menulis catatan ini agar tidak bersedih dan berbahagia berlebihan
blogtadi malam, jam 10.30, supervisor saya mengirimi saya email tentang nilai akhir kelas yang saya ampu bersama dia. dia bilang, kita harus bicarakan ini besok, penting. dia cantumkan nomor telepon dia di email itu dan meminta saya menelpon dia saat saya sudah sedang luang. ketika saya terbangun, jam 5 pagi, saya terima notifikasi email itu. saya tentu saja deg-degan. hari ini, minggu, dan saya tidak tahu apa yang sedang dan akan terjadi dengan email itu. dalam keadaan masih ngantuk, saya ketik, “saya bisa telepon anda pagi ini sebelum jam 10.00, karena saya berangkat liburan di jam itu,” lalu saya tekan tombol kirim. saya tidur kembali. beberapa saat setelahnya, saya terbangun karena notifikasi balasan dia. jawabannya singkat, dua kalimat, “telepon saya jam 9. jangan lupa kirim detail nilai kehadiran semua mahasiswa.”
saya deg-degan karena di email pertamanya dia sebutkan kalau nilai akhir rata-rata mahasiswa di kelas kami itu terlalu rendah untuk standar dia. saya tidak tahu harus bagaimana. rasanya, saya sudah menilai semua pekerjaan mahasiswa sesuai rubrik penilaian. atau, “jangan-jangan, cara saya menilai terlalu ketat,” begitu hati kecil saya menakut-nakuti diri saya sendiri. saya tarik napas, saya email semua file yang dia butuhkan, lalu saya mulai menelpon. kami berbicara beberapa menit. durasi percakapan kami kurang lebih dua kali durasi rata-rata lagu bob marley yang belakangan ini memenuhi playlist harian saya. dia bilang, “saya akan traktir kamu di pekan-pekan pertama 2026 ketika saya sudah datang kembali ke syracuse, dan, jangan lupa, nikmat liburannya,” lalu dia matikan teleponnya. percakapan itu, pagi ini, menandai akhir semester saya tahun ini.
sebagai mahasiswa baru, yang lebih suka tinggal berhari-hari di dalam kamar daripada bersosialisasi dengan orang asing, ketika mendapat pemberitahuan dari direktur pascasarjana bahwa saya diberi tanggungjawab sebagai teaching assistant selama lima tahun di kampus ini, saya deg-degan. tapi juga sekaligus bersemangat. saya mengerti betul bahwa perasaan bersemangat yang muncul bersamaan dengan deg-degan tidak selalu berarti kabar baik. saya mengalami perasaan serupa, dag-dig-dug sekaligus bersemangat, saat saya jatuh cinta pertama kali dan hasil akhirnya sama sekali bukan kabar baik. tapi kehidupan selalu punya cara membuat saya bilang “iya” pada tawaran yang tiba-tiba datang dan tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. saya terima tawaran itu, dan di sinilah saya: bergulat/bersilat/ber-ber dengan semua perkara-perkara (antara) yang harus saya lakukan dan yang ingin saya kerjakan.
sebagai teaching assistant, saya diberi tanggung jawab menyiapkan kelas, merekap kehadiran mahasiswa, dan memberi nilai tugas-tugas mahasiswa. bukan pekerjaan enteng. di pekan pertama, misalnya, waktu menilai esai-esai mahasiswa, saya bolak-baik ke portal nilai hanya untuk memastikan berkali-kali bahwa nilai-nilai yang saya masukkan sudah betul-betul sesuai dengan rubrik penilaian yang professor saya sediakan di silabus. saya berkali-kali melihat nilai-nilai itu sambil berpikir, “apakah nilai-nilai ini betul-betul telah merepresentasikan pekerjaan mereka? atau jangan-jangan, terlalu rendah, atau terlalu tinggi untuk standar mereka, dan seterusnya.” kadang-kadang saya merasa, kriteria penilaian saya terlalu ketat, kadang-kadang terlalu longgar. perasaan semacam itu memaksa saya membaca rubrik penilaian berkali-kali sampai saya merasa lebih mengenali rubrik penilaian di kelas saya daripada diri saya sendiri.
