Disimak dan disimpulkan dari pembicaraan Cania Citta Irlanie di saluran YouTube.
Jerome Kagan dalam On Being Human Why Mind Matters mengungkapkan bahwa manusia adalah satu-satunya spesies yang hidup dalam dua realitas: schemata dan kata. Realita yang pertama, schemata, adalah segala sesuatu yang ada dalam dunia realitas fisik yang terindrai, misalnya: warna, rasa, suara, aroma, tekstur, dan sebagainya. Realita schemata adalah sebuah realita juga bisa dialami oleh spesies lain seperti hewan yang juga hidup dalam realitas fisik.
Realita yang kedua, adalah kata atau bahasa (verbal non fisik). Sebuah cara komunikatif yang kita lakukan dalam tiga konteks. Konteks pertama, penilaian. Verbal yang digunakan untuk mengungkapkan sebuah penilaian sehingga terbentuk kata-kata semacam: tinggi-pendek, baik-buruk, menyenangkan-menyedihkan, dan sebagainya. Konteks kedua, schema. Verbal yang digunakan untuk mendeskripsikan pengalaman kita dalam dunia schemata (seperti yang dijelaskan di atas) atau untuk menamai atau mendefenisikan benda-benda yang kita indrai (observable objects) seperti buku, bunga, mobil, dan sebagainya. Konteks ketiga, abstraksi. Verbal yang kita gunakan untuk mendeskripsikan pengalaman kita di alam ide. Sesuatu yang tidak ada di alam fisik seperti demokrasi, keadilan, kesetaraan, hak, kewajiban, dan lain sebagainnya.
Maksud dari penjelasan di atas adalah manusia sebagai mahluk bahasa hidup dalam dua dunia itu: schemata dan kata. Meski berbeda, tetapi, kehidupan realitas fisik manusia (schemata) akan sangat menentukan verbal yang diciptakan dan digunakannya (kata). Misalnya, sebuah kelompok masyarakat yang tidak pernah mengalami sebuah kondisi ‘tanpa cahaya’ tidak mungkin mengetahui atau menciptakan kata ‘gelap’. Maksudnya, dunia bahasa yang disebut schemata juga merupakan tahapan awal dalam pembentukan kata. Meskipun keduanya saling tertaut tetapi kenyataannya keduanya bekerja di tempat yang berbeda dengan cara yang berbeda pula.
Modernitas dan Anak-Anak; sebuah catatan pendek selepas membaca buku Telinga Palsu.
Selesai menyeduh kopi di pagi hari, saya duduk menemani tetangga kamar (kakak sepupu saya) di sofa. Sembari mengelus dan mengutak-atik gawainya, ia menawari saya mencoba gim baru yang sedang ia mainkan: mobile legend. Saya menolaknya dengan halus. Tentu dengan kalimat yang sopan. (Bukankah kita harus selalu sopan kepada saudara? Ahh, basa-basi!)
Ajakannya yang bernada memerintah itu, mengingatkan saya pada masa kecil. Masa di mana tak ada mainan-mainan canggih untuk hanya menghabiskan waktu sehari-hari. Masa di mana kita menciptakan permainan kita sendiri bersama teman-teman masa kecil kita.
Beda halnya dengan sekarang, kita diciptakan melalui permainan yang semakin canggih. Manggut-manggut di depan layar yang seakan-akan itu adalah dunia nyata, dan mungkin pada titik ekstase kita akan menganggap ruang yang ada di layar itu adalah surgawi zaman kiwari. Dan layar kecil itu akan menjadi sangat membahagiakan meskipun segalanya hanyalah ilusi yang menjerat kita pada kehampaan nyata.
Lihatlah, bagaimana anak-anak di kota, khususnya di Makassar, dalam mencari ruang bermain. Mereka selalu dikalahkan oleh kejamnya kota yang semakin hari semakin tak menyisakan ruang bermain untuk mereka. Sekali lagi lihatlah, bagaimana sekelompok kecil anak di kota ini bermain di jalan, di jembatan, di bantaran sungai tanpa menyadari bahwa jalanan dan jembatan itu adalah ancaman tersendiri bagi dirinya sendiri.
Dan bagi orang tua atau sebagian anak yang menyadarinya pun akhirnya bermain di dalam kamar, di atas sofa, di mal, di toilet, dan di ruang lainnya bersama dengan gim melalui perangkat teknologi seperti smartphone, laptop, telepon seluler, atau PlayStation.
Fakta ini membuat saya menjadi sangat prihatin, apalagi setelah membaca ramalan Richard Louv dalam bukunya The Last Child in The Woods (2013), bahwa anak-anak yang jarang bersentuhan dengan lingkungan dan alam sekitar akan mengalami gangguan kesehatan mental dan fisik. Ramalan ini disebut oleh Richard Louv dengan nature deficit disorder: sebuah gangguan karena kekurangan pengalaman langsung atau kontak langsung dengan alam.
Adapun beberapa dampak nature deficit disorder sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa literatur psikologi lingkungan yakni obesitas dan kurangnya daya tahan tubuh terhadap penyakit, kurang kreatif, peta kognitif yang lemah, kecenderungan agresif pada anak, gangguan psikologis (stres dan autis), dan sifat apatis terhadap lingkungan. Terlebih lagi, jika kita amati berbagai fenomena mencengangkan yang ada di perkotaan tentang anak-anak yang melakukan aksi bunuh diri dan aksi kekerasan, hal ini mengafirmasi apa yang dikatakan oleh Richard Louv di atas.
Namun beda halnya dengan permainan anak-anak di desa - permainan masa kecil saya, seperti permainan kelereng, petak umpet, layang-layang, perang-perangan, dan tali-temali, semua permainan ini memiliki makna filosofis yang dapat menanamkan sikap positif seperti keberanian, kreativitas, kebersamaan, komunikasi, sportifitas, dan kekuatan fisik.
Dan setelah beranjak ke kehidupan kota, tidak lagi saya temukan permainan klasik semacam ini. Hal ini disebabkan oleh serangan teknologi yang merajalela. Teknologi yang dalam hal ini benda-benda yang diciptakan oleh manusia dengan tujuan meringankan pekerjaan manusia, namun malah di sisi yang lain menimbulkan masalah atau efek yang jauh lebih urgen untuk diatasi.
Menurut Anis Kurniawan dalam tulisannya Di Kota Ini, Anak Kita Bermain Api bahwa selain dikarenakan oleh teknologi, degradasi ini boleh jadi disebabkan oleh minimnya ruang bermain. Dalam tulisan tersebut, Anis juga sempat mengutip sebuah studi yang dilakukan oleh Voice of Amerika bahwa pada tahun 2012, Voice of Amerika mengadakan studi perbandingan antara ruang bermain anak di Indonesia dan Amerika. Faktanya, luas ruang bermain di Indonesia rata-rata hanya 2.000 meter persegi per anak, sedangkan di Amerika dan Eropa tersedia ruang dengan luas sekitar 10.000 meter persegi per anak.
Mengapa perhatian akan hal ini penting? Dikarenakan, generasi - dalam hal ini anak-anak, adalah cerminan masa depan sebuah bangsa. Kualitas kehidupan masa depan sebuah bangsa ditentukan oleh kualitas anak masa sekarang. Bukankah anak-anak adalah penerus cita-cita mulia bangsa?
Kemarin saya menjelajahi lemari buku Mark Manson di rumah pribadinya. Saya menemukan dokumen menarik dan membacanya. Dokumen tersebut berkisah tentang segala hal yang bijak dalam dunia hubungan kekasih dan seksualitas. Dari banyak hal yang saya baca, saya ingin menuliskan satu perihal yang menandakan bahwa saya punya oleh-oleh yang bisa saya bawa pulang ke rumah saya sendiri. Dan oleh-oleh ini saya peruntukkan untuk tamu saya yang telah dan atau akan berkunjung ke rumah saya, hari ini dan esok hari.
Sebenarnya ada banyak hal yang memengaruhi isi kepalaku dari Mark Manson. Tapi biarlah. Jika kalian penasaran siapa Mark Manson bacalah buku pertama yang berjudul The Subtle Art of Not Giving a Fuck. Buku yang tahun ini diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat.
Dalam dokumen yang saya temukan itu, Mark Manson mengutip Milan Kundera perihal pria pecinta wanita (womanizers). Menurut Milan Kundera dalam buku The Unbearable Lightness of Being, ia berpendapat bahwa ada dua jenis pria pecinta: Pertama, pria yang mencari wanita yang sempurna dan tidak pernah dapat menemukannya. Kedua, pria yang meyakinkan diri bahwa setiap wanita yang mereka temui sudah sempurna.
Dari dua jenis tersebut, Milan Kundera memberikan indikasi pada kita (para pria pecinta) untuk memilih antara membuat pasangan kita menjadi sempurna dengan “memperbaiki” atau mengubahnya. Ataukah memilih menipu diri kita sendiri dengan pikiran bahwa pasangan kita sudah amat sempurna.
