Kalau Hidup Mengajakku Berbincang

Kalau Hidup Mengajakku Berbincang

ketika masalah datang, aku ragu kalau aku tidak butuh siapapun dalam hidup. tapi ketika masalah tidak datang, aku tidak tahu di mana diriku berada. (tapi sebetulnya, aku juga butuh, tempat dan teman, bukan keduanya. tapi hal lain. bukan yang tidak kubutuhkan.)

kau pasti belum mengerti maksudnya, bahwa maksudku bukan itu, dan itu cukup mewakili apa yang kumaksudkan. (meskipun aku tahu bahwa kau adalah yang bisa aku selesaikan, sedang aku, yang tidak bisa aku selesaikan.) tapi aku yang sebetulnya adalah yang berada di antara keduanya.

akhirnya, yang ingin aku sampaikan, bahwa setiap kali kematian datang, aku merasa sedang berada di tengah. (di tengah? yeah! cukup bayangkan sesuatu yang memiliki tengah, sedangkan sisi yang kita sebut pinggiran berada jauh tak terbatas.)

hiduplah yang membunuhku! hiduplah!

Makassar, 8 April 2020.

Kita Selalu Salah

Kita Selalu Salah

Photo by Sarah Kilian on Unsplash

Perihal yang paling aku takuti dari pikiranku adalah bahwa dia selalu berbisik kepadaku: kau selalu salah terhadap segala sesuatu, percayalah!

@andialfianx

Entah karena apa, pekerjaan meragukan pikiran dan keyakinan kita sendiri selalu menjadi pekerjaan paling rumit—jika aku salah, maafkan. Aku menarik kesimpulan semacam itu setelah memikirkannya dengan baik-baik, dan kau tentu boleh menolaknya, karena kita memang selalu salah terhadap segala sesuatu termasuk yang kita maksud sebagai kesalahan, kita salah! Misalnya:

1.

Berapa banyak di antara kita yang mencintai seseorang dengan penuh keyakinan bahwa ia akan bersamanya sepanjang masa? (Tak usah kau sebutkan jumlahnya, kau tak akan mampu menyebut jumlahnya dengan pasti, cukup kau reka dan katakan: sangat banyak!)

Kita—aku, mungkin juga kau, pernah memiliki keyakinan semacam itu, bahwa kita memilih perempuan atau laki-laki, yang akan mendengarkan keluh kesah kita, yang akan mengurangi kesepian kita, yang katanya akan menemani kita hingga akhir perjalanan kita. Kita meyakininya karena perasaan kita mengatakannya. Jika ya, hati-hatilah, keyakinan kita salah, perasaan kita salah.

2.

Berapa banyak di antara kita yang beriman kepada Tuhan dan mendengarkan perintahnya dengan begitu taat? Berapa pula dari mereka yang pada akhirnya menyesal melakukannya? Jika kita menganggap bahwa dengan mencintai Tuhan, dapat mengurangi keresahan kita, dapat mengurangi kesusahan kita, dapat mengurangi keburukan yang kita terima dari orang lain, maka hati-hatilah, keyakinan kita salah, Tuhan kita mungkin juga salah.

3.

Pada akhirnya, kita selalu salah terhadap segala sesuatu. Kita hanya tidak ingin mengakuinya.

Begini Caranya Orang Bodoh Menulis Cerita Bersambung

Begini Caranya Orang Bodoh Menulis Cerita Bersambung

Photo by Andrew Neel on Unsplash

Praaaakkkkk!!!
Semua orang di ruangan itu menoleh kepadanya. Tapi, jauh sebelum suara kejatuhan itu tiba di telinga orang-orang yang ada di ruangan itu, dia sudah berdiri bersiap untuk mengangkat kembali kursi yang terjatuh. Pasalnya, ia sendirilah yang menjatuhkannya, dengan sengaja, untuk sebuah misi tersembunyi. Misi itu baru diketahui oleh orang-orang tiga tahun setelahnya. Kau tahu mengapa? Begini ceritanya:

Sepulang dari kampus, ia menyempatkan diri singgah di sebuah warung kopi depan kampus. Ia duduk sendiri. Dia sebenarnya tidak suka menyendiri, tapi bahkan dia sendiri lupa kapan terakhir ia duduk seperti itu dengan orang lain. Dia tidak pernah meragukan bahwa ia sangat membenci dirinya yang penyendiri, tapi mau tidak mau ia harus hidup dengan cara itu, tidak ada seorang pun yang bisa diajak olehnya untuk ngobrol.

Kesialan itu bermula ketika ia masih bayi berumur 24 bulan. Ketika itu, Ibunya bosan melihatnya menangis. “Bayi sialan! Kau hanya tahu menangis dan tidak memberitahu kami apa sebabnya. Jika kau lapar dan mau tetek ibu, bilang! Kalau kau mau main, bilang! Dasar bayi sialan! Kau kira ibumu ini malaikat yang tidak tahu marah?” Begitulah ibunya membentak dan menendangnya.