tapi begitulah. komitmen menjadi teaching assistant tidak jauh berbeda dengan komitmen menjalin hubungan romantis. kelas yang saya ampu ini setiap selasa dan kamis, jam 8.00 sampe jam 9.20 pagi. sebagai mahasiswa yang otaknya baru encer saat malam hari, bangun pagi adalah latihan spiritual paling tinggi. ditambah lagi, tempat tinggal saya terbilang jauh dari kampus, 35-40 menit jarak tempuh. artinya, saya sudah harus berangkat ke kampus sejam sebelum jadwal kelas dimulai. dan artinya, saya sudah harus bangun sejam-dua jam sebelum pukul 7 pagi. di tambah lagi, suhu pagi di kota ini tidak pernah hangat, literally and metaphorically, selalu dingin, literally and metaphorically.
suatu pagi, di hari di mana saya meraih rekor-tidur-terpendek-pertama saya selama kuliah di sini, saya berangkat lebih pagi dari biasanya. saya tiba di gedung yang sama, masuk ruang kelas, lalu duduk di kursi paling depan, menunggu profesor dan para mahasiswa datang. seperti biasa, ketika tiba di kelas, hal pertama yang saya lakukan adalah duduk dan membuka laptop. beberapa saat setelahnya, mahasiswa berdatangan, tapi saya merasa tidak begitu mengenal mereka. satu-dua-tiga yang lain pun muncul. “mungkin mahasiswa-mahasiswa ini baru hadir di kelas... dan tidak mungkin juga saya akrab-familiar sama semua muka mahasiswa yang jumlah 58 orang,” begitu di benak saya. saya masih duduk santai. seorang profesor menerobos masuk ruangan itu dan bilang, “maaf, saya agak terlambat, baik, mari kita mulai kelas pagi ini.” saya lihat profesor itu, tersenyum ke dia, lalu bergegas keluar. saya baru sadar, saya masuk kelas yang salah. kelas saya harusnya di lantai yang lain. saya lari menaiki anak tangga, masuk ruangan, dan menemukan profesor saya sudah memulai kelas.
di hari yang lain, saat saya bangun pagi, masih berbaring, jam di ponsel saya menunjukkan bahwa kelas pagi itu akan dimulai 35 menit lagi. perjalanan menghabiskan kurang lebih sedurasi yang sama. saya tidak mandi, saya menarik ransel saya dan berangkat. di bus stop, karena sudah terburu-buru, saya menaiki bus yang pertama kali datang setelah memastikan bahwa arah busnya menuju kampus saya. saya tidak mengerti apa yang sedang terjadi dengan sopir busnya, tapi dia bilang “iya” saat saya tanya apakah bus ini akan ke arah kampus atau tidak. dan busnya ternyata menuju ke arah yang lain. saat sadar kalau busnya tidak menuju kampus, saya dengan segera mengetik di ponsel saya, “professor, saya mengambil bus yang salah, sepenuhnya adalah keteledoran saya, saya akan terlambat hadir di kelas pagi ini. mohon maaf,” lalu saya kirim. saya berhenti di bus stop selanjutnya dan menunggu bus yang lain datang. waktu itu, saya berharap bus yang benar tidak usah datang, dan saya cukup menunggu di situ selamanya. tapi, begitulah, yang kita harapkan tidak selalu seperti yang terjadi. begitulah. saya datang ke kampus dan terlambat.