Saya pikir, bagi yang memahami, pasti akan memilih pilihan yang kedua dari kedua pilihan tersebut: memilih berjalan bersama seseorang yang memiliki kekurangan dan saling menyempurnakan.
Pilihan itu lahir dari beberapa pertimbangan: Pertama, setiap orang memiliki kekurangan dan ketidaksempurnaan. Kedua, tidak ada seorang pun yang bisa memaksa orang lain untuk berubah.
Ukuran yang paling tepat untuk perasaan cinta kita pada kekasih adalah bagaimana perasaan kita terhadap kekurangannya. Jika kita menerima atau bahkan mencintai kekurangannya dan juga sebaliknya dia menerima dan mencintai kekurangan kita maka itu tanda keintiman sejati.
Tidak ada keintiman sejati selain penyatuan diri. Saling menyempurnakan pada kekurangan. Sebagaimana sejarah manusia yang digambarkan dalam bentuk mitos oleh Plato dalam bukunya Simposium. Plato menulis bahwa manusia pada awalnya berkelamin dan utuh. Tidak ada pria atau wanita melainkan mereka satu. Mereka tidak merasa kekurangan, tidak ada ketakutan, dan mereka kuat, sangat kuat sehingga mereka bangkit dan menantang para dewa, melawan pencipta mereka sendiri.
Karena perihal kekuatan dan ketangguhan ini, menimbulkan masalah bagi para dewa. Namun di sisi yang lain para dewa tidak ingin benar-benar menghapus umat manusia karena mereka tidak akan memiliki makhluk yang bisa dikuasainya. Sehingga salah satu keputusan yang diambil oleh dewa Zeus adalah membagi manusia menjadi dua.
Setiap manusia menjadi dua: seorang pria dan seorang wanita. Ia semacam hukuman kepada manusia atas pembangkangan mereka. Hukuman untuk menghabiskan eksistensi fana yang amat singkat hanya untuk mengembarai dunia mencari separuh dari dirinya yang lainnya. Itulah manusia, sepotong dan setengah jiwa yang akan membuat mereka merasa utuh dan kuat lagi.
Inilah yang seharus dicari oleh dua jenis manusia: pria dan wanita, yakni mencari keutuhan dan kesempurnaan. Tapi yang perlu diperhatikan adalah keutuhan atau keintiman sejati ini datang bukan dari pertemuan dua kesempurnaan, tapi dua ketidaksempurnaan yang dipertemukan.
Mark Manson juga mengutip Alex Gray, seorang seniman yang pernah mengatakan bahwa, “Cinta sejati adalah ketika dua patologi manusia saling melengkapi satu sama lain.” Cinta, menurut definisi itu: bermakna gila dan irasional. Dan cinta terbaik bekerja ketika irasionalitas kita saling melengkapi satu sama lain dan kekurangan kita saling berhubungan dan saling melengkapi satu sama lain.
Mungkin saja kesempurnaan atau kelebihan kita yang menarik satu sama lain. Tapi tetaplah, ketidaksempurnaan kita yang memutuskan apakah kita tetap langgeng bersamanya atau tidak. Maka sebagai akhir, cintailah kelemahan, kekurangan dan ketidaksempurnaan pasanganmu!
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa cinta dan kasih sayang…”
QS.30:21.
Dalam Islam, seksualitas yang dilandasi naluri cinta dan kasih sayang (perkawinan) adalah manifestasi yang luhur dari kehendak Ilahi. Bahkan dalam tradisi Sunah, perkawinan adalah tuntunan hidup yang hakiki. Kehidupan tanpa perkawinan dipandang sebagai kehidupan di luar Sunah dan cenderung kepada kejahatan.
Pandangan Islam tentang seksualitas ini menabrak telak pandangan dan rumusan moral tradisional negatif–Barat Klasik. Dengan radikal, para moralis tradisional tertentu memandang seks sebagai sesuatu yang pada dasarnya buruk. Menurutnya, segala bentuk seksualitas adalah kotor dan kekotoran itulah yang menjadi karakteristik orang-orang berdosa.
Di periode Klasik, pandangan moralitas tradisional negatif ini marak di masyarakat. Sebagaimana dinukilkan oleh seorang filosof Barat, Bertrand Russel dalam buku Marriage and Morals, bahwa:
“Di berbagai tempat di belahan bumi ini, jauh dari pengaruh Kristen dan Budha, ada ordo-ordo pendeta lelaki maupun perempuan yang bersumpah untuk hidup menunggal. Di kalangan Yahudi, sekte Essena menganggap semua hubungan seks sangat kotor. Pandangan ini nampaknya telah berpengaruh di zaman kuno. Sesungguhnya terdapat suatu kecenderungan umum untuk hidup membujang dalam empirium Romawi. Ketika Epicurianisme memudar, muncullah Stoicisme menggantikannya di kalangan orang Romawi yang terpelajar … Kaum Neo Platonis hampir sama skeptisnya dengan orang-orang Kristen. Doktrin yang mengatakan bahwa materi adalah jahat telah tersebar dari Persia sampai ke Barat, diiringi kepercayaan bahwa semua hubungan seks adalah kotor. Ini adalah pandangan Gereja, walaupun tidak dalam bentuknya yang ekstrim…” (Bertrand Russel, Marriage and Morals, h. 31-32).
Akhirnya, pandangan seksual negatif ini mempengaruhi masyarakat khalayak selama berabad-abad lamanya. Sehingga dalam kurung pengaruh inilah bermunculan penolakan segala bentuk nilai dan prilaku seksual termasuk berpasangan hidup: perkawinan.
Kebanyakan asumsi dasar akan pandangan ini adalah adanya hubungan akut antara nafsu dengan seksual. Nah dalam asumsi ini, kalangan orang-orang Kristen (Gereja dan sistem kependetaannya) terinspirasi oleh kehidupan Yesus yang membujang. Sehingga mereka memandang seks atau perkawinan hanyalah pengotoran diri, pelepasan dari kesucian dan kesalehan.
Salah satu kalimat paling energik dan berpengaruh pada pandang tersebut disabdakan oleh Santo Jerome sebagaimana Murtadha Muthahhari mengutip Bertrand Russel, Marriage and Morals, bahwa “gereja menebang pohon perkawinan dengan kapak kebujangan”.
Berjalannya waktu, pandangan seksualitas Barat ini kemudian semakin mengalami pergeseran yang kemudian dalam pandangan seksualitas Barat Modern malah menjadi berbalik 180 derajat. Gereja yang dulunya tidak merestui perkawinan kemudian mulai membenarkan tindakan itu. Membenarkan perkawinan dengan tujuan melenyapkan perzinaan antara lelaki dan perempuan.
Sebagaimana yang lagi-lagi Murtadha Muthahhari kutip penukilan Russel pada Marriage and Morals di halaman 35, bahwa Kristen, lebih khususnya lagi Santo Paulus, memperkenalkan suatu pandangan yang sama sekali baru tentang perkawinan, bahwa perkawinan itu bukan bertujuan, utama untuk melahirkan anak, melainkan untuk mencegah dosa zina.
Jauh dari pandangan seksual tradisional negatif, Islam telah menempatkan seksualitas sebagai tuntutan dalam hidup bermoral. Sebagaimana disahkan di dalam berbagai kitab ditemukan banyak hadis dan riwayat tentang pandangan Nabi yang pro akan wanita dan seksualitas.
Semisal, sebuah kisah yang ditulis oleh Murtadha Muthahhari di bukunya itu: salah seorang sahabat Nabi, Utsman bin Mazh’un, mengabdikan dirinya semata-mata kepada ibadah; setiap hari berpuasa dan setiap malam bangun untuk salat. Dengan perlakuan itu, istrinya melaporkannya pada Nabi. Beliau memperlihatkan reaksi tidak senang dan segera menuju tempat di mana sahabatnya itu berada, lalu ia berkata:
“Wahai ‘Utsman! Ketahuilah, Allah tidak mengutus aku untuk menganjurkan hidup kebiaraan. Syariatku adalah untuk mendorong dan memudahkan pemenuhan hajat manusia yang alami. Aku sendiri mengerjakan salat, berpuasa, dan melakukan hubungan suami istri. Karena itu, mengikuti aku dalam Islam berarti menyesuaikan diri dengan sunah yang kugariskan, yang meliputi tuntutan bahwa laki-laki dan wanita harus kawin dan hidup berkasih sayang secara harmonis.”
Bagi Murtadha Muthahhari, pandangan Islam tentang seksualitas di atas dengan jelas memberikan jawaban bahwa seksualitas tidak selamanya mengandung kejahatan dan bernilai buruk. Pandangan tentang seksual yang jahat dan bernilai buruk itu, bagi Islam, hanyalah tempelan para pemikir tradisional negatif dalam proses penumbuhan moralitas religius di Dunia Barat, sambung Murtadha Muthahhari.
