Aku Berharap, Aku Mati Hari ini

Aku Berharap, Aku Mati Hari ini

Andi Alfian

aku berharap, aku mati hari ini:

1/
aku berharap aku mati hari ini. saat hidupku akan jauh lebih cerah. kehidupan seperti tidak menyiapkan anggur (haruskah aku tidak menulis anggur agar tidak berbohong bahwa orang tuaku melarang aku meminum anggur? atau bahkan belum pernah menyentuhnya sama sekali.)

2/
aku berharap aku mati hari ini. saat lagu belum selesai. saat pentas masih sedang digelar.

3/
aku berharap aku mati hari ini. saat aku tidak bisa membantu kemalangan ibuku oleh anaknya yang terlampau banyak.

4/
aku berharap aku mati hari ini. saat aku tidak bisa memadamkan kebakaran yang sedang membakar dada ayahku oleh agama yang dianutnya.

5/
aku berharap aku mati hari ini.

Bombana, 02 April 2020.

Kalau Kau Adalah Kematian

Kalau Kau Adalah Kematian

Andi Alfian

I.

kalau kau adalah kematian. bagaimana riangmu ketika menemui seseorang?

seseorang yang sebetulnya adalah dirimu sendiri.

kau menolak, tapi kematianmu tak demikian.

kematian mengajakmu berdansa, dan kau tak bisa menolak, akhirnya.

II.

kalau kau adalah kematian. bagaimana riangmu ketika menemui seseorang?

seseorang yang sebetulnya adalah kekasihmu.

mata yang kau inginkan. maut mengambilnya.

dengan cara apa kau akan menukar mata kekasihmu dengan mata maut?

III.

kalau kau adalah kematian. bagaimana riangmu ketika menemui seseorang?

seseorang yang sebetulnya adalah ibumu.

kasih sayangnya kau balas dengan pil obat.

bukan untuk memanjangkan umur, tapi menyingkatkan. sesingkatnya.

IV.

kalau kau adalah kematian. bagaimana riangmu ketika menemui seseorang?

menyalami mereka, dan mereka ketakutan.

menakuti mereka, dan mereka tertawa.

kau marah dan tidak jadi maut. jadi durhaka. dan kau mati.

V.

siapa lagi yang ingin mewakili kematian, selain kau?

Makassar, 14 Maret 2020.

Lebaran Kali Ini Aku Tidak Pulang

Lebaran Kali Ini Aku Tidak Pulang

— kepada orang-orang yang sedih jika aku tidak pulang.

Photo by Annie Spratt on Unsplash

Hari ini, 2 Juni, kuhabiskan sebagian siang dan soreku melahap buku. Tak terencana, kutemui sepenggal kalimat seorang prosais di buku yang kubaca, lebaran selalu membawa orang-orang pulang. Aku sedih membacanya.

Lebaran kali ini aku tidak pulang. Aku tidak pulang. Tidak pulang. (Kuucapkan tiga kalimat itu berulang-ulang, hingga aku mengerti mengapa Tuhan menciptakan tenggorokan—agar kita bisa menggunakannya untuk menelan, termasuk kesedihan.

“Sudah dua tahun aku tidak merayakan hari raya di kampung halaman.” Kubayangkan suatu hari di masa akan datang, aku menulis kalimat sebelumnya dengan jumlah tahun yang berbeda, mungkin sepuluh tahun atau dua puluh tahun. Setelah itu, aku pasti akan pulang! Aku pasti merindukan semua yang ada di sana:

***

0.

Aku merindukan sungai yang tak jauh dari rumah, entah siapa yang memindahkannya kemari, ke antara mata dan pipiku, kurasa airnya mengalir lebih deras dari sebelumnya—ketika kami terakhir kali mengunjunginya sepulang sekolah atau dari rumah. Aku hampir lupa kapan persisnya.

1.

Aku merindukan tetanggaku: gadis kecil yang suka menangis, wanita tua yang belum menikah, dan seorang ibu yang menyeret kakinya saat berjalan karena strok, serta semua orang yang mengaku dirinya lebih sehat dan lebih bahagia dari yang kusebutkan. Aku merindukan mereka—semuanya.