Sejak itu, dia mulai ragu akan bisa melanjutkan hidup dengan status anak dari wanita itu. Dia bersumpah kepada dirinya sendiri bahwa dia tidak ingin mengajak ibunya berbicara meskipun jika suatu saat ibunya mengajaknya berbincang. Dia berpikir, dengan cara itulah seorang bayi memperlihatkan bahwa ia juga bisa marah, seperti marah elegan dari orang dewasa.

Dia benar-benar dendam kepada ibunya. “Andai saja aku sudah besar, sudah bisa memegang pisau, aku akan memenggal lehermu, Ibu, atau setidaknya memotong puting susumu,” ketusnya dalam hati. Dia tidak pernah mengatakannya secara langsung meskipun suatu hari ia punya kesempatan untuk mengatakannya. Cerita itu ada pada bagian akhir, jadi kita jangan dulu membahasnya ya.

***

Suatu hari,…

(Bersambung!)

Bagaimana Kita Menghibur Diri Sendiri?

Bagaimana Kita Menghibur Diri Sendiri?

Ini cerita tentang si Kamu, nama lengkapnya, Kamu Sendiri bin Seorang. Bersama kekasihnya bernama Dia, nama lengkapnya, Dia Saja Sudah Cukup. Nama mereka keren-keren, bukan? Begini ceritanya:

Beberapa hari belakangan, Kamu menunggu seseorang datang menemui Kamu, atau menghubungi Kamu. Setiap satu jam, Kamu membuka email, aplikasi pesan, atau riwayat panggilan di ponsel Kamu, Kamu berharap ada pesan atau telepon yang masuk atas nama Dia. Tapi sia-sia.

Kamu mulai membayangkan banyak hal tentang Dia, misalnya, Dia mungkin sedang melakukan hal lain, sedang menyibukkan diri bersama temannya, atau sedang menyelesaikan segala urusan kuliahnya, atau sedang menghabiskan waktu dengan menonton film kesukaannya, atau memilih menghibur diri dengan menggambar sebagai hobinya, semua itu adalah usaha Dia melupakan seseorang yang namanya sama dengan nama Kamu (Tetapi hanya nama depannya saja yang sama: Kamu Berdua bin Mereka.)

Tapi si Kamu masih tetap menunggu Dia. Kamu tidak peduli pada kenyataan bahwa Dia mungkin tidak akan menemui Kamu atau mengabari Kamu lagi. Kamu sadar bahwa hal yang paling menyebalkan yang sedang Kamu lakukan saat ini adalah menunggu seseorang yang sama sekali tidak tahu bahwa “ada Kamu yang sedang menunggunya dengan setengah mati”, sedangkan Kamu sendiri tidak punya keberanian menemui atau menghubunginya secara langsung agar Dia tahu bahwa Kamu menunggunya, bahwa Kamu membutuhkannya.

Kamu akhirnya tahu, setahu-tahunya, bahwa betapa menyakitkannya menunggu Dia.

Setelah sekian lama memilih menunggu, Kamu akhirnya sadar bahwa tidak ada hal lain yang bisa Kamu lakukan selain melakukan hal yang sebaliknya: menghubungi Dia secara langsung atau menemui Dia. Tapi setelah Kamu hendak melakukannya, Kamu kembali memikirkannya, dan akhirnya menemukan kesadaran lain bahwa menghubungi orang-orang yang sebetulnya tidak ingin dihubungi hanya pekerjaan sia-sia. Pada saat itulah, Kamu memilih untuk tidak menghubungi Dia lagi. Tapi setelah memikirkanya sekali lagi, Kamu tahu bahwa hal itu tidak akan mengubah keadaan, lalu Kamu memilih mengirim pesan pendek seperti ini ke Dia:

“Aku bosan menunggumu, aku minta dua hal: Pertama, selesaikanlah segala urusan yang ingin kau selesaikan. Kedua, tidak usah lagi menghubungiku selama 45 hari ke depan. Thank you!”

Kamu mengirim pesan itu.

Sebetulnya, lewat pesan itu, Kamu hanya ingin menyampaikan sindiran ke Dia bahwa “aku sedang menunggumu, aku sedang membutuhkanmu di sini, hubungi aku!” Tapi sayangnya, si Dia tidak menghubungi kamu, bahkan tidak membalas pesan singkat Kamu. Kamu jadi tak karuan. Kamu membayangkan segala hal dan segala sesuatunya. Berusaha memikirkannya kembali. Membaca pesan singkat itu berulang kali dan berulang kali. Kamu jadi merasa bersalah.