Nah, sekarang, Dunia Barat telah berbalik 180 derajat dari moral tradisional ekstrim yang dijelaskan di atas. Kini Barat mengimani kebebasan seksual (seks bebas) sebagai bentuk moralitas modern. Moralitas ini diklaim sebagai moralitas yang baru atas dasar pertimbangan filosofis dan ilmiah.
Namun, menurut Murtadha Muthahhari baik pandangan seksualitas klasik (tradisional negatif) maupun seksualitas modern (kebebasan seks) tidaklah menuai nilai positif bagi moralitas masyarakat masa kini. Bahkan sebaliknya, meruntuhkan benteng moralitas religius.
Lantas apakah pandangan moral seksual Islam juga sepadan dengan pandangan moral seksual Barat Modern? Jika tidak, bagaimana Islam menawarkan solusi bagi persoalan ini? Bagaimana mensikronisasi perihal cinta, seks, dan etika? Selanjutnya silakan baca bukunya Murtadha Muthahhari, Etika Seksual Dalam Islam. Buku tersebut merupakan terjemahan dari Sexual Ethics in Islam and in The Western World.
“Praaaaaakk,” kayu dengan lebar kurang lebih lima sentimeter mendarat di atas meja persegi panjang. Getarannya membuat pulpen di atas meja terplanting jatuh ke lantai, penutup pulpen tersebut melepaskan diri. Dan juga para siswa, mereka seperti nyaris di tabrak mobil truk, menganga dan terdiam seperti mengalami kematian.
“Kok kamu bisa masuk sekolah di sini, sedang menulis namamu saja tidak becus” bentak Qasim selaku seorang guru kepada siswanya, Baco—siswa di sekolah menengah pertama (SMP) yang tidak tahu menulis namanya dengan benar.
Walhasil, setelah kejadian itu, Qasim didatangi polisi karena tuduhan menzolimi muridnya. Ini adalah ulah Baso yang melaporkannya ke polisi dengan dalil pelanggan Hak Asasi Manusia (HAM) sebagaimana yang Baso pernah lihat di siaran berita televisi suatu hari. Dengan usahanya itu, akhirnya Baso bisa kembali bersekolah dengan nyaman tanpa ada teguran karena masih buta huruf.
Menikmati masa liburan semester ini, saya teringat tulisan saya di liburan semester sebelumnya. Tulisan tersebut berjudul Pendidikan Ketakutan dan Akhir Semester. Dalam tulisan itu, setidaknya saya ingin menampilkan bahwa pendidikan kita hari ini menderita penyakit. Baik penyakit ketakutan maupun penyakit menakutkan. Penyakit ketakutan dapat dilihat ketika akhir semester telah tiba (sebagaimana yang telah ditampilkan di tulisan tersebut), dan penyakit menakutkan (sebagaimana yang akan ditampilkan di tulisan ini).
Berbagai penyakit menakutkan yang diderita oleh pendidikan kita merupakan penyakit yang lahir dari realita dunia pendidikan yang sifatnya ironis. Pendidikan yang seharusnya menciptakan nilai kepantasan hidup, ketentraman dan kesejahteraan, malah terkadang berperang sebagai tempat lahirnya benih-benih ketimpangan, dan kebobrokan nilai kemanusiaan. Hal ini disebabkan oleh hasil pendidikan yang salah kaprah. Pendidikan yang menakutkan.
Dalam kasus ini, saya teringat pernyataaan Nurhady Sirimorok ketika membawakan materi Etnografi di kelas kepo, bahwa menurut hasil pengamatannya, mahasiswa di sulawesi selatan khususnya mahasiswa di Makassar, tidak tahu menggunakan teori. Sehingga, lanjut Nurhady, ketika mahasiswa Makassar tampil berbicara di depan umum akan terkesan seperti penghafal teori atau pamer teori.
Sesari yang saya tangkap dari pernyataan itu bahwa pendidikan di dunia kampus yang formalnya mengajarkan ilmu pengetahuan—termasuk teori, kepada mahasiswa tidaklah becus. Entah, apakah kata becus mampu menginterpretasikan rusaknya produk dari pendidikan seperti ini. Di sisi lain, pendidikan formal juga banyak diserang dengan fakta-fakta yang menggelikan. Sehingga peran positif dunia pendidikan tampak paradox dalam realitas masyarakat.
Semisal, fakta menarik tentang Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti. Konon Susi tidak memiliki gelar karena bahkan tuk menamatkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA) pun tidak. Namun dengan kegigihan dan pengetahuan yang ia dapatkan dari kontemplasi hidup mengajarkan hal bermakna bagi kehidupannya. Pada tataran ini, jika pendidikan yang tidak menemukan kesejatiannya, pendidikan yang kehilangan fitrahnya, hanya akan menjadi penyakit.
Lihatlah, bagaimana sebagian pemimpin kita yang katanya berpendidikan tetapi dengan pendidikannya membuatnya hina di mata saudaranya. Sungguh sebuah ironi.
Fakta mengelikan di atas memberikan konklusi pada kita untuk kembali merenungi letak kesalahan pendidikan kita. Jika kita mungkin tidak ingin lagi berpikir keras, cara terbaik untuk itu adalah dengan tidak bersekolah, dengan tidak kuliah. Namun persoalannya adalah apakah probabilitas akan pencapaian makna hidup akan semakin tinggi dengan mengambil jalan alternatif yang namanya sekolah atau kuliah? Mungkin ya, mungkin juga tidak—namanya probabilitas.
Seorang penulis Brazil yang bernama Paulo Coelho, pernah menulis catatan pendek tentang hal yang senada dengan persoalan ini, ditulisannya yang berjudul Arti Penting Sebuah Gelar. Tulisan tersebut termuat di dalam bukunya: Seperti Sungai yang Mengalir: Buah Pikiran dan Renungan. Dalam tulisan tersebut, Paulo menceritakan seorang tukang cukurnya yang bekerja siang-malam supaya anak perempuannya bisa lulus universitas dan memperoleh gelar. Akhirnya anak itu lulus, lalu mencari lowongan kerja ke mana-mana, dan akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai sekretaris di sebuah pabrik semen. Meskipun hanya di pabrik semen, tetap saja tukang cukurnya tersebut berkata dengan sangat bangga bahwa anak perempuannya punya gelar.
Bukan hanya itu, Paulo Coelho kemudian melanjutkan bahwa sebagian besar temannya, dan sebagian besar anak-anak mereka mempunyai gelar. Namun sayangnya, gelar yang mereka miliki tidak memutlakkan ia berhasil mendapatkan pekerjaan yang mereka inginkan. “Sama sekali tidak,” tulis Paulo Coelho.
Lebih tepatnya lagi, Paulo menuliskan bahwa mereka—para mahasiswa—masuk universitas karena seseorang berkata bahwa ‘agar bisa mendapatkan tempat yang mapan di dunia ini, orang harus mempunyai gelar pendidikan’. Sehingga dengan paradigma seperti inilah, kata Paulo, dunia ini kehilangan kesempatan untuk memiliki orang-orang yang sebenarnya adalah tukang-tukang kebun yang hebat, tukang-tukang roti, pedagang-pedagang barang antik, pematung-pematung, dan penulis-penulis.
Dan akhirnya, sebuah pertanyaan kritis yang dilayangkan Paulo Coelho kepada pembacanya bahwa: Para dokter, insinyur, ilmuwan, dan pengacara memang perlu belajar di universitas, tetapi apakah setiap orang juga perlu berbuat demikian? Apakah setiap orang harus dan wajib menjadi dokter, insinyur, ilmuwan atau pengacara? Lalu siapa yang akan menjadi petani?
“Selalu ada penjahat dalam setiap kisah cinta. Dan dalam kasus saya, itu adalah toilet.”
Kalimat di atas dikutip dari sebuah adegan dalam film India yang berjudul Ek Prem Kathe (Toilet). Film ini berkisah tentang kisah cinta pemuda India yang mencintai wanita yang berbeda tradisi dengannya. Salah satu tradisi yang paling berbeda tersebut adalah tradisi dalam buang air besar.
Dalam kehidupan kita—masyarakat umum di Sulawesi Selatan khususnya Makassar, jika kita merasa ingin buang air besar, kita tinggal masuk ke toilet dan melegakannya di sana. Sama halnya tradisi perempuan berpendidikan India di film tersebut. Di rumah orang tuanya, ia juga memiliki toilet seperti toilet pada umumnya.
Namun berbeda halnya dengan kebiasaan atau adat istiadat lelaki yang menjadi suaminya. Ia memiliki tradisi yang berbeda terutama dalam hal toilet. Dalam tradisi lelaki tersebut, untuk membuang air—buang air besar (BAB) dan buang air kecil (BAK), haruslah di tempat terbuka. Dalam artian toilet mereka adalah lapangan terbuka, hutan, pepohonan, dan semak-semak. Toilet ini tidak memiliki pintu dan dinding. Yang ada hanyalah gelap yang bisa dijadikan tirai dari pandangan mata manusia liar. Sehingga untuk berkunjung ke toilet ini, ada waktunya. Biasanya malam atau subuh hari.