2.

Aku merindukan semua teman-teman sekolah dulu. Mereka yang hingga hari ini tidak mau bunuh diri, meskipun kenyataan bahwa masa depan jauh lebih kejam daripada guru agama kami dulu, atau penjaga kantin di sekolah yang melarang kami mengutang, yang tidak segan-segan memukuli kami ketika mendapat laporan dari teman perempuan kami bahwa kami telah mencuri permen karet di toplesnya.

3.

Aku merindukan mereka: kakak-kakakku. Mereka yang pernah membuatku menangis dengan bentakan dan pukulannya karena aku jadi anak yang payah dan lemah dalam melakukan segala sesuatu.

4.

Aku merindukan mereka: adik-adikku. Mereka yang jadi tempatku paling aman untuk marah ketika aku kalah bermain kelereng dengan teman sekolah, mereka yang kusalahkan serta kusebut bodoh ketika salah melakukan perintahku.

5.

Aku merindukan saudara laki-lakiku: mulai dari dia yang ingin menikah lebih muda dengan janda, hingga dia yang mau jadi tukang cukur agar bisa memerintah presiden dengan mudah—semua imajinasi nakal kami waktu masih kanak-kanak menjadi ruang yang ingin sekali kukunjungi sekali lagi.

6.

Aku merindukan saudara perempuanku: mulai dari dia yang selalu berlaku seperti seorang ibu kepada kami, hingga dia yang menganggap Ibu kami sebagai miliknya seorang. Mereka yang selalu kudoakan agar dapat jodoh lelaki yang penyayang lagi tampan, agar kelak aku bisa punya kakak—setidaknya kakak ipar, yang lebih penyayang dan lebih tampan dari kakakku yang laki-laki.

7.

Dan di antara semua yang kusebutkan, tiadalah taranya kecintaan dan kerinduanku kepada dua seniman:

Aku merindukan ibuku, yang pandai menyembunyikan air sungai di matanya. Meski bencana alam selalu datang menghantui tubuh dan pikirannya. Ketika anak-anaknya bersedih, ibuku selalu jadi matahari, tempat kami mengeringkan pipi yang basah. Dan terlebih lagi, hanya kepada ibu, kita bisa melihat bulan lebih dekat lewat pelukannya.

Aku merindukan ayahku, yang pandai menyulap keburukan di dadaku menjadi kebajian, yang ketika aku melihat hantu, ia melihat Tuhan, yang ketika aku terjatuh ia datang dengan lengan. Sesunguh-sungguhnya pengakuan, kuakui, bahwa ayahku, adalah laki-laki paling gagah di muka bumi ini, meskipun sebagian rambutnya telah memutih.

Aku akan selalu merindukan dua seniman itu: ibu dan ayahku.

Apakah Saya Berbohong?

Apakah Saya Berbohong?

Photo by PaweÅ‚ CzerwiÅ„ski on Unsplash

Hari ini saya merasa bersalah pada diri sendiri. Entah. Saya merasa harus meluangkan waktu untuk untuk memikirkannya.

(Beberapa menit kemudian)

Ok. Saya merasa bersalah (mungkin) karena saya telah menghancurkan diri saya yang different. Tapi, bukankah setiap manusia diciptakan berbeda? Ya, maksud saya: saya telah melakukan sesuatu yang menurut saya—setelah memikirkannya dengan seksama—adalah buruk bagi pembentukan kepribadian saya yang otonom.

Sebelum menjelaskan apa yang saya maksud dengan hal buruk itu, saya ingin bertanya pada diri saya sendiri: apa yang dimaksud dengan menjadi diri sendiri? apakah segala keputusan dan tindakan saya selama ini benar-benar didasari oleh pikiran dan keinginan saya sendiri atau malah sebenarnya orang lain yang membentuk dan mempengaruhi saya dalam berpikir dan bertindak?

Saya memikirkannya. Saya ingin mengakui bahwa, akhir-akhir ini, “saya tidak menjadi diri sendiri”. Ada beberapa keputusan dan pilihan yang saya pilih bukan karena benar-benar pilihan saya. Sehingga, sebagai akibat, saya tersiksa karena harus menjadi orang lain dalam tubuh saya sendiri. Saya menyadarinya. Dan kesadaran ini, sepertinya, benar-benar penting.