Kamu akhirnya sangat merasa bersalah. Kamu menyesal mengirim pesan pendek itu. Kamu mengirim pesan yang lain, dengan harapan bisa menutupi rasa bersalah yang Kamu sendiri ciptakan:

“Aku minta maaf.”

“I’m so sorry!”

Setelah mengirim pesan singkat itu, Kamu merasa sedikit lebih mendingan, tapi sebetulnya Kamu tidak pernah baik-baik saja. Kamu duduk dan berpikir: aku mungkin sudah gila.


Sehari kemudian, si Dia yang Kamu tunggu mengabari Kamu atau menemui Kamu akhirnya mengirimi si Kamu pesan pendek lewat WhatsApp:

“Assalamualaikum.

Si Kamu membacanya. Diam. Memikirkan Dia sekali lagi. Dua jam setelahnya, Kamu memilih menghapus pesan singkat itu tanpa keinginan membalasnya. Kamu diam sejenak, berusaha dengan keras menemukan jawaban dari pertanyaan: bagaimana seharusnya kita menghibur diri sendiri? Lalu Kamu sadar bahwa Kamu gagal.

Kamu telah tersesat di antara keinginan dan ketakinginan.

Iman dan Analogi Buah Kelapa

Iman dan Analogi Buah Kelapa

Photo by Louis Hansel @shotsoflouis on Unsplash

Tepat pukul 04:20 di hari Jumat, 05 Agustus 1999, anak ketujuh dari pasangan Andi Kasmi dan Andi Madeaming lahir. Semua orang yang menyaksikan kelahiran anak tersebut tersenyum sebagai tanda syukur akan anugerah Tuhan yang tiada putusnya. Pada hari itulah saya lahir, dan mulai menyaksikan bagaimana kehidupan ini berjalan. Saya lahir dari rahim seorang wanita muslimah.

Pelafalan dua kalimat syahadat dan azan di telinga saya waktu itu, merupakan penanda bahwa saya lahir sebagai bayi yang beragama sekaligus sebagai simbol pengingatan kembali akan janji di alam primordial sebelumnya, seperti yang diakui dalam ajaran agama Islam. Saya yang masih dalam kondisi belum mampu berjalan, belum mengenali ibu-ayah, telah dikukuhkan sebagai manusia beragama. “Islam adalah agamaku,” kata Ibu beberapa tahun setelahnya. 

Seperti yang dialami oleh semua orang, saya diazankan sesaat setelah lahir lalu disunat ketika menjelang balig, semua itu dilakukan atas dasar keputusan orang tua saya. Saya dimasukkan dalam kategori beragama Islam karena orang tua saya beragama Islam juga. Mungkin, tidak berlebihan jika seseorang di kemudian hari menyebut saya sebagai Islam keturunan. Tapi tak apalah, karena kabar baiknya, nyaris semua orang mengalaminya—setidaknya setelah mereka baru saja lahir ke dunia mereka memeluk agama keturunan.

Meskipun dengan keluhan semacam itu, saya merasa bersyukur karena tidak ada pilihan lain bagi orang tua saya kala itu selain membaptis atau mengukuhkan saya sebagai orang beragama Islam. Meskipun di kemudian hari saya menyadari bahwa bersyahadat sebagai muslim, atau dibaptis sebagai kristen, atau diakui sebagai orang yang beragama apa saja, itu sama saja.

Pernah, sewaktu saya masih di Sekolah Dasar, saya bertanya kepada guru saya, bagaimana jikalau seandainya orang tua saya adalah non-Muslim, dan saya lahir dan dibesarkan dalam keluarga semacam itu, dan bahkan memeluk agama yang orang tua saya peluk yakni agama non-Islam misalnya, apakah saya masih akan diterima di surga? “Tidak,” kata guru agama saya dengan tegas.

Jawaban dan nasihat guru agama saya waktu itu, cukup membuat masa kecil saya membenci bahkan tak peduli dengan teman seumuran yang beragama non-Islam. Suatu hari, saya berkunjung ke kampung tetangga, di rumah teman, saya menyaksikan di teras rumah, orang-orang Kristen sedang beribadah atau tepatnya sedang bernyanyi lagu gereja, saya dan teman-teman mengejeknya dengan mengikuti caranya menyanyi dengan suara dijelek-jelekkan bahkan diplesetkan. 

Kami, sekumpulan anak-anak muslim di kampung itu sedikit nakal terhadap anak-anak non-muslim. Bahkan ketika kami bermain, kami pernah mengejek konsep iman mereka dengan nyanyian aneh-aneh. “Tuhan Allah, Tuhan Bapak, Tuhan Anak, Tuhan Ibu, Tuhan sekeluarga, ayo kita bermain bersama Tuhan. Tuhan suka bermain-main, bukan?” teriak kami bersama sambil tertawa.