kadang-kadang, saya ingin percaya bahwa hidup pasti menyediakan hal-hal menyenangkan, tapi, sedihnya, tidak selalu begitu. saya pernah merasa, meski sesaat, asyik sekali naik sepeda ke kampus setiap hari, sampai hari lain datang, sepeda saya ketinggalan di bus dan saya tidak tahu ke mana sepeda itu pergi. suatu hari, saya bertemu kawan baik baru, saya membayangkan betapa menyenangkannya menghabiskan masa-masa kuliah saya bersama kawan baik seperti itu, sebelum hari lain datang, kawan baik itu pergi dan saya tidak tahu ke mana perginya. begitulah. hari-hari baik datang, dan hari-hari buruk yang lain juga datang. tapi, saya beruntung, setelah hari-hari murung itu, ada matahari terbit. suatu pagi, saat cuaca peralihan spring ke winter membungkus kota ini, profesor saya di kelas yang kami ampu bersama itu bilang, “saya bisa melihat dari wajahmu, kamu kelihatan capek dan butuh istirahat. sesekali, istirahatlah.” setelah memastikan saya baik-baik saja, dia menawarkan saya jaket hangat yang dia punya di rumahnya. “winter akan datang dan cuaca akan berkali-kali lebih dingin dari yang sekarang.” dia lalu bercerita betapa dinginnya kota ini saat musim salju, dan saat itu terjadi, dia tidak ingin saya sampai stress karena cuaca. “masih banyak buku yang harus kamu baca, dan saya tidak ingin kamu sakit!” tutur dia.
begitu pula pagi ini, beberapa detik setelah profesor saya menutup teleponnya, setelah dia bilang, “saya akan traktir kamu… dan jangan lupa nikmati liburannya,” semua ingatan-ingatan awal saya tentang dia, kebaikan-kebaikan kecil yang pernah dia lakukan ke saya, menyeruak memenuhi kamar saya. saya tidak sadar kalau mata saya berkaca-kaca. di saat semua terasa begitu berat, menghadapi musim winter yang suhunya ga ngotak ini sendiri, ada orang asing, yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya akan bertemu, memperlakukan saya dengan hangat sekali. saya percaya bahwa kabar baik selalu datang bersama kabar buruk, tapi saya ingin sekali kabar baik yang satu ini, bahwa supervisor saya adalah yang betul-betul mempedulikan saya sejauh ini, adalah yang kabar baik yang tidak datang dengan kabar buruk.
demikian, saya ingin catatan kecil ini suatu hari mengingatkan saya hari ini: hari ketika saya menyelesaikan semester pertama saya, semester terberat saya sejauh ini, sebelum semester-semester terberat yang lain datang. saya ingin catatan kecil ini mengingatkan saya bahwa saya melewatinya, melewati hal-hal “pertama kali” di kehidupan akademik saya: pertama kali menerima email-email komplain dari mahasiswa, pertama kali menjadi dosen tamu, dan seterusnya. saya ingin catatan kecil ini mengingatkan saya akan semua itu, tapi pada saat bersamaan, saya berharap catatan ini membuat saya tidak bersedih sekaligus berbahagia dengan cara yang berlebihan.
skaneateles, december 21, 2025.
begitu pula pagi ini, beberapa detik setelah profesor saya menutup teleponnya, setelah dia bilang, “saya akan traktir kamu… dan jangan lupa nikmati liburannya,” semua ingatan-ingatan awal saya tentang dia, kebaikan-kebaikan kecil yang pernah dia lakukan ke saya, menyeruak memenuhi kamar saya. saya tidak sadar kalau mata saya berkaca-kaca. di saat semua terasa begitu berat, menghadapi musim winter yang suhunya ga ngotak ini sendiri, ada orang asing, yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya akan bertemu, memperlakukan saya dengan hangat sekali. saya percaya bahwa kabar baik selalu datang bersama kabar buruk, tapi saya ingin sekali kabar baik yang satu ini, bahwa supervisor saya adalah yang betul-betul mempedulikan saya sejauh ini, adalah yang kabar baik yang tidak datang dengan kabar buruk.
demikian, saya ingin catatan kecil ini suatu hari mengingatkan saya hari ini: hari ketika saya menyelesaikan semester pertama saya, semester terberat saya sejauh ini, sebelum semester-semester terberat yang lain datang. saya ingin catatan kecil ini mengingatkan saya bahwa saya melewatinya, melewati hal-hal “pertama kali” di kehidupan akademik saya: pertama kali menerima email-email komplain dari mahasiswa, pertama kali menjadi dosen tamu, dan seterusnya. saya ingin catatan kecil ini mengingatkan saya akan semua itu, tapi pada saat bersamaan, saya berharap catatan ini membuat saya tidak bersedih sekaligus berbahagia dengan cara yang berlebihan.
skaneateles, december 21, 2025.