Wanita yang menjadi istri lelaki bertradisi aneh itu, belum mengetahui hal tersebut sebelum malam pernikahannya. Sehingga di subuh hari setelah malam pertamanya, ia dibangunkan oleh adik perempuan—tetangganya, untuk bersama-sama beranjak ke toilet mereka. Setelah mengayungkan langkah demi langkah menuju toilet bersama dengan perempuan lainnya di masyarakat itu, ia kemudian memahami bahwa dalam kepercayaan adat istiadat suaminya: tidak ada toilet di dalam rumah.
Akhirnya wanita ini berkali-kali membujuk suaminya untuk membangunkannya toilet. Bahkan tidak ingin tidur bersama jika suaminya tidak membangunkannya toilet. Karena ayah dari suaminya ini adalah penganut adat yang fanatik, ia tidak mengizinkan anaknya untuk membangun toilet. Sebab itulah adat dan warisan tradisi nenek moyang mereka. Pertanyaannya untuk Anda: pantaskah istri Anda buang air besar di tempat terbuka dan umum? (Lebih lanjut silakan nonton film Ek Prem Kathe).
Sesari yang ingin saya simpulkan dalam fim tersebut adalah mahalnya ruangan 2×3 meter itu. Entah, apakah kata ‘mahal’ bisa merepresentasi urgensi dari toilet. Meski pesan yang terkandung dalam film tersebut tidak sesempit ruang toilet.
Dengan menonton film tersebut, Anda akan tahu sakralitas toilet dalam hubungan percintaan. Sehingga argumen pertama sakralitas toilet adalah jika toilet tidak nyaman maka toilet akan menghalangi jalan percintaan Anda. Sekali lagi, nontonlah film Ek Prem Kathe!
Dan sedikit tambahan fakta tentang film yang rilis tanggal 18 Agustus 2017 tersebut: film ini dibuat dengan anggaran 180 juta INR. Dengan penonton yang sangat banyak sebagaimana dilansir dari kapanlagi.com bahwa film berjudul Toilet tersebut menuai pemasukan lebih dari Rp 120 miliar di India.
Pemasukan yang sebanyak itu diraup selama sepekan saja. Fakta tersebut mengindikasikan bahwa film yang berkisah tentang toilet saja bisa menjadi tontonan jutaan bahkan ribuan juta orang. Ada apa dengan toilet? Mengapa ruang kecil semacam itu mampu menarik perhatian banyak orang? Jawabannya: “toilet itu sakral.”
Selanjutnya, sakralitas toilet atau pentingnya toilet juga dapat dibahas dalam perspektif berbagai ilmu pengetahuan. Baik disiplin psikologi, sosiologi, maupun antropologi.
Salah satu pembahasan ini telah diungkapkan oleh Bahrul Amsal dalam tulisannya yang berjudul Antropologi Toilet sebagaimana yang terdapat dalam buku Telinga Palsu.
Dalam tulisan tersebut, setidaknya Bahrul ingin menampilkan pada kita tentang urgensi toilet dalam kehidupan sosial. Menurut Bahrul Amsal, kondisi toilet dalam kehidupan masyarakat dapat merepresentasikan kondisi masyarakat tersebut. Sehingga menurutnya, toilet adalah parameter peradaban dan kebudayaan manusia.
Masyarakat kelas bawah menganggap toilet hanya seruang yang kurang manusiawi, kotor, kumuh dan sebagainya. Sedangkan masyarakat kelas atas memiliki anggapan yang berbeda. Kelas atas biasanya menganggap toilet adalah ruang yang lebih manusiawi dibandingkan masyarakat kelas bawah.
Dari dua anggapan ini bisa kita tarik kesimpulan bahwa dengan toilet yang kumuh, kotor, sebagaimana anggapan masyarakat bawah sudah pasti sulit atau bahkan tidak digunakan untuk membersihkan badan. Tetapi jika toilet itu bersih dan manusiawi maka toilet akan menjadi tempat yang sangat penting untuk membersihkan badan dan sebagainya. Atau dengan kata lain, toilet sangatlah penting dalam keberlangsungan kehidupan yang manusiawi dan bersih.
Sehingga argumen kedua dari sakralitas toilet adalah kesehatan sulit Anda raih tanpa toilet yang memadai. Dan tak mungkin ada kebahagiaan badani tanpa kesehatan yang memadai pula. Sehingga dapat ditarik kesimpulan, bahwa kebahagiaan sulit terwujudkan ketika toilet yang kita miliki masih kumur, kotor, dan tidak manusiawi.
Selain beberapa argumen urgensi toilet atau sakralitas toilet di atas, ada pula anggapan yang banyak dipercayai oleh banyak orang bahwa toilet adalah tempat menyemai banyak inspirasi.
Berdasarkan analisis saya pribadi, kepercayaan tentang hal tersebut disebabkan oleh pengalaman yang sifatnya pribadi pula. Sebagaimana saya pribadi juga mempercayai itu. Bagaimana tidak, saya juga seringkali mendapatkan inspirasi di sana termasuk tulisan ini.
Lantas pertanyaannya, mengapa di toilet selalu menjadi titik sumber inspirasi? Jawaban yang saya tawarkan adalah, hal tersebut dikarenakan bahwa di toiletlah sakralitas tidak temui. (Mungkin argumen ini kurang kuat. Karena sifatnya sedikit cocologi. Mungkin di masa yang akan datang akan ada ilmuwan yang membuktikan itu.)
Maksudnya, tidak satu pun tempat di atas permukaan bumi ini yang memiliki kebebasan sebagaimana kebebasan di toilet, bebas dari sakralitas teologis. Karena bukankah hanya di dalam toilet dilarang menyebut nama Tuhan atau hal-hal yang sifatnya sakral menurut agama?
Nah, dengan kebebasan tanpa batas inilah yang menjadi jalan pintas bagi inspirasi. Sebab inspirasi hanya akan hadir pada situasi yang terbuka dan bebas. Maka sudah sepantasnyalah toilet menjadi tempat alternatif bagi siapa saja yang ingin menyemai inspirasi.
Maka argumen ketiga urgensi toilet adalah toilet menjadi ruang berseminya wahyu-wahyu manusia. Wahyu inilah yang berwujud inspirasi dan ide-ide.
Nah, dari beberapa argumen di atas, setidaknya saya ingin mengatakan bahwa dalam sejarah peradaban manusia—baik masa lalu manusia maupun masa depan manusia, toilet akan sangat berperan. Karena toilet suatu bangsa adalah wajah dari peradabannya.
[Ditayangkan oleh Komunitas ReadPublik di readpublik.com, 8 Januari 2018.]
Di tulisan ini, saya menuangkan beberapa sabda lisan yang terdengar dan aksara yang terbaca dan tersaring di pikiran saya sepulang dari kegiataan bedah buku Tafsir Alquran di Medsos. Semoga lisan yang saya dengar, makna yang tersaring, yang saya tuai dan saya tuangkan dalam bentuk reportasi ini bisa mengabadi.
Perbincangan fenomena beragama pada generasi milenial saat ini cukup menarik. Begitulah yang timbul dalam pikiran saya setelah mengikuti kegiatan bedah buku Tafsir Alquran di Medsos yang ditulis oleh Prof. H. Nadirsyah Hosen, Ph.D. Bedah buku ini dilaksanakan oleh Pusat Kajian Islam, Sains, dan Teknologi (PUKISTEK) UIN Alauddin Makassar yang merupakan salah satu program PUKISTEK selain Kajian Rutin, Pelatihan Intensif Pengembangan Intelektual Mahasiswa (PIPIM), dan program lainnya. Jika dilihat dari spanduknya, kegiatan ini dilaksanakan oleh PUKISTEK bekerja sama dengan penerbit Bentang—penerbit buku Tafsir Alquran di Medsos. Terima kasih atas PUKISTEK dan Bentang yang telah melaksanakan kegiataan semacam ini.
Kegiatan bedah buku yang bertema “Mengkaji dan Mengaji Alquran Lewat Medsos Untuk Generasi Milenial” tersebut dihadiri oleh dua narasumber. Narasumber pertama yaitu penulis buku Tafsir Alquran di Medsos, Prof. H. Nadirsyah Hosen, Ph.D dan nasaumber kedua yakni Direktur PUKISTEK UIN Alauddin Makassar, Drs Wahyuddin Halim, MA,. Ph.D. Serta dimoderatori oleh Fajar, dosen di UIN Alauddin Makassar.
Diskusi bedah buku ini dibuka oleh moderator dengan memperkenalkan kedua narasumber. Narasumber pertama, Prof. H. Nadirsyah Hosen, Ph.D adalah penulis buku Tafsir Alquran di Medsos yang berprofesi sebagai Rois Syuriah PCI NU Australia dan New Zaeland, juga sebagai pengajar Monash Law School di Monash University, Australia. Selain buku Tafsir Alquran di Medsos ada beberapa naskah buku yang berikutnya akan diterbitkan sesuai pengakuannya. Semoga buku-buku beliau segera diterbitkan.