Beriring waktu, beriring pula perubahan-perubahan. Perubahan sikap beragama saya bermula ketika orang tua saya berinisiatif memasukkan saya ke sebuah surau di kampung tetangga, di sanalah saya diajari bagaimana membaca Alquran serta tata cara melaksanakan ibadah serta bagaimana bersikap kepada sesama, baik muslim dan non-muslim. Jika diketahui mengejek atau melakukan hal buruk sesama teman, pastilah kami akan dihukum. Juga seperti semua anak-anak pada masa itu, saya juga mendapatnya pengajaran semacam itu di bangku sekolah.

Akhirnya, selama sekolah, saya mengalami transformasi pengetahuan juga pengalaman sehingga sudah lebih toleran terhadap orang lain yang berbeda agama. Dan titik paling ekstrem, adalah ketika saya memasuki dunia kampus, saya mengambil jurusan Filsafat Agama di UIN Alauddin Makassar. Cara berpikir filsafat membuat saya harus mengonstruksi ulang pandangan saya tentang iman dan agama.

Kadang-kadang, saya berpikir, apakah benar waktu di alam rahim, sebelum kita terlahir, kita benar-benar ditanya soal apakah kita akan memeluk agama Islam atau tidak, atau apakah kita akan lahir dalam keluarga Bugis atau tidak, atau apakah kita akan dilahirkan sebagai laki-laki atau perempuan, saya selalu memikirkannya, kadang-kadang Tuhan memang menyisipkan lebih banyak pertanyaan ke benak kita tentang diri-Nya. Dan anehnya, kita sama sekali takut mengatakannya atau memikirkannya meskipun sejenak.

Di semester awal, saya benar-benar mendapatkan sebuah pengalaman beragama yang baru. Ketika itu, filsafat saya jadikan sebagai hobi dalam memandang banyak hal, termasuk agama. Pertanyaan-pertanyaan radikal tentang agama pun sulit untuk terhindarkan. “Apakah kebenaran agama itu hanya satu? Mengapa Tuhan menciptakan banyak sekali agama? Atau apakah yang kita sebut sebagai Tuhan itu hanya ciptaan manusia semata? Mengapa semua orang harus beriman? Apakah yang kita maksud dengan iman?” dan pertanyaan lainnya.

Pernah suatu waktu, ketika saya pulang kampung liburan semester satu, saya bertanya kepada orang tua saya tentang iman dan agama. Dalam bahasa Bugis, saya bertanya kepadanya, “mengapa kita mesti salat, Ayah?” Ia diam. Saya mengulang pertanyaan, “mengapa kita harus salat, Ayah?” Ia mengangkat kepala, melihat saya. “Kita memang harus melakukannya,” jawabnya pelan dalam bahasa Bugis, “sebelum kita benar-benar bisa memahami maksud Tuhan memerintahkan kita.” Saya dengan cepat menyanggah, “bukankah jauh lebih bernilai jika kita mengetahui dulu apa maksudnya Tuhan memerintahkan kita salat, sebelum kita menunaikannya, Ayah?”

Waktu itu, kami di teras rumah, sebuah hari di Sabtu pagi. Ayah tidak langsung menjawab sanggahanku, ia diam. Beberapa saat berlalu, lalu memecahkan diamnya dengan menyebut namaku, seperti ada hal besar yang ingin ia sampaikan.

“Dengarkan,” sapanya sekali lagi seolah benar-benar memerintahkanku mendengarkan kalimatnya. Saya siap mendengarkan.

Ia berkata “Karena kita petani, kamu pasti tahu kan buah kelapa?!”

Saya mengangguk.

“Buah kelapa, awalnya hanya kulit, lalu dalam proses pertumbuhannya, Tuhan mengeraskan tempurungnya, memberi isi dan air, serta segala hal yang mengisi kelapa yang sebelumnya hanya kulit. Seperti itu pula iman, awalnya hanya iman, lalu kita dituntut untuk mengisinya dengan pengetahuan, dan secara terselubung, Tuhanlah yang sebenarnya mengisi pengetahuan kita.” jawab Ayah.

“Tapi jangan lupa, semua itu bermula dari iman, laksanakan dulu, kelak Tuhan mengisi pengetahuanmu tentang-Nya seperti Tuhan memberi isi pada buah kelapa yang awalnya tak berisi. Pada saat itulah pertanyaanmu tentang apa maksud-Nya memerintahkan kita untuk beriman akan terjawab, nak.”

Saya terdiam, memikirkan apa yang dikatakan oleh Ayah. Bahwa, Ayah saya—yang tidak sempat menyelesaikan Sekolah Menengah Pertama, yang gagap menggunakan bahasa Indonesia, mampu menjelaskan persoalan iman dengan menggunakan analogi alam sekitar yakni melalui penciptaan buah kelapa yang setiap hari dijumpainya di kebun. Saya benar-benar memikirkan jawaban tersebut setelahnya, sampai kembali lagi ke kampus untuk melanjutkan semester selanjutnya. 