Dalam memilih—atau mengambil keputusan—saya seringkali mempertimbangkan: apa yang akan orang lain katakan about me? Apa yang akan dikatakan teman saya soal saya? Apa yang akan dikatakan pacar saya soal saya?

Sehingga, konsekuensi dari pikiran atau asumsi semacam ini adalah, saya, akhirnya, selalu merasa tidak enak menolak sesuatu, merasa tidak enak memutuskan sesuatu. Dan itu berarti, akan semakin berat untuk menjadi diri sendiri.

Menurut saya, hal ini (mungkin) dikarenakan oleh dua asumsi dilematis. Pertama, pandangan negatif kita terhadap diri sendiri. Kedua, ketakutan kita terhadap asumsi negatif orang lain terhadap kita. Kedua asumsi ini bertarung dalam benak kita, dalam tubuh kita.

Sehingga, pada kesempatan yang sama, kita akhirnya mengalami kegagapan independensi, atau keterombangambingan. Kita mengalami kekaburan preferensi antara memilih mengatakan sesuatu yang sebenarnya dengan kemungkinan dipandang negatif, atau mengatakan sesuatu yang bukan sebenarnya (hasil rekaan) dengan kemungkinan terlihat positif di mata orang lain.

Karena kita telah memiliki asumsi negatif pada  diri sendiri, maka kemungkinannya lebih lebih besar jika kita akan memilih pilihan yang sebenarnya bukan atas dasar keputusan pribadi yang otentik. Tetapi, atas dasar pertimbangan di luar diri atau orang lain atau asumsi lain yang mendorong kita menghasilkan rekaan.

Dalam pengertian ini, saya mengakui—dengan bahasa yang lebih kasar—bahwa saya telah berdusta selama ini. Saya, anda dan (mungkin) semua orang, telah berdusta pada diri sendiri. Pada titik inilah, kesadaran saya membuat saya merasa bersalah. Ternyata, saya—di banyak hal—adalah pembohong. 

Apa kamu akan menerima pengakuan saya ini? Apa kamu akan membantu saya mengubah kebiasaan buruk itu?

It’s me, and i hope you can help me to changes my self.

Berkenalan dengan NQR

Berkenalan dengan NQR

Sebagai pembuka, perkenalkan dirimu dengan singkat!

Perkenalkan nama saya Nur Qalbi Rustan. Saya biasa disapa Qalbi atau Abbi. Saya lahir dari sepasang suami-istri yang bernama Rustan Santaria dan Rusdiana Junaid di Ujung Pandang, 27 April 1997.

Ok, sangat singkat, tetapi tidak jadi soal. Sekarang, hobi kamu apa?

Hobi saya makan dan tidur. Entah mengapa, saya menyukai dua pekerjaan ini: makan dan tidur. Mungkin karena, saya pikir, makan dan tidur itu adalah pekerjaan mulia. Tanpa melakukan dua hal ini, kita sebagai manusia akan kesulitan untuk hidup.

Kamu sepertinya sedikit menyebalkan. Apakah ada sesuatu yang lebih unik dari dirimu selain karena menyebalkan?

Saya alergi seafood khususnya kepiting dan udang. Semua itu bermula di masa kecil di kampung. Pernah suatu hari, saya jalan-jalan di pematang empang dan terpeleset masuk ke empang, dan melihat udang-udang, tiba-tiba saya merasa gatal. Sedangkan pada kepiting, saya selalu merasakan hal aneh saat melihatnya capitnya. Saya pernah bermimpi bertemu kepiting raksasa yang besarnya seperti gedung sekolah.

Itu lebih cocok disebut sebagai hal aneh daripada hal unik. Kamu aneh! Tadi, kamu sudah menyebutkan hal yang kamu tidak suka, atau setidaknya jenis masakan yang kamu hindari, jadi sekarang, saya ingin kamu menyebutkan hal-hal yang kamu sukai.