Kemudian narasumber kedua, Drs. Wahyuddin Halim, MA,. Ph.D adalah Direktur PUKISTEK UIN Alauddin Makassar sekaligus dosen di Fakultas Ushuluddin Filsafat dan Politik.
Setelah memperkenalkan kedua narasumber, Fajar selaku moderator atau sebut saja provokator dalam diskusi ini, memberikan kesempatan kepada kedua pemateri untuk mendedahkan gagasannya atau materinya dalam bedah buku Tafsir Alquran di Medsos. Narasumber yang pertama yang diberikan kesempatan untuk menyampaikan gagasan atau materinya adalah Prof. H. Nadirsyah Hosen, Ph.D.
Prof. H. Nadirsyah Hosen, Ph.D atau yang akrab dipanggil Gus Nadir ini membuka materinya dengan argumentasi bahwa sangat banyak manusia beragama, khususnya muslim, menjadikan tafsir Alquran sebagai pendukung atas kepentingannya sendiri. Dalam istilah populer akademik disebut cocoklogi beragama. Apapun kepentingannya selalu menggunakan tafsir Alquran sebagai bentuk legitimasi kepentingan. Dan beliau juga banyak menyebutkan analogi berkaitan dengan fenomena tersebut.
Selanjutnya ia juga mempertegas dengan mengatakan bahwa terlalu banyak muslim—manusia yang beragama Islam, memahami Alquran hanya sebatas terjemahan (tekstual). Padahal seharusnya, dalam aktivitas memahami Alquran sebagai pedoman hidup mesti membuka, membaca, dan memahami berbagai kitab tafsir.
Ciri beragama yang memaknai landasan agama—Alquran dan Hadis, hanya sebatas terjemahan biasanya banyak dihinggapi oleh generasi milenial. Selain ciri negatif tersebut, Gus Nadir juga mengungkapkan bahwa generasi milenial umumnya memiliki tingkat minat baca yang sangat kurang. Sehingga kita semua penting untuk mencari solusi pergerakan dalam meminimalisir atau mengatasi dampak dan ciri khas generasi milenial. inilah yang menjadi wacana penting untuk didiskusikan.
Generasi milenial dalam belajar dan memahami agamanya sangat berbeda dengan beberapa generasi pra-milenial. Semisal, dulu kata Gus Nadir, kita harus berangkat ke majelis taklim untuk mendengarkan dan menyimak para kiai atau ustaz dalam mengajar tafsir Alquran. Sedangkan sekarang, kita bisa mendengarkan dan menyimak para dai, kiai, atau ustaz berceramah dan mengajarkan tafsir Alquran melalui medsos. Sehingga perlu inovasi atau renovasi tata cara berdakwah yakni dengan melalui teknologi yang disebut dengan medsos ini.
Selanjutnya, Gus Nadir juga sempat mengungkapkan perbedaan sistem pembelajaran yang efisien antara generasi pra-milenial dengan generasi milenial. “Dulu—generasi pra-milenial, proses pengajaran hanya bisa berlangsung efektif selama 25 menit. Sedangkan bagi generasi milenial hanya bisa efektif selama 3 menit” ungkap Gus Nadir. Sesuai pengakuan Gus Nadir, hal tersebut ia dapatkan dari sebuah studi penelitian.
Sehingga menurut Gus Nadir, yang menjadi persoalan adalah bagaimana mengajarkan tafsir Alquran kepada generasi milenial yang hanya bisa membaca selama 3 menit bersama gadgetnya? Hal inilah yang menyebabkan Gus Nadir banyak menulis tafsir Alquran di medsos dengan singkat dan padat sehingga melahirkan karya Tafsir Alquran di Medsos.
Mengapa mesti mencari metode penjelasan tafsir Alquran kepada generasi milenial? Karena tanpa penjelasan tafsir yang efisien bagi generasi milenial, maka kemungkinan akbar generasi kita akan melahirkan banyak fenomena radikalisme, intoleran, sumbu pendek, dan berbagai fenomena beragama negatif lainnya.
Sebelum mengakhiri dedahan materinya, Gus Nadir mengemukakan prediksinya terhadap fenomena generasi milenial 10-15 tahun ke depan. “10-15 tahun ke depan, ruang kelas pembelajaran sudah tidak ada. Segala bentuk pembelajaran dalam dunia pendidikan akan bersistem online. Sehingga dosen tidak mesti lagi ke kampus untuk mengajar, karena di dalam kamar mandi pun ia bisa mengisi kuliah” pungkas Gus Nadir.
Dan bahkan ditegaskanya pula bahwa dengan hilangnya ruang kelas pembelajaran maka runtuhlah hirarki keilmuan. Sebab tak ada lagi strata pemisah antara guru dan murid, dosen dan mahasiswa, kiai dan santri, dan berbagai sistem pembelajar yang memiliki hirarki maqam keilmuan. Oleh karena itu, perlu pembekalan bagi generasi milenial dalam menyikapi era perkembangan teknologi medsos yang begitu cepat.
Selain fenomena semacam itu, Gus Nadir juga memprediksi bahwa 10-15 tahun ke depan akan terbukti terjadi fenomena seperti judul buku dari A.A Navis yakni Robohnya Surau Kami. Dalam artian, kita tidak lagi bisa berharap pada generasi millenial untuk menghidupkan dan mensejahterakan masjid, karena generasi milenial 15 tahun ke depan hanya akan merobohkan masjid. Pernyataan merobohkan masjid di sini hanyalah sebatas pernyataan metaforis dari Gus Nadir.
Dunia telah berubah dengan cepat kata Gus Nadir. “Dulu kita, ketika ingin mengetahui shahihnya sebuah hadis maka harus membuka 150 kitab atau bahkan lebih. Tapi sekarang, generasi milenial, jika ingin mengetahui shahihnya sebuah hadis tinggal membuka mbah google atau aplikasi islami yang berkaitan dengan hadis” ujar Gus Nadir. Lebih lanjut lagi, ia mengatakan “dulu para santri atau murid meminta berkah pada kiainya dengan bersalaman sehabis taklim. Sedangkan generasi milenial sekarang, untuk mendapatkan atau meminta berkah keilmuan dilakukan dengan selfie bersama dengan kiainya sehabis taklim”.
Oleh karena itu, mahasiswa dan para ustaz, dai, kiai, atau pengajar sekalipun harus mulai berinisiasi melakukan dakwah yang berbasis medsos ini. Sebab tanpa pembekalan dan progress dalam dakwah yang tepat untuk generasi milenial maka generasi milenial akan roboh.
Tetapi menurut Gus Nadir, persoalannya yang muncul jika dakwah berbasis medsos adalah apakah semua yang kita baca lewat medsos itu semua benar? Bagaimana memilah-milah mana yang hoax dan mana yang tidak? Apakah kita harus menghafal hadis lagi jika semuanya bisa langsung diakses di mesin pencari yang bernama mbah google? Nah, untuk mendapatkan penjelasan jawaban atas pertanyaan tersebut Anda bisa membeli buku Tafsir Alquran di Medsos tersebut.
Judul : What Is Science Penulis : Archie J. Bahm Tahun terbit : 1980 Tebal halaman : 40 Halaman
Karya Archie J. Bahm “What Is Science” sebanyak 40 halaman yang dipublikasikan pada tahun 1980 ini dapat dikatakan refleksi kegiatan keilmuan dan juga membantu untuk memahami karakter dasar ilmu. Menurut Bahm, ada enam hal yang perlu diperhatikan dalam ilmu yaitu, problem, sikap, metode, aktivitas, kesimpulan, dan efek.
Dalam buku What Is Science ini juga dijelaskan bahwa ilmu telah lama dikembangkan manusia dari jaman Yunani kuno sekitar abad VI SM, zaman modern hingga hari ini. Tapi pertanyaan apa itu ilmu? Selalu menarik untuk diperbicangkan, karena pertanyaan ini akan merefleksikan gerak maju ilmu itu sendiri sehingga jelas mana yang dikatakan ilmu, hasil-hasilnyan dan dampaknya kepada kita. Oleh karena itu, buku Arhie J. Bahm ini sangat rekomendasi untuk dibaca.