Saya masih ingat, ketika itu, di awal semester yang baru, saya menceritakan perihal itu ke dosen saya, Guru Besar Filsafat Agama, Prof. Dr. Qasim Mathar MA. dan beliau mengatakan “kamu harus belajar menjadi hamba yang baik, jangan ingin jadi Tuhan yang hendak menghakimi iman orang lain, itu bukan tugasmu.” Selain itu, saya juga menyampaikan keluhan saya, bahwa semenjak memasuki jurusan Filsafat, saya merasa bahwa kebiasaan saya salat berjamaah tepat waktu kini telah berkurang, dan menurut saya, hal ini mungkin disebabkan karena saya terlalu menggeluti filsafat. Ia menjawab, “tidak, malah kamu sebenarnya makin saleh ketika malas beribadah karena menggeluti filsafat.”

Singkatnya, sikap dan cara saya menggauli agama senantiasa mengalami perubahan sedikit demi sedikit ke suatu arah yang bisa dikatakan sebagai iman yang dewasa, seperti menegaskan perkataan seorang filsuf, Heraklitus, bahwa tidak ada identitas yang final yang dimiliki oleh manusia, semua senantiasa mengalami perubahan (pantarei). Kita hanya menunggu kematian sebagai satu-satunya penyebab keterputusan dari perubahan tiada henti tersebut.

Dan yang paling penting, bahwa iman atau dengan apapun kita menamakannya, akan sangat dipengaruhi oleh banyak hal, seperti orang-orang di sekeliling kita—yang mungkin kita jumpai melalui lingkaran organisasi yang beragam ideologi, tokoh-tokoh berpengaruh dalam prosesi akademik kita, serta buku-buku yang kita baca serta pengalaman subtil dalam kehidupan keseharian kita. Semua itu mempengaruhi akan menjadi seperti apa kita sebagai manusia beragama.

Besok Ngampus, Cari Mampus

Besok Ngampus, Cari Mampus

Photo by Nastya Kvokka on Unsplash

Jika kau ke kampusku – jika kau ke kampusku – jika kau ke kampusku,” lidahmu akan kaku jika kau membaca kalimat itu terburu-buru, atau kau telungkup dulu di bawah tungku, atau kepalkan tangan kirimu dan masukkan ke mulutmu lalu eja kembali kalimat itu. Bagaimana? Berhasil bukan?

Kujamin berhasil, karena saat menulisnya, aku berdoa sebanyak dua puluh kali dua puluh (tidak usah memikirkan hasilnya berapa) bahwa semoga semua orang yang membaca kalimat itu, dapat mengalami keguguran, gugup, seperti gonggongan anjing penjaga gubuk, gugug! Semoga kau tergugu. Gugulah dengan teguh.

Maafkan pembukaan yang bodoh itu, aku sengaja menulisnya agar kau mengerti bahwa tulisan ini dibuat untuk menyalurkan kebodohanku sendiri. Kutegaskan, tidak ada yang ingin kusampaikan di tulisan ini, selain bukti kebodohanku atau hanya untuk mengantarkanku pada mimpi buruk saat aku tertidur. Jika kau sedang membacanya, kau hanya sedang membuang separuh waktumu, juga aku.

Bahwa besok adalah Senin, besoknya Selasa, lalu Rabu, jadi aku harus istirahat di Ahad malam ini lebih awal. Besok aku ke kampus, semoga semua mahasiswa termasuk aku bisa cuti kuliah karena alasan apa saja, semoga besok ada keajaiban sehingga semua mahasiswa tidak lagi kuliah.

Atau aku punya ide, bagaimana kalau kampus kita bakar saja? Setelah itu, semua mahasiswa akan sibuk mencari koran untuk membaca berita tentang seorang Rektor di sebuah Universitas yang alim menangis dengan air mata palsu karena tidak sempat melihat meja di ruangannya sebelum habis dilahap api.

Setidaknya, peristiwa semacam itu bisa membuat koran-koran di pinggir jalan laris manis. Atau, malah koran lokal yang punya kolom puisi bisa memuat puisi-puisi yang lebih berisi seperti puisi yang berjudul Kampusku Kebakaran, Aku Senang Sekali!

Ohya, jika kau mahasiswa, besok jangan lupa ke kampus, bawa dua korek, lebih juga tidak apa-apa. Kau akan ikut sama-sama membakar kampus kita, bukan? Jangan pernah berpikir bahwa ini lucu, karena tindakan berjamaah semacam ini adalah ibadah yang pahalanya melebihi pahala ibadah haji tiga kali di Gunung Bawakaraeng.