Soal kesukaan, saya suka warna biru. Kata biru seperti kata aku dan kamu, akhir kata yang sama, sungguh merdu. Minuman favoritku, air mineral dan jus avokad, jikapun ada. Kata dokter, juga artikel-artikel di Google, bahwa mengonsumsi jus avokad banyak manfaatnya, di antaranya meningkatkan fungsi otak. Apalagi jika minum avokad sambil memikirkan seseorang.

Buku yang saya sukai ada banyak. Mulai dari buku tulis yang saya gunakan saat berada di sekolah dasar sampai buku-buku apa saja yang bisa dikatakan buku. Saya suka banyak buku, itu seperti tertera di blog lama saya. Dulu, waktu saya masih kecil dan belum bisa berdiri, masih merayap, saya pernah tertimpa buku. Dari rak, sebuah buku jatuh dan menimpa punggungku, pada saat itulah pertama kalinya saya membaca buku.

Saya simpulkan: kamu penyuka warna biru yang hobi makan dan tidur, suka buku, air mineral dan jus avokad. Apakah kamu juga suka sama saya? Kalau pertanyaan itu tidak usah dijawab. Kamu asalnya dari mana sih?

Soal asal daerah, saya tidak tahu pasti sebenarnya saya berasal darimana. Saya tak berani mengklaim. Saya lahir di Ujung Pandang, tapi saya dibesarkan di Luwu hingga sekarang (beberapa tahun terakhir ini tinggal di Palopo). Saya tidak mahir berbahasa daerah, mungkin karena saya diasuh dengan bahasa Indonesia (sebagai bahasa ibu).

Apakah kamu punya pengalaman atau cerita yang ingin kamu bagikan ke saya?

Sewaktu kecil, saya punya pengalaman tragis, ketika saya masih menempuh pendidikan sekolah dasar di Parkwood Primary School di Australia. Ketika itu, saya masih kelas satu. Saya ingin buang air kecil, tapi, waktu itu, saya masih belum tahu (belum mahir) berbicara dalam bahasa Inggris maka saya malu meminta izin dan akhirnya memaksa diri saya menahan diri untuk buang air kecil. Akhirnya, saya pingsan. Ya, pingsan!

Saya dibawa ke rumah sakit karena dikira sedang sakit. Setelah sadar, saya diperiksa dan disuruh pergi buang air. Setelah diperiksa dan buang air kecil, dokter yang berasal dari India itu mengatakan saya sehat-sehat saja, dia menyimpulkan bahwa penyebab saya pingsan adalah karena saya menahan diri buang air kecil. Semua itu karena saya malu minta izin, sebab kemampuan saya berbahasa Inggris yang masih amat payah. Dan kenyataan itu, mungkin saja, punya pengaruh terhadap kepribadian saya sekarang yang masih pemalu. [Jika ingin baca cerita itu lebih lengkap, baca di sini]

Wah, itu cerita yang menghibur, ehh, maksud saya, cerita yang bisa membuat kita terinspirasi, bahwa kadang kala kita butuh memaksa diri untuk menahan buang air kecil agar punya pengalaman menarik untuk orang lain, hehehe, maafkan. Ohya, apa impian kamu?

Impian saya untuk masa depan sangat sederhana, cukup bisa hidup seatap dengan kekasih, Andi Alfian. Dari impian itu, saya bercita-cita menjadi istri sholehah. Bukankah itu cita-cita yang mulia? Hehehe, maafkan saya juga.

[Tulisan ini adalah hasil wawancara yang dilakukan melalui Video Call di WhatsApp pada sepertiga malam Rabu, 20 Februari 2019. Wawancara akan dilanjutkan pada kesempatan selanjutnya. Terima kasih, sudah berkenalan.]

Aku Hantu Biru

Aku Hantu Biru

https://pixabay.com/en

:sebuah puisi.


aku ingin memecahkan kepalaku di kening seseorang. saling retak.

setelahnya, aku ingin membunuh wanita bernama kau.

aku ingin sekali. mandi dengan bintik-bintik merah di tangan.

sekali ini saja. izinkan aku!

setelah kematianmu, akan kuhidupkan kembali kau dengan caraku sendiri.