Buku Archie J. Bahm ini membahas secara gamblang tentang apa itu ilmu. Tentu pembahasan Achie J. Bahm ini sangat bermanfaat untuk dibaca khususnya untuk mendalami pengetahuan kita tentang filsafat pengetahuan. Isi buku ini diringkas seperti pembahasan berikut:
Menurut Archie J. Bahm suatu pengetahuan dapat dikatakan sebagai science harus memenuhi enam (6) komponen utama yakni masalah, sikap, metode, aktivitas, kesimpulan dan pengaruh (efek). Untuk lebih jelasnya berikut adalah penjelasan dari enam (6) komponen tersebut:
Masalah
Dalam pembahasan masalah, Archie J. Bahm menjelaskan melalui bukunya ini bahwa tidak semua masalah dianggap ilmiah atau scientific. Suatu masalah dapat dikatakan ilmiah jika memenuhi setidaknya 3 komponen yaitu communicability (dapat dikomukasikan), sikap ilmiah dan metode ilmiah. Suatu masalah tidak dapat dikatakan ilmiah jika tidak dapat dikomukasikan. Misalnya seorang ilmuan yang menemukan suatu masalah dan kemudian menganalisisnya secara pribadi untuk jangka waktu yang lama dan tidak dikomukasikan dengan orang lain belum bisa dikatakan ilmiah. Suatu masalah dapat dikatakan ilmiah jika masalah itu dapat dikomukasikan.
Suatu masalah dapat dikatakan ilmiah harus juga mempunyai cara-cara atau sikap-sikap ilmiah (scientific attitude) dalam menghadapinya. Dan suatu masalah dapat dikatakan ilmiah jika dapat dilakukan dengan metode-metode ilmiah (scientific method). Sebaliknya, suatu masalah tidak dapat dikatakan ilmiah jika metode-metode ilmiah tidak dapat diterapkan padanya.
Sikap Ilmiah (Scientific Attitude)
Menurut Bahm pada bagian penjelasan ini bahwa sikap ilmiah yang dimaksudkan disini harus memenuhi 6 kriteria yaitu keingintahuan, spekulatif, kesediaan untuk bersikap objektif, berpandangan terbuka, kesediaan untuk menunda keputusan, dan tentatif (bersifat sementara).
a) Keingintahuan (curiosity). Keingintahuan ilmiah membahas tentang bagaimana sesuatu itu ada, bagaimana sifatnya, dan bagaimana hubungannya dengan dengan yang lain. Tujuan dari keingintahuan ilmiah adalah pemahaman. Keingintahuan ini selanjutnya akan berlanjut pada pencarian, penelitian, pengujian, eksplorasi, penjajakan dan eksperimen.
b) Spekulasi (spekulativeness). Spekulatif yang dimaksudkan adalah hubungannya dengan hipotesis. Hipotesis seorang ilmuan dimana dia harus dapat menerima kemungkinan pendapatnya tidak terima. Spekulasi ini memeng disengaja dan sangat diperlukan untuk mengembangkan suatu penelitian. Oleh karenanya spekulatif ini merupakan unsur esensial dari sikap ilmiah.
c) Kesediaan untuk bersikap objektif (willingness to objective). Kesediaan di sini adalah kesediaan untuk mengikuti keingintahuan ilmiah (scientific curiosity). Kesediaan utuk dibimbing oleh pengalaman dan penalaran, kesediaan untuk diubah oleh hasil-hasil penelitia ilmiah, kesediaan untuk mengakui kekeliruan dan bersedia melakuka perubahan (trial and error) untuk mencapai keberhasilan final, dan kesediaan untuk terus berusaha memahami objek atau masalah hingga dicapai suatu pemahaman (willingness to persist).
d) Berpandangan terbuka (open-mindednes), kesediaan untuk menerima saran-saran yang relevan, metodologi dan bukti yang berhubungan dengan suatu masalah.
e) Kesediaan untuk menunda keputusan (willingnes to suspendd judgement) hingga bukti-bukti dari suatu hipotesa benar-benar objektif bersedia untuk bersikap ragu-ragu. Oleh karenanya penundaan kesimpulan ini memerlukan kesabaran.
f) Kesediaan menerima bahwa semua kesimpulan ilmiah bersifat sementara (tentativity).
Metode
Metode ilmiah menurut Bahm ada satu atau banyak. Satu di sini dimaksudkan bahwa metode ilmiah adalah satu dan dapat dipakai dalam setiap bidang ilmu. Dan banyak adalah masing-masing bidang ilmu memiliki metode ilmiahnya sendiri, setiap masalah khusus memiliki metode ilmiahnya sendiri dan bersifat unik.
Dalam pembahasan metode, Archie J. Bahm menjelaskan bahwa ada lima langkah dalam metode ilmiah yaitu (1) kesadaran akan suatu masalah, (2) menguji masalah, dalam hal ini dimulai dari observasi masalah (seberapa penting masalah tersebut) hingga evaluasi dari masalah (mencakup pertanyaan-pertanyaan tentang sebab-sebab masalah tersebut), (3) tawaran solusi, yakni berupa hipotesa-hipotesa yang relevan dengan masalah yang dibahas, (4) menguji solusi, mencakup dua hal yakni uji mental dan operasional. Uji mental membahas mengenai kaitan antara fakta dan teori ilmiah yang ada, kaitan masalah dengan bukti-bukti yang ada, hingga hasil uji dapat dikomunikasikan, sedangkan uji operasional di mana hasil uji dapat dipraktikkan atau ditunjukkan atau didemonstrasikan. (5) pemecahan masalah.
Aktivitas
Archie J. Bahm memaparkan bahwa ilmu adalah apa yang ilmuan lakukan dan apa yang ilmuan lakukan sering disebut sebagai “penelitian ilmiah” yang terbagi mejadi 2 aspek yakni individu dan sosial. Aspek individual di mana ilmu pengetahuan adalah suatu aktivitas yang silakukan oleh orang-orang tertentu, orang orang inilah yang disebut sebaai “ilmuan”. Sedangkan aspek sosial di mana ilmu pengetahuan melibatkan lembaga-lembaga ilmiah seperti unversitas-universitas, lembaga penelitian, pemerintah dan perusahaan.
Kesimpulan
Dalam bagian kesimpulan ini, Archie J. Bahm menjelaskan bahwa kesimpulan merupakan pemahaman yang dicapai sebagai hasil dari pemacahan masalah dan merupakan tujuan dari ilmu pengetahuan. Kesimpulan bersifat sementara (tentative) sesuai dengan sikap ilmiah yang telah dbahas sebelumnya. Suatu pengetahuan sebelumnya dapat menjadi batu pijakan unuk mengembangkannya.
Pengaruh (efek)
Dalam pembahasan ini Archie J. Bahm menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan dapat berpengaruh terhadap teknologi dan industri sebagai ilmu pengetahuan terapan (applied science) dan berpengaruh terhadap lingkungan sosial atau peradaban manusia. Ilmu terapan bisa jadi lebih berguna dan nyata dibandingkan ilmu murni. Misalnya ilmu tentang obat-obatan yang berguna dalam bidang kedokteran, maupun pembuatan-pembuatan stailess steel dalam industri lebih berguna dibanding ilmu matematika dan fisika. Secara historis, keberadaan lmu pengetahuan, tekhnologi dan industri telah mengikis dominasi agama (atau yudaisme, kristen dan islam). Pembagian dunia menjadi negara maju dan berkembang menimbulkan bagian besar dari perbedaan dalam pengaru ilmu pengetahuan dan teknologi terhadap kondisi-kondisi sosial, ekonomi, politik, pendidikan dan kesehatan.
Bagian ini dilanjutkan dengan pembahasan pada kebenaran yang dicoba diungkapkan secara mendalam dengan tidak terlalu menghiraukan aspek kegunaannya praktis menghasilkan pengetahuan yang disebut ilmu. Pengetahuan itu diungkapkan atas dasar rasa ingin tahu semata-mata untuk sampai memperoleh kejelasan tentang mengapa demikian atau apa sebabnya harus demikian. Pengetahuan di dalam ilmu berusaha mengungkapkan keseluruhan aspek dalam obyeknya, sehingga tidak sekedar memperhatikan kegunaannya saja. Oleh karena itu, walaupun tampaknya tidak berguna, suatu objek masih diselidiki dan diungkapkan dengan mencari sebab yang terdalam tentang obyeknya berdasarkan pengalaman dan alasan-alasan yang masuk akal. Kebenarannya dicari dan dibuktikan melalui persentuhan indra dengan alam sekitar untuk menerangkan mengapa obyeknya demikian atau apa sebabnya obyek tersebut harus demikian. Sejalan dengan uraian tersebut ilmu dapat didefinisikan secara sederhana sebagai deskripsi data pengalaman yang secara lengkap dan dapat dipertanggungjawabkan yang dinyatakan dalam rumusan yang sesederhana mungkin.
Ilmu selalu mulai dari sesuatu yang kongkrit atau sesuatu yang dapat diamati dan bersifat individual atau khusus. Selanjutnya dengan bantuan kemampuan berfikir yang dapat melampaui batas waktu dan ruang dan statistika, ilmu dapat sampai pada sesuatu yang abstrak dan bersifat umum. Untuk itu demi obyektivitas ilmu yang diungkapkan, orang harus bekerja dengan cara-cara dan sikap secara ilmiah. Sifat ilmiah di dalam ilmu dapat diwujudkan apabila mempunyai obyek, karena kebenaran yang henda diungkapkan dan dicapai adalah persesuaian antara yang diketahui dengan obyeknya.