Jika kau berniat bergabung, hanya satu pesan, jangan lupa patahkan lidahmu terlebih dahulu agar kita bisa melakukannya tanpa banyak menghabiskan air liur. Sudah cukup banyak air liur yang dihabiskan oleh para dosen di dalam kelas, dan itu tidak pernah cukup untuk membuat kita semakin tolol.

Tapi, kusarankan agar kau tak berniat sama sekali untuk melakukannya. Jangan kecewa padaku, aku sudah ingin tidur. Selamat malam!

Aku Benci Azan Magrib

Aku Benci Azan Magrib

Photo by Hannah Troupe on Unsplash

Aku benci azan magrib. Ia suka merebut sebagian waktu membacaku dan memberiku kesibukan yang lain. Setiap kali suara persetan itu memasuki telingaku, aku harus mandi dan bergegas melaksanakan salat. Kuakui, kedua pekerjaan itu paling menyebalkan ketika aku sedang membaca buku di senja hari.

Tapi, untuk tidak melakukannya, aku takut pacarku akan memutuskan aku—kau jangan salah paham, aku biasa memanggil pacar, untuk siapa saja yang kuanggap berarti, termasuk Tuhan dan Buku. Meskipun kadang-kadang aku membuang Tuhan pada tempatnya, ketika kupikir aku malas memikirkannya sama sekali. Juga bahkan Buku, ketika ia ditulis oleh pembual. Kau bisa menemukan buku semacam itu di toko buku agama, biasanya diberi judul Siksa Neraka atau Jalan Pintas Masuk Surga, dan sejenisnya.

Tapi, sudahlah, aku harus mandi dan bersiap salat segera, sebelum aku mengutuk Tuhan dengan kata-kata yang jauh lebih banyak dari jumlah menit yang seharusnya kuhabiskan untuk dua pekerjaan jahanam itu.

Mandi dan salatlah. Semoga Tuhan masuk neraka!

Lebaran Kali Ini Aku Tidak Pulang

Lebaran Kali Ini Aku Tidak Pulang

kepada orang-orang yang sedih jika aku tidak pulang.

Photo by Annie Spratt on Unsplash

Hari ini, 2 Juni, kuhabiskan sebagian siang dan soreku melahap buku. Tak terencana, kutemui sepenggal kalimat seorang prosais di buku yang kubaca, lebaran selalu membawa orang-orang pulang. Aku sedih membacanya.

Lebaran kali ini aku tidak pulang. Aku tidak pulang. Tidak pulang. (Kuucapkan tiga kalimat itu berulang-ulang, hingga aku mengerti mengapa Tuhan menciptakan tenggorokan—agar kita bisa menggunakannya untuk menelan, termasuk kesedihan.

“Sudah dua tahun aku tidak merayakan hari raya di kampung halaman.” Kubayangkan suatu hari di masa akan datang, aku menulis kalimat sebelumnya dengan jumlah tahun yang berbeda, mungkin sepuluh tahun atau dua puluh tahun. Setelah itu, aku pasti akan pulang! Aku pasti merindukan semua yang ada di sana:

***

0.

Aku merindukan sungai yang tak jauh dari rumah, entah siapa yang memindahkannya kemari, ke antara mata dan pipiku, kurasa airnya mengalir lebih deras dari sebelumnya—ketika kami terakhir kali mengunjunginya sepulang sekolah atau dari rumah. Aku hampir lupa kapan persisnya.

1.

Aku merindukan tetanggaku: gadis kecil yang suka menangis, wanita tua yang belum menikah, dan seorang ibu yang menyeret kakinya saat berjalan karena strok, serta semua orang yang mengaku dirinya lebih sehat dan lebih bahagia dari yang kusebutkan. Aku merindukan mereka—semuanya.

2.

Aku merindukan semua teman-teman sekolah dulu. Mereka yang hingga hari ini tidak mau bunuh diri, meskipun kenyataan bahwa masa depan jauh lebih kejam daripada guru agama kami dulu, atau penjaga kantin di sekolah yang melarang kami mengutang, yang tidak segan-segan memukuli kami ketika mendapat laporan dari teman perempuan kami bahwa kami telah mencuri permen karet di toplesnya.

3.

Aku merindukan mereka: kakak-kakakku. Mereka yang pernah membuatku menangis dengan bentakan dan pukulannya karena aku jadi anak yang payah dan lemah dalam melakukan segala sesuatu.

4.

Aku merindukan mereka: adik-adikku. Mereka yang jadi tempatku paling aman untuk marah ketika aku kalah bermain kelereng dengan teman sekolah, mereka yang kusalahkan serta kusebut bodoh ketika salah melakukan perintahku.

5.

