhabiskan sebagian siang dan soreku melahap buku. Tak terencana, kutemui sepenggal kalimat seorang prosais di buku yang kubaca, lebaran selalu membawa orang-orang pulang. Aku sedih membacanya.
Lebaran kali ini aku tidak pulang. Aku tidak pulang. Tidak pulang. (Kuucapkan tiga kalimat itu berulang-ulang, hingga aku mengerti mengapa Tuhan menciptakan tenggorokan—agar kita bisa menggunakannya untuk menelan, termasuk kesedihan.
“Sudah dua tahun aku tidak merayakan hari raya di kampung halaman.” Kubayangkan suatu hari di masa akan datang, aku menulis kalimat sebelumnya dengan jumlah tahun yang berbeda, mungkin sepuluh tahun atau dua puluh tahun. Setelah itu, aku pasti akan pulang! Aku pasti merindukan semua yang ada di sana:
***
0.
Aku merindukan sungai yang tak jauh dari rumah, entah siapa yang memindahkannya kemari, ke antara mata dan pipiku, kurasa airnya mengalir lebih deras dari sebelumnya—ketika kami terakhir kali mengunjunginya sepulang sekolah atau dari rumah. Aku hampir lupa kapan persisnya.
1.
Aku merindukan tetanggaku: gadis kecil yang suka menangis, wanita tua yang belum menikah, dan seorang ibu yang menyeret kakinya saat berjalan karena strok, serta semua orang yang mengaku dirinya lebih sehat dan lebih bahagia dari yang kusebutkan. Aku merindukan mereka—semuanya.
2.
Aku merindukan semua teman-teman sekolah dulu. Mereka yang hingga hari ini tidak mau bunuh diri, meskipun kenyataan bahwa masa depan jauh lebih kejam daripada guru agama kami dulu, atau penjaga kantin di sekolah yang melarang kami mengutang, yang tidak segan-segan memukuli kami ketika mendapat laporan dari teman perempuan kami bahwa kami telah mencuri permen karet di toplesnya.
3.
Aku merindukan mereka: kakak-kakakku. Mereka yang pernah membuatku menangis dengan bentakan dan pukulannya karena aku jadi anak yang payah dan lemah dalam melakukan segala sesuatu.
4.
Aku merindukan mereka: adik-adikku. Mereka yang jadi tempatku paling aman untuk marah ketika aku kalah bermain kelereng dengan teman sekolah, mereka yang kusalahkan serta kusebut bodoh ketika salah melakukan perintahku.
5.
Aku merindukan saudara laki-lakiku: mulai dari dia yang ingin menikah lebih muda dengan janda, hingga dia yang mau jadi tukang cukur agar bisa memerintah presiden dengan mudah—semua imajinasi nakal kami waktu masih kanak-kanak menjadi ruang yang ingin sekali kukunjungi sekali lagi.
6.
Aku merindukan saudara perempuanku: mulai dari dia yang selalu berlaku seperti seorang ibu kepada kami, hingga dia yang menganggap Ibu kami sebagai miliknya seorang. Mereka yang selalu kudoakan agar dapat jodoh lelaki yang penyayang lagi tampan, agar kelak aku bisa punya kakak—setidaknya kakak ipar, yang lebih penyayang dan lebih tampan dari kakakku yang laki-laki.
7.
Dan di antara semua yang kusebutkan, tiadalah taranya kecintaan dan kerinduanku kepada dua seniman:
Aku merindukan ibuku, yang pandai menyembunyikan air sungai di matanya. Meski bencana alam selalu datang menghantui tubuh dan pikirannya. Ketika anak-anaknya bersedih, ibuku selalu jadi matahari, tempat kami mengeringkan pipi yang basah. Dan terlebih lagi, hanya kepada ibu, kita bisa melihat bulan lebih dekat lewat pelukannya.
Aku merindukan ayahku, yang pandai menyulap keburukan di dadaku menjadi kebajian, yang ketika aku melihat hantu, ia melihat Tuhan, yang ketika aku terjatuh ia datang dengan lengan. Sesunguh-sungguhnya pengakuan, kuakui, bahwa ayahku, adalah laki-laki paling gagah di muka bumi ini, meskipun sebagian rambutnya telah memutih.
Aku akan selalu merindukan dua seniman itu: ibu dan ayahku.
Suatu waktu—di subuh hari, seseorang datang kepadaku dengan tangan berdarah. Ia habis membunuh kekasihnya dengan belati. “Bagaimana mematahkan hati seseorang? Ajari aku cara melakukannya!” mohonnya sambil menyerahkan belati yang basah dan licin di tangannya. Kuraih belati itu, dan kutuliskan sajak cinta di dadanya:
belajarlah mematahkan hatimu sendiri sebelum seseorang datang mematahkannya—dan itu berarti, tak akan ada lagi yang bisa kau patahkan sendiri, selain kesedihan yang lebih dalam.
Setelah menulis sepenggal sajak itu dengan belati, darah mengalir tambah deras dari bekas luka kata-kata yang kubuat. Dan kuserukan kepadanya:“berwudulah dari air kata-kata yang terukir di dada kita, karena hanya dengan menempuh jalan itu, kita bisa mematahkan hati-hati: hati kita atau hati orang lain!”
“Bagaimana cara mematahkan hati seseorang?” tanyanya sekali lagi.
Kukumandangkan azan di ketiaknya, lalu kuserukan kebaikan sekali lagi “salat subuhlah selalu, sampai tubuhmu tua dan kau paham bahwa tidak ada hal yang paling kau benci selain ngantukmu yang tak kunjung menua. Kau akan patah hati. Tinggal tambah akhiran -kan dan kata orang lain: kau akan patahkan hati orang lain. Apa kau mengerti?“
Kemudian bertobatlah ia dengan air mata merah di pipinya, sambil terisak.
Setahun setelahnya, kami bertemu kembali di rajang. Menidurkan ngantuk kita masing-masing yang menempuh jalan suluk. Rendah hatilah selalu ngantuk yang terkantuk-kantuk. Semoga kelak punya jodoh serupa: mimpi buruk dan terkutuk!