Selanjutnya Archie J. Bahm juga menjelaskan bahwa berdasarkan perbedaan obyek formal itu, ilmu dapat dibedakan menjadi dua kelompok besar berikut:
Ilmu yang obyeknya benda alam dengan hukum-hukumnya yang relatif bersifat pasti dan berlaku umum disebut ilmu alam. Obyeknya adalah fakta-fakta alam yang tidak dipengaruhi oleh manusia. Di samping itu karena hasilnya dirumuskan sebagai kepastian, maka disebut juga ilmu pasti atau ilmu eksakta.
Ilmu yang obyeknya dipengaruhi oleh manusia termasuk juga manusia itu sendiri, sehingga hukum-hukumnya tidak sama dengan hukum-hukum alam karena bersifat secara relatif kurang pasti disebut ilmu sosial. Bukti kebenaran ilmu ini tidak dapat direplikasi karena dalam setiap replikasi selalu terdapat perubahan.
Lebih lanjut dalam buku ini juga Archie J. Bahm menuliskan tujuan dasar dari ilmu ialah teori yang dapat menjelaskan fenomen-fenomen alamiah. Pembahasan tentang tujuan dasar ilmu pengetahuan ini mungkin dipandang asing atau aneh oleh para calon ilmuwan (mahasiswa), yang barangkali sudah tertanam dalam mindset-nya suatu gagasan bahwa kegiatan ilmiah manusia harus membuahkan hasil yang nyata yang setimpal di bidang praktis. Akan tetapi perlu dimengerti oleh berbagai kalangan, bahwa tujuan dasar ilmu bukanlah perbaikan kehidupan umat manusia, melainkan teori. Sayangnya bahwa pernyataan tersebut sungguh-sungguh tidak mudah dipahami. Para praktisi, yang umumnya bukan ilmuwan, memandang ilmu sebagai suatu disiplin atau kegiatan yang ditujukan pada perbaikan segala sesuatu pada kemajuan segala sesuatu.
Kelebihan dan Kekurangan Buku
Kelebihan
Buku ini menjelaskan dengan secara jelas dan mudah dipahami tentang “What Is Science”, atau tentang apa itu ilmu, tentunya dengan syarat harus menguasai atau bisa berbahasa Inggris sebab buku ini berbahasa Inggris. Buku ini sangat tepat dijadikan referensi untuk mengkaji bidang epistemologi khususnya pada topik apa itu ilmu.
Selain itu, kelebihan yang juga dimiliki buku ini adalah buku ini tidak hanya sekadar bisa dibaca oleh mahasiswa filsafat atau mahasiswa-mahasiswa yang berasal dari fakultas filsafat, ilmu sosial dan budaya, namun juga bagi mahasiswa-mahasiswa sains serta mereka yang berminat dalam kajian filsafat dan epistemologi.
Kekurangan
Kekurangan buku ini diantaranya adalah buku ini berbahasa Inggris sehingga menyulitkan para pembaca yang tidak menguasai atau belum bisa berbahasa inggris dengan baik. Dengan demikian, buku ini butuh diterjemahkan terlebih dahulu bagi pembaca yang belum menguasai bahasa asing khususnya bahasa inggris. Selain itu, buku ini juga sulit untuk di dapatkan di toko buku karena tidak dicetak lagi sehingga buku ini hanya bisa diperbanyak dengan sistem fotokopi. Akibatnya buku ini sulit untuk dibaca dengan kondisi fotokopi yang kurang jelas.
Sebagai penutup dari resensi ini, saya ingin merekomendasikan buku ini untuk dibaca bagi pembaca yang ingin memahami apa itu ilmu. Tentunya buku ini akan bermanfaat bagi pelajar maupun mahasiswa yang ingin mengetahui lebih dalam apa itu ilmu dalam lingkup filsafat ilmu atau epistemologi. Serta buku ini layak untuk dijadikan sebagai bahan referensi bagi pembaca yang ingin menulis tentang What Is Science dalam pandangan filsafat ilmu.
Judul : Epistemologi: Filsafat Pengetahuan Penulis : Dr. P. Hardono Hadi Penerbit : Kanisius Tahun terbit : Cetakan ketujuh Tebal halaman : 188 halaman ISBN : 979-497-090-5
Buku ini merupakan saduran dari buku Kenneth T. Gallagher, The Philosophy of Knowledge. Buku ini memperkenalkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh epistemologi (filsafat pengetahuan), baik yang klasik maupun yang muncul akhir-akhir ini (kontemporer). Permasalahan-permasalahan yang ada dicoba untuk dianalisis dengan tajam dan diletakkan di dalam pertanyaan-pertanyaan yang mendasar. Setelah setiap permasalahan diidentifikasi, penulis mengupayakan pemecahan masalah yang disajikan oleh para filsuf. Usaha pemecahan itu kemudian dianalisis sehingga akan menunjukkan permasalahan-permasalahan baru sebagai akibatnya. Buku ini dapat membimbing kita dengan baik sebelum melangkah ke hal-hal lain yang berhubungan dengan epistemologi.
Buku ini diawali dengan kata pengantar dari penyadur yang secara umum berisi tentang pentingnya epistemologi dan kurangnya buku-buku yang fokus pada pembicaraan epistemologi. Buku Kenneth T. Gallagher, The Philosophy of Knowledge, merupakan buku epistemologi yang sangat bagus sehingga persekutuan para filsuf yang disebut The New Scholasticism telah memberikan komentar terhadap buku ini bahwa:
“Karya ini telah dijadikan pegangan bagi kuliah-kuliah berhubungan dengan teori pengetahuan. Buku ini menyediakan bahan yang meliputi topik-topik dasar yang digulati di dalam epistemologi. Buku ini sekaligus menyajikan topik-topik tersebut di dalam konteks permasalahan yang hidup. Pengarang memberikan informasi historis yang melimpah mengenai pemikir-pemikir penting yang telah menggulati masalah-masalah tersebut. Buku ini juga memberikan referensi-referensi yang luas kepada aspek-aspek yang berhubungan dengan masalah pengetahuan yang telah muncul di dalam filsafat kontemporer. Buku ini sungguh-sungguh menggulati masalah-masalah kontemporer dengan cara yang langsung bersifat filosofis reflektif”.
Adapun sasaran dari penulisan buku ini menurut saya adalah dari segi isinya yakni teruntuk mahasiswa dan dosen filsafat. Namun selain itu buku ini juga bisa digunakan bagi siapa saja yang ingin belajar filsafat khususnya pada filsafat pengetahuan (Epistemologi).
Bab I Persoalan-Persoalan Pokok Dalam Epistemologi
Dalam bab ini, dijelaskan dengan gamblang tentang persoalan-persoalan pokok dalam Filsafat Pengetahuan (Epistemologi). Dalam bab ini terdiri atas 6 pembahasan persoalan pokok epistemologi yakni: Soal Pengetahuan Kekaguman Sebagai Awal Munculnya Epistemologi, Soal Common sense, Skeptisisme, Aspek Eksistensialisme, Analogi Pengetahuan, dan Metode di Dalam Epistemologi.
Bab II Keraguan Kritis: Descartes
Dalam bab ini, dijelaskan dengan gamblang tentang keraguan kritis Rene Descartes. Pembahasan bab ini terdapat 5 sub pembahasan yakni:Paradoks Keliru, Kepastian Pertama “Cogito Ergo Sum”, Subjektivisme, Jalan Keluar Yang Ditempuh Descartes, dan Kritik Bagi Descartes: Mimpi Dan Kenyataan.
Pembahasan ini banyak membahas tentang metode kesangsian Rene Descartes. Dijelaskan bahwa Descartes menggunakan keraguan untuk mengatasi keraguan . Salah satu cara yang pasti dan tidak dapat diragukan melihat seberapa jauh sesuatu itu diragukan. “Sejauh mana saya berhasil didalam meragukannya? Ketegasan Descartes untuk mengejar pertanyaan ini merupakan sumbangan utamanya bagi filsafat. Sebab ia berani lebih jauh meragukan daripada kebanyakan orang. Isi dari cogito yaitu apa yang dinyatakan kepadanya adalah melulu drinya berpikir. Saya berpikir, maka saya adalah pengada yang berpikir.
Pada pembahasan ini kita diajak untuk meragukan segalanya. Subyek yang dinyatakan Descartes di dalam cogito adalah subyek yang benar-benar privat, terisolasi. Ia merasa pasti mengenai ekssistensi dirinya sendiri saja sebagai pengada berpikir. Descartes berpendapat bahwa dengan suau refleksi yang teliti mengenai kebenaran pertama (cogito) ia akan mampu untuk menemukan di dalamnya jaminan bagi kebenaran, yan g dapat dipergunakan sebagai patokan bagi kepastian selanjutnya
Rene Descartes hanya membedakan antara benda sebagai yang diterima dengan jelas dan disting oleh pikiran dari benda sebagai yang diterima dengan kabur dan kacau oleh indera. Perbandingan dengan mimpi, dapat digunakan untuk menekankan sifat sangat privat dari kesadaran inderawi. Berdasarkan ini Descartes tidak hanya menyatakan bahwa objektivitas dari hal yang ditangkap indera itu kabur. Tetapi hal itu tidak diketahui sama sekali.