Aku merindukan saudara laki-lakiku: mulai dari dia yang ingin menikah lebih muda dengan janda, hingga dia yang mau jadi tukang cukur agar bisa memerintah presiden dengan mudah—semua imajinasi nakal kami waktu masih kanak-kanak menjadi ruang yang ingin sekali kukunjungi sekali lagi.

6.

Aku merindukan saudara perempuanku: mulai dari dia yang selalu berlaku seperti seorang ibu kepada kami, hingga dia yang menganggap Ibu kami sebagai miliknya seorang. Mereka yang selalu kudoakan agar dapat jodoh lelaki yang penyayang lagi tampan, agar kelak aku bisa punya kakak—setidaknya kakak ipar, yang lebih penyayang dan lebih tampan dari kakakku yang laki-laki.

7.

Dan di antara semua yang kusebutkan, tiadalah taranya kecintaan dan kerinduanku kepada dua seniman:

Aku merindukan ibuku, yang pandai menyembunyikan air sungai di matanya. Meski bencana alam selalu datang menghantui tubuh dan pikirannya. Ketika anak-anaknya bersedih, ibuku selalu jadi matahari, tempat kami mengeringkan pipi yang basah. Dan terlebih lagi, hanya kepada ibu, kita bisa melihat bulan lebih dekat lewat pelukannya.

Aku merindukan ayahku, yang pandai menyulap keburukan di dadaku menjadi kebajian, yang ketika aku melihat hantu, ia melihat Tuhan, yang ketika aku terjatuh ia datang dengan lengan. Sesunguh-sungguhnya pengakuan, kuakui, bahwa ayahku, adalah laki-laki paling gagah di muka bumi ini, meskipun sebagian rambutnya telah memutih.

Aku akan selalu merindukan dua seniman itu: ibu dan ayahku.

Penceramah

Penceramah

Photo by ibrahim abdullah on Unsplash

Senja hari, menjelang berbuka puasa, teleponku berdering. Kuangkat. Suara yang tidak asing memasuki telingaku. Berbalas salam lalu kami berbincang.

“Kapanki pulang Nak?”

“Tidak pulangka kayaknya lebaran tahun ini Puang.”

“Kenapa? Padahal mauka rencana suruhki jadi khatib pada saat salat idul fitri nanti Nak.”

***

Seperti beberapa lebaran-lebaran sebelumnya, om atau pamanku selalu menghubungiku beberapa hari sebelum lebaran. Menanyakan kapan kepulanganku. Tahun ini adalah tahun ketiga berturut-turut ia menanyakan hal yang sama. Ia ingin sekali mendengarku membawakan khotbah saat salat idul fitrisemenjak saya kuliah.

Salah satu rutinitas yang harus kutunaikan jika aku pulang kampung saat bulan Ramadan adalah berceramah, seperti Ramadan-ramadan sebelumnya, kecuali dua Ramadan terakhirRamadan tahun ini dan tahun lalu.

Kutebak, hal ini dikarenakan aku kuliah di UIN Alauddin. Kampus Islam, kata orang. Ya, siapapun bisa menebaknya. Universitas InsyaAllah Negeri atau disingkat UIN. Kampus agama, kata sebagian orang lainnya. Itulah sebab, nyaris semua dari kamiyang kuliah di UIN selalu diperintahkan untuk naik ke mimbar bicara soal agama.

Suatu waktu, saat aku pulang kampung, aku disuruh naik ke mimbar memberikan ceramah kepada jamaah tarawih. Aku mengangkat tema soal ‘eudamonia’, kukutiplah Aristoteles dan para filsuf yang lain, yang asing dari kepala jamaah, juga tentunya beberapa ayat Alquran dan Hadis biar terdengar alim. Di akhir ceramah, ingin sekali kuberikan kesempatan kepada jamaah untuk bertanya, tapi kuurungkan niatku.

Aku ingin sekali melakukannya, karena kupikir, hal ini menjadi keresahanku beberapa tahun lamanya, mungkin hingga sekarang, mengapa para penceramah di mimbar-mimbar tidak pernah membuka sesi tanya jawab kepada jamaahnya? Atau mengapa jamaah tidak boleh memberikan intruksi kepada penceramah saat ia terlalu lama berbicara, saat ia terlalu sok tahu, atau saat ia terlalu menakut-nakuti?

Semoga kelak, siapa saja yang akan jadi penceramah mampu melakukannya dengan baik. Setelahnya, orang tuaku menyampaikan kepadaku bahwa mereka mendapatkan pengakuan bahwa ceramahku malam itu sangat dinikmati oleh jamaah, meskipun saya ragu jika mereka memahaminya. Aku aku juga tidak boleh berpikir seperti itu.

Aku membayangkan, di masjid atau di atas mimbar, penceramah memberikan kesempatan kepada jamaah untuk mengajukan pertanyaan atau sanggahan, kulihat jamaah melempari penceramah dengan pertanyaan-pertanyaan atau malah jamaah jadi demam karena tidak punya pertanyaan apa-apa atau takut dianggap bodoh karena bertanya.