—sebab senyummu adalah sebaik-baik peti kematian yang setia menanti kita di depan pintu.

kau lihat itu? darahmu biru laut. warna yang kau suka. kita suka.

kau dan aku menyukainya bukan?

ya! aku hantu, sayang.


Makassar, 2019.

Mencintaimu Dengan Sederhana

Mencintaimu Dengan Sederhana

Sumber gambar: @Engin_Akyurt (Pixabay).

Mencintaimu Dengan Sederhana

:sebuah puisi.

1/

aku ingin mencintaimu dengan sederhana. tanpa filsafat. tanpa matematika. tanpa rumus fisika. tanpa teori apa saja yang membuat siswa berhenti sekolah.

2/

aku ingin mencintaimu dengan sederhana. tanpa kata-kata. tanpa bahasa. tanpa apa saja yang kita sebut sebagai cara menyampaikan keluh dan kesah. tanpa apa saja!

3/

aku ingin mencintaimu dengan sederhana, kekasih. tapi nyatanya kau terlampau rumit. lebih rumit dari filsafat. lebih rumit dari rumus matematika, fisika atau rumus kehidupan apa saja yang membuat orang-orang bumi lupa di mana kaki mereka berpijak.

kau lebih rumit, sayang.

titik.


JayNet, 24 Januari 2019.

I Miss You Even More

I Miss You Even More

Dari sebuah profil WA.

: sebuah puisi.

“kekasih, apa yang membuatmu tidak karuan?”

“aku sedang terjerembab rindu,” kataku.

“kepada siapa, kekasih? — tunggu, aku ingin menebaknya. apa kau akan mengatakan ‘aku sedang rindu namun tidak sedang mengetahui kepada siapa rindu akan dilabuhkan?’ Kau biasa menjawab pertanyaan itu dengan jawaban semacam itu, bukan ?! ”

“aku akan memberi jawaban yang lebih buruk atau (malah) lebih baik bagimu. aku sedang rindu kau, ”akuanku.

dan kau nyaris membunuhku dengan sebaris pisau: “i miss you even more.”

dan kata terakhir: nite.

i love you.


Makassar, 16 Desember 2018.

Melerai Bentrok

Melerai Bentrok

Foto milik pribadi.

:sebuah puisi.

1/

para filsuf adalah mereka yang hobi memikirkan orang lain sedang bentrok di kepala mereka.

melukis kaca jendela pecah di benak — dan kacamata selalu berfungsi menciptakan lebih banyak orang buta.

dan kepala sumbat saling raba. batu-batu jadi jari tangan yang punya kemampuan terbang seperti pesawat tanpa bahan bakar.

polisi — polusi tercipta.

2/

filsuf kemudian kena penyakit. ia sakit mata.

juga tenggorokan yang tersumbat oleh teriakan para pembela gedung fakultas — tidak ada perpustakaan. di kepala.

sebagian yang lain berlarian ke masjid melalui lubang hidung.

mereka berebut siapa yang lebih awal meminum obat flu.

3/

lalu, filsuf kesulitan menjadi dokter bagi matanya sendiri atau bagi tenggorokan orang lain.

ia membuka halaman-halaman buku tapi tiba di halaman kampus yang rumit.

— tempat kebenaran di lempar-lempari seperti nabi Ibrahim melempari kepalanya sendiri. setan.

kita butuh orang botak, dan filsuf adalah gondrong yang rela memotong habis rambutnya.

4/

kini, filsuf jadi gelandangan. menyaksikan cara manusia membangun pemakaman. di kedua telapak tangan mereka.

— dua tetangga saling mencibir soal siapa yang lebih dulu menjadi tuan rumah di koran. dengan cita-cita dapat naik haji.

bagi mereka, ini adalah cara yang baik untuk belajar agar tidak gagal mengerjakan soal ujian di tanah suci.

kita semua adalah filsuf. tapi kita lebih suka menjadi yang lain daripada yang lain dengan cara yang benar-benar lain. lain-lain.

5/

filsuf lalu bersabda:

mari mengakhiri bentrok di puisi ini, biar kata-kata menjadi tetangga.

— seperti dua keping telinga yang tidak pernah saling mencibir. atau yang lain.

lain-lain.


UIN Alauddin, 23 Oktober 2018.