Bab III Titik Tolak Epistemologi
Dalam pembahasan ini, dijabarkan dengan luas mengenai titik tolak epistemologi. Meliputi pembahasan tentang gambaran yang diberikan adalah kesadaran sebagai suatu wadah yang “di dalamnya” terdapat kenyataan. Apa yang saya sadari terdapat “di dalam” kesadaranku, apa yang tidak saya sadari berada “di luar” kesadaranku. Persoalan-persoalan yang banyak dibahas adalah persoalan yang dihadapi oleh Descartes. Setelah itu dilanjutkan penjelasan yang lebih mendalam dengan sub pembahasan yakni: “Di Dalam” dan “Di Luar”, Bipolaritas Kesadaran, Berada Di Dunia, Lingkaran Epistemologi, Pertanyaan Sebagai Awal Yang Tak Tereduksi.
Pada akhir pembahasan bab ini dijelaskan bahwa apa yang diberikan didalam pertanyaan adalah kenyataan bahwa kita bertanya. Pertanyaan kepada diri kita sendiri, menyatakan diri, di dalam bahasa. Selanjutnya kitalah yang berbicara dan kita yang bertanya. Sebagai penanya kita merupakan bagian dari masyarakat pengada bertanya.
Bab IV Kualitas Primer dan Kualitas Sekunder
Pembahasan berikut lebih banyak mengupas tentang kualitas primer dan kualitas sekunder. Salah satunya seperti pembahasan George Barkeley bahwa apapun yang kita ketahui, kita ketahui berkat pengalaman. Setiap pernyataan yang kita buat hanya mempunyai arti bagi kita kalau pernyataan tersebut diterapkan pada pengalaman aktual kita. Pembahasan pada bab ini meliputi sub pembahasan yakni: Realisme Naif, George Barkeley, dan Pandangan Kontemporer.
Bab V. Objektivitas
Dalam bab ini, dijelaskan dengan gamblang tentang persoalan objektivitas. Pembahasan objektivitas ini memiliki 5 sub pembahasan yakni: Pemecahan Skolastik, Realisme Virtual, Evaluasi Mengenai Realisme Virtual, Ringkasan, dan Persoalan Mengenai Objektivitas.Pada penjelasan bab ini dijelaskan bahwa menurut pandangan realisme virtual, dunia diluar kesadaran hanyalah keadaan yang secara kualitatif bersifat tandus. Pandangan ini mmpertahankan bahwa meskipun kualitas-kualitas ini secara formal tidak hadir di luar persepsi, tetapi secara virtual hadir.
Bab VI Prinsip-Prinsip Pertama
Dalam bab ini, dijelaskan dengan gamblang tentang prinsip-prinsip pertama. Pembahasan prinsip-prinsip pertama ini memiliki 7 sub pembahasan yakni:Pernyataan Primitif, Prinsip-Prinsip Pertama, Keunggulan Prinsip Pertama, 4 Kausalitas Dan Determinisme, 5 Sanggahan Hume dan Kant, Evaluasi Mengenai Hume dan Kant, dan Evidensi Kepastian dan Keraguan. Penjelasan kausalitas dalam bab ini kurang lebih bahwa hukum penyebaban sebagaimana dimengerti di dalam kebijaksanaan anggapan umum dan sains. “Setiap peristiwa niscaya dihubungkan dengan suatu peristiwa sebelumnya, kalau hal itu harus terjadi”. Atau setiap kejadian , kalau ha itu harus terjadi merupakan konsekuensi dari kejadian sebelumnya yang tanpanya kejadian tersebut tidak dapat terjadi.
Bab VII Pengetahuan Konseptual
Dalam bab ini, dijelaskan dengan gamblang tentang persoalan pengetahuan konseptual. Pembahasan pengetahuan konseptual ini memiliki 6 sub pembahasan yakni:Yang Universal, Nominalisme, Konseptualisme, Arti dan Contoh, Pertimbangan, dan Konsep Sebagai Pemahaman Kreatif.
Bab VIII Pengetahuan Tentang Esensi
Dalam bab ini, dijelaskan dengan jelas persoalan pengetahuan tentang esensi. Pembahasan pengetahuan tentang esensi ini memiliki 3 judul sub pembahasan yakni: Pengetahuan Mengenai Esensi, Dewey: Pragmatisme dan Kebenaran, dan Dimensi Sosial dan Dimensi Historis.
Bab IX Pengalaman dan Insight
Dalam bab ini, dijelaskan dengan jelas persoalan pengalaman dan insight. Pembahasan pengalaman dan insight ini memiliki 4 judul sub pembahasan yakni: Induksi, Keberatan Hume, Pandangan Tautologi Ayer, dan Von Hildebarand dan Insight Filosofis.
Bab X Kebenaran Ekstensial
Dalam bab ini, dijelaskan dengan jelas persoalan kebenaran eksistensial. Pembahasan kebenaran eksistensial ini memiliki 5 judul sub pembahasan yakni: Hakikat dari Evidensi, Kierkegaard dan Subjektivisme, Marcel: Masalah dan Misteri, Transendeni dan Bukti, dan Kepastian Bebas.
Bab XI Pengetahuan Intersubjektif
Dalam bab ini, dijelaskan dengan jelas persoalan pengetahuan intersubjektif. Pembahasan pengetahuan intersubjektif ini memiliki 3 judul sub pembahasan yakni: Budi-Budi Lain, Pengetahuan Langsung Akan yang Lain, dan pembahsan Aku dan Engkau.
Bab XII Dari Sains Sampai Pengalaman Estetik
Dalam bab ini, dijelaskan dengan jelas persoalan dari sains sampai pada pengalaman estetik. Pembahasan dari sains sampai pengalaman estetik ini memiliki 2 judul sub pembahasan yakni: Filsafat Ilmu dan Pengalaman Moral Estetik. Di dalam bab ini dituliskan penjelasan tentang pengalaman estetik menurut Martin Heidegger. Menurut Martin Heidegger pengalaman puitis merupakan pernyataan dari trans–fenomenal dari Dasein.
Kelebihan dan Kekurangan Buku
Kelebihan
Buku ini memiliki kelebihan, diantaranya sebagaimana yang dituliskan oleh penulis di kata pengantar bahwa persekutuan para filsuf yang disebut The New Scholasticism telah memberikan komentar terhadap buku ini: “Karya ini telah dijadikan pegangan bagi kuliah-kuliah berhubungan dengan teori pengetahuan. Buku ini menyediakan bahan yang meliputi topik-topik dasar yang digulati di dalam epistemologi. Buku ini se-kaligus menyajikan topik-topik tersebut di dalam konteks permasalahan yang hidup. Pengarang memberikan informasi historis yang melimpah mengenai pemikir-pemikir penting yang telah menggulati masalah-masalah tersebut. Buku ini juga memberikan referensi-referensi yang luas kepada aspek-aspek yang berhubungan dengan masalah pengetahuan yang telah muncul di dalam filsafat kontemporer. Buku ini sungguh-sungguh menggulati masalah-masalah kontemporer dengan cara yang langsung bersifat filosofis reflektif”.
Berdasarkan kelebihan-kelebihan yang dikandung dalam pembahasan buku ini sehingga dapat membantu para mahasiswa dan dosen filsafat dalam memahami secara mendalam keilmuan filsafat khususnya pada persoalan epistemologi.
Kekurangan
Kekurangan yang dimiliki buku ini diantaranya adalah buku ini hanya dikhususkan bagi mereka yang berminat di dalam filsafat di dalam arti sesungguhnya. Buku ini juga tidak bisa dibaca hanya sebagian-sebagian dalam artian buku ini harus dibaca dalam satu tarikan napas dan satu kejapan mata, agar tidak kehilangan alur gagasan yang telah disusun dalam buku ini.
Selain itu, meskipun di kata pengantar telah penulis ungkapka bahwa buku ini telah disederhanakan sedemikian rupa namun tetap saja dalam buku ini ditemui beberapa kata yang sulit dipahami. Juga ada beberapa kata yang terasa asing dan buku ini tidak memiliki indeks dan glosarium sehingga tidak memudahkan pembaca untuk menemukan dan memahami arti dari kata yang sulit dipahami atau istilah yang kurang dimengerti oleh pembaca.
Sebagai penutup dari resensi ini, saya ingin mengatakan bahwa buku ini sangat menjadi rekomendasi bagi mereka yang berminat di dalam filsafat. Sebab buku ini menyajikan filsafat ilmu (epistemologi) dengan cukup kompleks dan mendalam. Buku ini juga telah disederhanakan sedemikian rupa sehingga dapat dikatakan buku ini akan sangat membantu para mahasiswa dan dosen dalam mengkaji bidang filsafat khususnya epistemologi.