Le(m)baran Bu(ras)ku

Le(m)baran Bu(ras)ku

Photo by Andrik Langfield

Hari ini, adalah hari di mana rinduku jadi semakin lembab dari hari-hari sebelumnya. Bagaimana tidak jikalau kemungkinan untuk berlebaran idul fitri bersama orang tua tercinta amat kecil? Why? Tak seharusnya kuceritakan perihal memalukan ini kepadamu. Tapi semoga ini bisa mengobati sedikit dari kekesalanku.

Aku kehabisan uang. Orang tuaku mengirimiku recehan untuk tiket pulang tapi telah kuhabiskan untuk membeli buku yang kuidamkan beberapa bulan silam. Tidak kusampaikan soal ini kepadanya. Aku hanya akan menyampaikan kenyataan lain bahwa aku sedang sibuk mengerjakan tugas kuliah, sehingga tidak sempat pulang, juga tentu karena memang aku sedang melakukannya.

Apakah aku berbohong? Aku mencintai orang tuaku, dan kuanggap membohongi kedua orang itu bukanlah ciri anak yang baik. Apakah aku bukan anak yang baik? Semua orang di dunia ini, punya keburukannya sendiri, percayalah! Tetapi bukan berarti aku melakukan itu kepada orang tuaku sebagai sebuah kesengajaan. Tidak. Aku sangat merindukan mereka, tapi aku tidak punya pilihan lain.

Kemarin, kakakku memberiku pembeli tiket, atau anggap saja itu THR, tapi tidak kugunakan sebagaimana mestinya. Sebagian besar kusimpan baik-baik untuk kugunakan keperluan yang lebih mendesak suatu hari di masa-masa sulit. Selebihnya, kubelikan tisu, hanya untuk persiapan jika suatu ketika pipiku basah. Aku tahu pada saat kapan hal itu rentan terjadi, jadi aku siapkan payung sebelum hujan.

Malam ini aku menerima telepon darinya—my mom. Kami berbicara seolah-olah akan bertemu ketika lebaran nanti. Tapi, “aku baru akan pulang saat liburan semester datang,” gumamku, “maafkan aku, ma'”. Ibuku memang tidak menyelesaikan sekolahnya sampai di Sekolah Menegah Pertama, tapi kujamin, dia adalah satu-satunya orang yang paling piawai memahami perasaanku. Ia membaca pikiranku, lalu berbisik “Jika uang yang kukirimkan kepadamu tidak cukup untuk mengantarmu balik kemari nak’, pilihlah sesuai keinginanmu. Kami tentu merindukanmu di sini, tapi kuharap kau bisa mengerti tentang kesabaran dari kejadian semacam ini. Jaga kesehatanta’.”

“Ma’,” kataku,“kupake beli buku uang yang kita kirimkanka’, mungkin tidak bisaka pulang tahun ini lebaran. Lagian, adaji dengku di sini bisa kutemani kalau butuhka seseorang.”

“Iyye’ nak’,” ibuku terdiam sejenak, kutebak, ada sesuatu yang lain di bola matanya,“sabbaraki’ nak, kalau teman-temanmu lebaran dengan baju barunya, kamu hanya bisa lebaran dengan bukumu. Sabbaraki’ nak’, janganki lupa bersyukur dan sabar.”

“Iyye Ma’,” jawabku menenangkan. “Ke mana pale Tetta Ajiku, Ma’?” tanyaku kembali berusaha mengalihkan pembicaraan yang pilu, yang barusan kubuat.

“Belumpi pulang nak’,” ia kembali mendiamkan sedihnya sejenak, seperti air liurnya sedang menjanggal tenggorokannya, atau karena rindu jadi rumit ditawar saat malam hari, “hari ini katanya na datang.”

Aku baru ingat, bahwa ayahku, yang biasa kupanggil ‘Tetta Aji” itu, sebulan yang lalu meninggalkan rumah. Ia mengikuti salah satu kegiatan sebuah gerakan dakwah di kampung kami. Kegiatan dakwah itu berupa berjalan ke satu kampung ke kampung lainnya untuk berdakwah. Setelah berkali-kali tidak diizinkan oleh kami—anak dan istrinya—untuk ikut gerakan itu, akhirnya, menjelang bulan Ramadan lalu, ibu kami mengizinkan. Dan kabarnya, ia belum juga pulang. Semoga besok sudah tiba di rumah dengan selamat.

Aamiin.

Lalu bagaimana denganku di sini? Aku akan merayakan le(m)baran bu(ras)ku di sini—lebaran buras atau lembaran buku. Akan kurayakan dua-duanya sekaligus. Semoga pahitnya dapat kutelan.